Langsung ke konten utama

Tentang Permulaan Kesusastraan Indonesia Modern *

Agung Dwi Ertato **
http://agungdwiertato.blogspot.com

Kehadiran kesusastraan Indonesia saat ini tentu saja mempunyai kesejarahan yang begitu panjang. Boleh jadi kesejarahan tersebut berkaitan dengan banyak hal, semisal masalah sosial, politik, ide kebangsaan, kebahasaan, maupun bentuk formal kesusastraan itu sendiri. Tentu saja faktor-faktor tersebut memengaruhi jawaban menyoal kapan kesusastraan Indonesia atau lebih tepatnya kesusastraan Indonesia modern tersebut lahir.
Tentang kapan kelahiran kesusastraan Indonesia modern telah banyak diperbincangkan dan diperdebatkan oleh ahli-ahli kesusastraan Indonesia, bahkan hingga sekarang. Walaupun demikian, seperti ada “kesepakatan” bahwa awal mula kesusastraan Indonesia modern bersamaan dengan kemunculan Balai Pustaka yang didirikan oleh pemerintah kolonial pada tahun 1917. A. Teeuw dalam karangannya Pokok dan Tokoh dalam Kesusastraan Indonesia Baru tidak secara tegas menyebutkan awal mula kelahiran kesusastraan Indonesia Baru. Ia hanya memaparkan bahwa pada tahun 1920-an merupakan masa kecil kesusastraan Indonesia modern (1953: 122). Melihat angka tahun yang diungkapkan oleh Teeuw, tentu saja hal tersebut merujuk pada Balai Pustaka dan roman yang pertama kali diterbitkan oleh Balai Pustaka yaitu Azab dan Sengsara (1920) karya Merari Siregar. Teeuw menekankan pada titik tolak “inovasi” dalam kesusastraan yang modern. Inovasi yang dimaksud Teeuw adalah pembaruan-pembaruan yang terdapat dalam karya sastra Modern dan tentu saja yang membedakan dengan yang klasik, misalnya individualitas, bentuk, dan bahasa.

Berbeda dengan Teeuw yang menekankan pada ihwal inovasi, Ajip Rosidi berpendapat lain soal kelahiran kesusastraan Indonesia Modern. Menurut Ajip Rosidi, bahasa dan kesusastraan Indonesia modern lahir akibat pertemuan bahasa dan sastra Melayu dengan paham-paham yang berasal dari kebudayaan Eropa modern (1991: 10). Kebudayaan Eropa modern yang dimaksud oleh Ajip Rosidi adalah semangat nasionalisme. Periode kelahiran kesusastraan Indonesia modern versi Ajip Rosidi tidak berdasarkan pada novel terbitan Balai Pustaka tetapi pada puisi Muh. Yamin yang berjudul “Tanah Air” dalam majalah Jong Sumatra (1922).

Permulaan kesusastraan Indonesia modern versi Umar Junus lebih mengejutkan. Umar Junus menekankan bahwa sastra Indonesia lahir setelah bahasa Indonesia lahir. Dengan demikian Junus mengambil titik Sumpah Pemuda (1928) sebagai titik permulaan kesusastraan Indonesia modern. Sebelum tahun tersebut, karya yang diterbitkan tidak dapat dimasukkan dalam kesusastraan Indonesia melainkan kesusastraan Melayu (1988: 1).

Ketiga pendapat tersebut memberikan gambaran bahwa kelahiran kesusastraan Indonesia modern berkisar antara tahun 1920-an. Dari angka tahun tersebut, barangkali “kesepakatan” bahwa Balai Pustaka merupakan penanda kelahiran kesusastraan Indonesia modern terbentuk. Namun, beberapa pertanyaan kemudian muncul ke permukaan, lalu bagaimana dengan karya-karya sastra yang dipublikasikan sebelum angka tahun tersebut? Apakah karya-karya tersebut termasuk khazanah kesusastraan Indonesia modern? Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, ada baiknya kita tilik sebentar apa itu Balai Pustaka.

Seperti yang telah disinggung sebelumnya, Balai Pustaka seringkali dianggap sebagai penanda awal mula kesusastraan Indonesia modern. Balai Pustaka sendiri dibentuk oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda pada tahun 1917 (Teeuw, 1953: 119; Eneste, 1988: 6; Rosidi, 1991: 16). Sebelum bernama Balai Pustaka, lembaga ini dahulunya bernama Commissie voor de Inlandsche School em Volkslectuur (Komisi Sekolah Pribumi dan Bacaan Rakyat) yang didirikan pada tanggal 14 September 1908 (Teeuw, 1955: 119). Tujuan Balai Pustaka adalah “mengadakan sjarat ‘batjaan yang bersifat membangun’ dengan tjorak ‘membentuk budi pekerti’ atau ‘membawa ketjerdasan’ (ibid: 122). Selain itu pula, bahasa yang digunakan dalam terbitan Balai Pustaka adalah bahasa Melayu Tinggi—bahasa Melayu yang sesuai dengan ejaan yang disusun oleh Van Ophuysen (Samuel, 2008: 146). Dengan demikian, tentulah tujuan utama Balai Pustaka adalah melakukan sensor terhadap bacaan yang layak bagi pribumi di Hindia Belanda—layak dalam hal isi juga layak dalam hal bahasa.

Pembentukan Commissie voor de Inlandsche School em Volkslectuur yang kemudian berubah menjadi Balai Pustaka tentulah tanpa sebab. Dengan melihat tujuannya saja, kita dapat berasumsi bahwa sebelum terbentuknya Commissie voor de Inlandsche School em Volkslectuur telah muncul fenomena sosial yang menyebabkan kemunculan komisi bacaan tersebut. Fenomena sosial yang pertama adalah masalah pendidikan. Pada awal abad ke-20, sebagian pribumi mampu membaca dan telah mendapatkan pendidikan dasar di sekolah. Oleh sebab itu, kebutuhan bacaan begitu tinggi bagi pribumi sedangkan penerbit swasta telah banyak didirikan dan banyak pula menerbitkan buku cerita terutama penerbit yang didirikan oleh peranakan Tionghoa. Banyaknya terbitan dari pihak swasta itulah yang menyebabkan pemerintah kolonial membentuk komisi bacaan guna menentukan mana bacaan yang “baik” dan mana bacaan yang “liar” (Damono, 2011: 13). Fenomena sosial lainnya adalah pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20 perkembangan surat kabar di Hindia Belanda begitu pesat. Sama halnya dengan penerbitan, persuratkabaran tersebut juga banyak dikelola oleh peranakan Tionghoa, Indo-Belanda, dan Pribumi. Di dalam surat kabar tersebut juga terdapat sisipan cerita bersambung yang kemudian dicetak dalam buku oleh penerbit-penerbit swasta. Surat-surat kabar tersebut di antaranya adalah Bianglala, Bintang Betawi, Medan Prijaji, Sin Po, Taman Sari, Warna Warta, dsb. Surat kabar tersebut menggunakan bahasa Melayu perhubungan yang dalam istilah pemerintah kolonial disebut sebagai bahasa Melayu Rendah.

Gambaran umum tersebut setidaknya mengilustrasikan bahwa sebelum terbentuknya Balai Pustaka terdapat karya sastra yang dimuat dalam beberapa surat kabar. Hal ini dibuktikan dalam beberapa penelitian tentang karya sastra sebelum perang dan lebih khususnya sebelum Balai Pustaka. Claudine Salmon mencatat pada tahun 1886 terdapat syair iklan yang berjudul “Sair dari adanja Boekoe Tjerita Tjina njang soeda disalin bahasa Melajoe”. Syair tersebut ditulis oleh Ting Sam Sien (2010: 62). Sapardi Djoko Damono juga menemukan puisi yang dimuat dalam majalah Bianglala pada tahun 1870 yang berjudul “Amin” ditulis oleh A.D (2004: 17). Selain Claudine Salmon dan Sapardi Djoko Damono, Ibnu Wahyudi dalam penelitiannya mencatat bahwa pada tahun 1893, A. Rogensburg telah menerbitkan novel yang berjudul Hikajat Roh Manoesia yang diterbitkan oleh t.n.p. (1988: 90).

Temuan-temuan tersebut setidaknya mewarnai khazanah kesusastraan Indonesia modern. Sekalipun temuan-temuan tersebut tidak dimasukkan dalam kesusastraan Indonesia modern, toh pada akhirnya pembentukan Balai Pustaka bertujuan untuk menyensor bacaan-bacaan yang beredar. Dengan demikian pembentukan Balai Pustaka secara langsung atau tidak langsung dipengaruhi oleh peredaran-peredaran karya sastra sebelum Balai Pustaka. Jika karya sastra terbitan Balai Pustaka dianggap sebagai tonggak kesusastraan Indonesia modern, pemicunya pun harusnya juga dimasukkan dalam khazanah kesusastraan Indonesia modern.

Permasalahan yang ditimbulkan sebenarnya berada pada kata “modern” yang membedakan dengan yang “klasik”. Tentunya kita harus bersikap arif dengan kata “modern”. Pengertian kata “modern” yang ditekankan oleh Sapardi Djoko Damono setidaknya melenturkan makna kata tersebut. Sapardi menggarisbawahi kata “modern” dengan pengertian telah digunakannya aksara latin dan disebarluaskannya dalam bentuk tercetak juga tidak secara langsung berkaitan dengan pandangan hidup atau sikap hidup yang tersirat atau tersurat di dalamnya (1999: 15). Dengan demikian, perbedaan tradisi literal di Indonesia antara yang “klasik” dan yang “modern” pun kentara. Jika tradisi literal “klasik” ditulis dalam aksara jawi maupun aksara daerah lainnya dan disebarkan dalam bentuk salinan (tulisan tangan) terbatas, tradisi literal “modern” ditulis dalam aksara latin dan disebarluaskan dalam bentuk cetakan. Dengan demikian pula, kita dapat melihat permulaan kesusastraan Indonesia modern baik bentuk maupun isinya alih-alih hanya melihat isinya saja.***

KEPUSTAKAAN
Damono, Sapardi Djoko. 1999. “Awal Perkembangan Sastra Modern di Indonesia: Kasus Sastra Melayu dan Jawa” dalam Politik, Ideologi, dan Sastra Hibrida. Jakarta: Pustaka Firdaus.
___________________. 2004. Puisi Indonesia Sebelum Kemerdekaa. Bandung: Remaja Rosada Karya.
___________________. 2011. “Kesusastraan Indonesia Sebelum Kemerdekaan” dalam makalah kuliah umum di Komunitas Salihara pada tanggal 21 September 2011.
Eneste, Pamusuk. 1988. Ikhtisar Kesusastraan Indonesia Modern. Jakarta: Penerbit Jambatan.
Rosidi, Ajip. 1991. Ikhtisar Sejarah Sastra Indonesia. Bandung: Binacipta.
Salmon, Claudine. 2010. “Awal Kesusastraan Melayu-Tionghoa Dicerminkan oleh Sebuah Syair Iklan Tahun 1886” dalam Sastra Indonesia Awal: Kontribusi Orang Tionghoa. Jakarta: KPG.
Samuel, Jerome. 2008. Kasus Ajaib Bahasa Indonesia?: Pemodernan Kosakata dan Politik Peristilahan.Jakarta: KPG.
Teeuw, A. 1953. Pokok dan Tokoh dalam Kesusastraan Indonesia Baru. Jakarta: Yayasan Pembangunan.
________.1994. “Hamzah Fansuri Sang Pemula Puisi Indonesia” dalam Indonesia: Antara Kelisanan dan Keberaksaraan. Jakarta: Pustaka Jaya.
Wahyudi, Ibnu. 1988. “Perkembangan Novel Indonesia Sebelum Balai Pustaka”/ Laporan penelitian. Depok: Fakultas Sastra Universitas Indonesia.
*) Esai ini merupakan pengantar diskusi MarkasSastra, Kamis, 29 September 2011. Belum disunting.
**) Cuma mahasiswa yang suka sastra.
Dijumput dari: http://agungdwiertato.blogspot.com/2011/09/tentang-permulaan-kesusastraan.html

Komentar

Sastra-Indonesia.com

Sajak-Sajak Pertiwi