Langsung ke konten utama

KASTALIA: KECERMATAN DIKSI DODONG DJIWAPRADJA

Maman S. Mahayana
http://mahayana-mahadewa.com/

Dodong Djiwapradja, Kastalia, (Jakarta: Pustaka Jaya, 1997), xiii + 117 halaman

Dalam sejarah kesusastraan Indonesia, nama Dodong Djiwapradja tidaklah terlalu menonjol dibandingkan Ajip Rosidi, Toto Sudarto Bachtiar atau Ramadhan KH. Meskipun demikian, Ajip Rosidi menempatkan Dodong sebagai salah seorang penyair Indonesia terkuat pada tahun 1960-an, di samping Rendra. Kiprahnya sendiri sebagai penyair dimulai sejak puisinya, “Cita-cita” dimuat majalah Gema Suasana (1948) yang waktu itu masih diasuh Chairil Anwar. Sejak itu, cerpen, esai, dan terutama puisinya banyak menghiasi majalah-majalah yang terbit tahun 1950-an dan awal tahun 1960-an.

Sampai awal tahun 1970-an, Dodong masih terus berkarya. Sayangnya, dalam masa produktifnya itu, ia tak sempat mengumpulkan puisinya untuk diterbitkan sebagai antologi tersendiri. Meskipun A. Teeuw mengatakan bahwa “… seorang penyair Sunda, Dodong Djiwapradja, gampang terlupakan karena karya-karyanya yang lahir selama kurun waktu yang panjang itu tak pernah terbit sebagai satu kumpulan tersendiri,” di kalangan penyair seangkatannya, nama Dodong tetap menampati kedudukan yang penting. Oleh karena itu, terbitnya Kastalia tentu saja merupakan sumbangan penting untuk melihat perjalanan kepenyairannya.

Antalogi ini berisi puisi-puisi Dodong yang dihasilkannya dalam kurun waktu an-tara tahun 1948 sampai 1973. Setelah melalui proses pemilihan dan pemilahan, maka ter-himpunlah 67 puisi yang dibagi ke dalam lima bagian, yaitu “Jalan Setapak” (1948–1949), “Getah Malam” (1951–1959), ”Kastalia” (1960), “Jari Jemari” (1961–1963), dan “Penyair, yang Lahir di Tanah Air” (1970–1973). Rendra dalam Kata Pengantar buku itu mengatakan, “… seluruh sajaknya memperlihatkan sikap hidupnya yang hati-hati, tekun melindungi kemurnian hati nuraninya, dan sangat menghargai saat-saat bahagia yang kecil dan sederhana, penuh rasa syukur kepada keindahan-keindahan yang mengharukan yang diberikan oleh alam, yang semuanya itu ia lukiskan dengan cermat dan bagus.”
***

Yang menonjol dari antologi ini adalah adanya kesan yang kuat atas konsistensi penyair pada kehati-hatian dalam pilihan kata (diksi) untuk membangun keindahan puitik. Konsistensi itu tampak dari pemakaian dan pemanfaatan plastisitas setiap kata. Dengan cara ini, setiap kata menampilkan kekayaan nuansa maknanya yang mendalam.

Yang muncul kemudian dari kecermatan dan kehati-hatian penyair melakukan pilihan kata adalah kemampuan bahasa Indonesia yang sarat dengan nuansa makna. Bahasa Indonesia menjadi bahasa yang kaya dengan rasa dan berbagai kemungkinan penggalian maknanya sekaligus. Dengan demikian, Dodong Djiwapradja membangun puisinya bermula dari kedalaman setiap makna kata, kemudian dari berbagai kemungkinan makna lain dalam urutan sintaksinya, dan berikutnya berdasarkan kepaduan menghadirkan sebuah wacana puitik, baik dalam setiap baitnya, maupun dalam keseluruhan puisi yang bersangkutan.

Dengan cara demikian, wacana puitik itu hadir utuh bukan dalam bentuk pernya-taan-pernyataan, melainkan dalam sebuah dunia yang dibungkus oleh kekuatan rasa bahasa dan yang sekaligus menawarkan pembaca untuk ikut mengumbar imajinasi serta menggoda kecerdasan penalarannya. Puisi jadinya bukan sekadar ekspresi perasaan, tetapi juga kemampuan intelek penyairnya sendiri.

Kehati-hatian dan kecermatan pilihan kata yang dilakukan penyair, memperlihatkan keseriusan dan kesungguhan penyair di dalam dunia kepenyairannya. Ia menulis puisi bukan sekadar iseng-iseng atau pekerjaan yang dapat dilakukan sambil lalu, tetapi pekerjaan yang dilakukan lewat proses pemahaman, pendalaman, dan penghayatan atas segala peristiwa yang terjadi yang lalu mengkristal dalam wujud pemaknaan filosofis atau ideologis terhadap hakikat di balik peristiwa-peristiwa itu.

Secara keseluruhan, Kastalia menyerupai potret perjalanan kepenyairan Dodong yang bermula dari mekarnya cita-cita romantik (1948–1949) ketika gejolak perasaannya penuh dengan harapan-harapan ideal, sampai pada kematangan dan kearifannya sebagai manusia (1970–1973).

Bahwa karya-karyanya berasal dari puisi-puisi Dodong yang tercecer di berbagai majalah antara tahun-tahun itu (1948-1973), justru dalam hal itulah, puisi-puisi Dodong memperlihatkan relevansi dan aktualitasnya dalam konteks sekarang. Ibarat sebuah mo-numen, puisi-puisi Dodong seolah-olah tidak lekang ditelan waktu dan tetap berdiri de-ngan kekhasan dan kelebihannya sendiri di tengah kesemarakan peta puisi Indonesia.

Selain itu, kekayaan metafora dan kehalusan ironi sama sekali tidak memperlihat-kan bentuk-bentuk yang klise, tetapi justru malah tampil dengan penuh kesegaran yang sangat khas sebagai salah satu ciri kekuatan kepanyairan seorang Dodong Djiwapradja. Inilah yang menjadikan antologi Kastalia senantiasa sedap dibaca, nikmat dihayati, segar rasa bahasanya dan selalu menggoda untuk terus menelusuri maknanya. Kastalia telah menempatkan diri sebagai karya penting dari seorang penyair veteran.

*) Pengajar FSUI, Depok.

Komentar

Sastra-Indonesia.com

Sajak-Sajak Pertiwi