Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Februari, 2011

Martabat Puisi dan Gairah Hidup

Bandung Mawardi *
http://www.lampungpost.com/

PENCETUS teori evolusi, Charles Darwin, pengarang On the Origin of Species, pernah memiliki masa intim dengan puisi. Pergaulan ini memberi tanda atas ajakan dalam gelimang makna kehidupan, kendati dunia modern disibukkan dengan pemujaan sains, pemujaan dengan konsekuensi menjauhkan manusia dari kehidupan. Darwin dalam otobiografi, suntingan Nora Barlow (1958), memberi kisah kecil intimitas diri dengan puisi: “Sampai umur tiga puluh tahun atau lebih, puisi dalam segala bentuk … memberiku kenikmatan besar.”

Puisi sebagai bab penting dalam hidup Darwin bermula sejak kecil, saat menempuh sekolah dengan menekuni puisi-puisi dan drama sejarah garapan Shakespeare. Kisah ini lekas hilang, Darwin pada usia menjelang tua justru menampik puisi. Masa lalu seolah berdiam dalam ingatan picisan. Darwin merasa bosan dengan puisi, lekas tergantikan dengan kenikmatan sains. Perubahan ini memikat dan mencemaskan.

Penjelasan Darwin: “Otakku seolah telah berubah m…

Pesona Keempat Sutardji Calzoum Bachri

Asarpin
http://www.lampungpost.com/

SEJAUH ini, lebih dari lima puluh ulasan tentang puisi Sutardji Calzoum Bachri (selanjutnya ditulis Tardji). Namun, di antara yang banyak itu, saya melihat jarang sekali sajak-sajak Tardji pasca-O Amuk Kapak (1981) mendapat perhatian.

Mungkin karena puluhan sajak mutakhirnya itu belum dibukukan, hingga perhatian kritikus masih tetap pada sajak-sajak lama. Arif Bagus Prasetya memang sempat menyinggung puisi-puisi Tardji terbaru sedikit membandingkan dengan sajak-sajak sebelumnya hingga Arif sampai pada kesimpulan bahwa sajak-sajak lama Tardji menampilkan “sajak aksi” dan sajak-sajak terbarunya menggemakan “sajak saksi”–sebuah kesimpulan yang hemat saya masih perlu diperdebatkan.

Puluhan puisi terbaru yang ditulis Tardji sangat padat menggunakan kalimat dengan kejutan estetik yang mencengangkan. Di antara puisi terbarunya saya sempat menyimpan puisi La Nosche De Las Palabas, Tanah Air Mata, Berdepan-Depan dengan Kakbah, Idulfitri, Cermin, David Copperfiel…

Kidung Rebung

S.W. Teofani
Lampung Post, 2 Januari 2011

MENGAPA tak sekarang saja kita tebang rumpun rebung itu, Ibu? Apa lagi yang kita tunggu. Bukankah semak laknat itu menyisakan mimpi buruk pada malammu, juga siangku. Kita telah kehilangan nakhoda biduk pada ganasnya gelombang hidup. Laki-laki yang sangat mencintai bambu, mungkin melebihi cintanya padamu, juga padaku. Tapi kau tak pernah cemburu pada bambu-bambu itu. Bahkan saat akhirnya dengan sadis pohon kesumat itu menjadi sebab kematian laki-lakimu, ayahku.

Aku ingin segera meleyapkan rumpun aur itu, Ibu. Biar usai pedih ini. Agar lenyap bayang senyap pada tetumbuhan yang merenggut seluruh suluh hidupku: cengkerama dengan ayah di rembang petang, di antara betung dan aur, menyisahkan kenang yang mengguncang. Memelantingkan seluruh siksa ditinggalkan, mengundang ruang raung yang hilang.

Benar hutan bambu itu sesak kenangan, tapi nganga luka pun ia suguhkan. Aku memilih melenyapkan semua, Ibu. Agar tunai seluruh kenang, juga dendam.

Ayah pasti mara…

WATU PRAHU

Jayaning S.A
http://sastra-indonesia.com/

Kata ibuku, batu itu sudah ada di sana sejak pertama kali ibuku datang ke daerah ini. Ya, sebuah batu hitam memanjang berbentuk seperti perahu tertangkup yang ada di kaki bukit, tak sampai berjarak puluhan meter dari pintu rumahku.

Batu itu bisa kulongok tiap saat dari jendela depan rumah, asalkan bukan malam hari. Tampak jelas di antara pohon-pohon kurus yang tumbuh jarang di sekitarnya.

Saat kecil dulu, aku pernah beberapa kali bermain di sekitarnya, bersama teman-teman sepermainanku. Kami duduk sambil sesekali menggosok-gosok permukaannya yang tampak berkilat saking halusnya. Kau tahu, halusnya seperti hasil tatahan tangan-tangan ahli yang mengerti benar seperti isi hati si batu, hingga pahatannyapun jadi sedemikian sempurna.

Hingga suatu kali, kami yang penasaran berunding untuk menentukan siapa yang dapat giliran. Temanku yang kena giliran bertanya begini pada ibunya, “Lihat Bu, kenapa ada batu sebagus itu di bukit sana?” sambil telunjuknya me…

Kekuasaan, Bahasa, dan Kebudayaan Jawa

Muhammad Qodari
http://majalah.tempointeraktif.com/
Kuasa-Kata: Jelajah Budaya-Budaya Politik di Indonesia
Penulis : Benedict R. O’G. Anderson
Penerjemah : Revianto Budi Santosa
Penerbit : Mata Bangsa, 2000, viii + 634 halaman

BENEDICT R. O’Gorman Anderson adalah murid yang lebih besar dari gurunya. Memang tidak jelas betul apakah Soemarsaid Moertono, penulis buku Negara dan Bina-Negara di Jawa Masa Lampau, memang pernah mengajar Ben—nama panggilan Anderson—di tahun 1964, ketika Moertono menyelesaikan bukunya yang semula adalah tesis di Universitas Cornell. Yang pasti, Moertono memberi kredit kepada Ben muda, yang dalam ucapan terima kasih ia sebut “telah membaca, membaca ulang, memberi komentar, dan mengetik, dan mengetik ulang naskah tesis-nya” tersebut.

Dapat diperkirakan, selain kunjungan pertamanya ke Indonesia pada 1961-1964 yang ia rasakan “Indonesia saat itu pada dasarnya Jawa”, Ben Anderson mendapat wawasan dan ilham soal pengaruh budaya Jawa dalam politik Indonesia dari Moertono. D…

Seksualitas dan Lokalitas

Judul buku : Bulan Celurit Api
Penulis : Benny Arnas
Penerbit : Koekoesan, Oktober 2010
Tebal : 130 hlm.
Peresensi : Arman A.Z.
http://www.lampungpost.com/

DUA tahun terakhir, ranah cerpen Indonesia dihiasi nama Benny Arnas. Nyaris tiap minggu karya-karya cerpenis muda Lubuklinggau ini muncul di media massa nasional dan daerah. Ada beberapa pemantik yang membuat cerpen-cerpennya memikat perhatian penikmat sastra Indonesia: penulis berasal dari daerah yang selama ini seperti sayup-sayup sampai dari geliat sastra, banyak pengamat dan penikmat cerpen menilai karya-karyanya mengekspos lokalitas Lubuklinggau, selain itu diksi dan gaya bahasa yang segar-unik membuat cerpen-cerpen Benny berbeda dari penulis seangkatannya.

Menjelang akhir tahun 2010, Penerbit Koekoesan menerbitkan kumpulan cerpen Benny, bertajuk Bulan Celurit Api (BCA). BCA menjadi alternatif segar perihal lokalitas dalam sastra. Sejumlah cerpen dalam buku ini menjadi pintu masuk untuk menengok dinamika sosio-kultural Lubuklinggau. …

Menghormati Pengabdian Sastra

Judul : Rona Budaya: Festschrift untuk Sapardi Djoko Damono
Editor : Riris K Toha-Sarumpaet dan Melani Budianta
Penerbit : Yayasan Pustaka Obor Indonesia dan HISKI, Jakarta
Cetakan : Oktober 2010
Tebal : 360 halaman
Peresensi : Bandung Mawardi
http://www.lampungpost.com/

KERJA sastra, pengabdian diri dalam menyemai sastra, dan pergumulan menebar benih-benih sastra menjadikan Sapardi Djoko Damono sebagai ikon dalam kesusastraan modern di Indonesia. Puisi, esai, dan cerpen telah dipersembahkan. Hasil penelitian, buku-buku pembelajaran sastra, dan produksi sastra terjemahan turut memberi arti geliat sastra di masyarakat akademik. Sapardi menekuni diri dalam sastra, menyapa publik untuk merayakan sastra, dan memartabatkan negeri melalui agenda pembentukan kultur literasi.

Gairah sastra Sapardi selama puluhan tahun menjadi alasan untuk penerbitan buku mencakup pelbagai kajian dari kolega, murid, dan pengagum. Buku Rona Budaya sebagai bentuk buku persembahan ulang tahun ke-70 tahun Sapardi (1940—20…

Tujuh Kritik A. Teeuw

MEMBACA DAN MENILAI SASTRA
Oleh: A. Teeuw
Penerbit: PT Gramedia, Jakarta, 1983,
141 halaman.
Peresensi : Sapardi Djoko Damono
http://majalah.tempointeraktif.com/

BUKU ini merupakan rampai tujuh karangan yang ditulis Prof. Dr. A. Teeuw, antara tahun 1964 dan 1980. Sehingga, “Teeuw yang dalam tahun 1964 menulis mengenai Hang Tuah pasti cukup berbeda orangnya dengan Teeuw yang dalam tahun 1980 menulis tentang Chairil Anwar dan Amir Hamzah,” tulis Teeuw dalam kata pengantar kumpulan karangannya itu.

Ia benar. Apalagi kalau kita bandingkan buku ini dengan Pokok dan Tokoh dalam Kesusastraan Indonesia Modern yang terbit pada tahun 1952 dan 1955. Tapi, di samping menunjukkan perkembangan pemikiran yang terjadi dalam diri profesor ini, bukunya yang terbaru ini juga menunjukkan sesuatu yang tetap ada pada Teeuw: minatnya yang besar terhadap sastra Indonesia.

Dalam Pokok dan Tokoh, yang kemudian dikembangkan dan diterjemahkan menjadi Modern Indonesian Literature (1967), Teeuw memusatkan perhatiannya pad…

“Nyai”nya Pramoedya Ananta Toer

M.D. Atmaja
http://sastra-indonesia.com/

Pramoedya Ananta Toer (PAT), seorang penulis legendaris yang menjalani kehidupan dalam perjalanan panjang dan berat, serta perjuangan yang berat juga. Dia memikul tanggung jawab sebagai agen pembeber realitas sejarah masyarakatnya. Hal ini dapat saja kita tilik, dari pandangan kepenulisan PAT yang berlandaskan pada Realisme Sosialis, yang dalam pandangan Gorki: “bahwa setiap orang harus mengetahui sejarahnya”, sehingga peran untuk mengungkapkan realitas sejarah dipikul sastrawan Realisme Sosialis.

Karya PAT secara keseluruhan berupaya meraup realitas yang terjadi dalam kehidupan masyarakatnya. Ia (karya tersebut) sebagai penggambaran hidup yang utuh, sampai-sampai Yakob Sumarjo mengatakan kalau publik akan kesulitan dalam menentukan, apakah karya PAT sebagai karya fiksi atau karya biografis. Realitas kehidupan yang mendalam, PAT gambarkan melalui karya-karyanya yang mungkin (semoga) saja ada di rak buku kita.

“Bumi Manusia” (2006) sebagai novel per…

Sitok Srengenge: Puisi sebagai Pertaruhan Berbahasa

Asarpin
http://sastra-indonesia.com/

Dia menulis dengan bahasa yang sangat puitis. Barangkali inilah modal utamanya sebagai penyair—belakangan juga mencatatkan diri sebagai penulis prosa yang liris dan puitis, yang hanya bisa ditandingi oleh kejernihan bahasa prosa Nukila Amal. Terus terang, saya iri dengan kemampuan bahasa Indonesia yang dimilikinya. Bahkan, saya tak bisa menyembunyikan keterpesonaan setiap kali memukan sajak-sajaknya. Selalu ada semacam godaan untuk mengikutinya, jadi epigonnya, atau mengambilalih, atau memiuhnya. Mungkin benar kata sebagian orang: tulisan yang bagus akan selalu menggoda orang untuk jadi pencuri.

Sang mualim itu bernama Sitok Srengenge. Sebuah nama keren alias beken. Mungkin orang tuanya pernah bermimpi diberi nama seindah dan secantik lenggak-lenggok permaisuri. Atau mendapat ilham, atau diberi seorang petualang, atau apa saja. Yang jelas orang tuanya pasti tidak pernah mengira kalau anaknya akan jadi penyair. Penyair yang punya modal kata dan baha…

Bryan: Kilau Emas dari Kalbar

Judul Buku : Menggambar Impian
Penulis : Pay Jarot Sujarwo
Penerbit : Borneo Tribune Press dan Pijar Publishing
Cetakan : Pertama, Januari 2011
Tebal Buku : ix+164 Halaman
Peresensi : Satmoko Budi Santoso
http://www.lampungpost.com/

DALAM kurun waktu sekitar 3 tahun terakhir, dunia perbukuan Indonesia cukup semarak dengan kehadiran buku-buku berjenis kisah sukses. Buku-buku inspiratif yang memang mampu menggedor semangat, memompa motivasi setiap orang untuk terus tumbuh dan berkembang seiring zaman yang semakin kompetitif di segala bidang.

Salah satu buku berjenis kisah sukses dan amat inspiratif tersebut menurut saya adalah buku berjudul Menggambar Impian ini. Buku ini merupakan kisah sukses pelukis cilik Bryan Jevoncia, siswa SD Suster, Pontianak, Kalimantan Barat, yang menggenggam penghargaan prestisius dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Ia muncul sebagai salah satu pemenang dalam ajang International Children Art Competition 2007. Yang menarik lagi, ia meraih penghargaan setingkat PBB …

Novel Petualangan Laki-laki Cina Karya Maxine Hong Kingston

Peresensi: Fany Chotimah
Judul Asli: China Men
Alih bahasa: Vicky Gunawan
Cetakan pertama: Mei 1982
Penerbit: IQRA-Bandung
Pencetak: PT.Al Maarif-Bandung
http://pawonsastra.blogspot.com/

Ayah, ada kalanya engkau begitu riang. “Hayo, kita bermain kapal-kapalan!” katamu.

“Akan ku buatkan kapal terbang unik bagimu”.Dan engkau menangkap seekor capung, menjepitnya di antara jarimu. Sepasang sayap binatang yang tampak bagaikan terbuat dari plastik bergetar-getar. Kepala binatang dengan mata melotot bagaikan memandangi kami.

Sekelumit kutipan diatas saya ambil dari bagian awal novel Petualangan Laki-laki Cina. Saat pertama membaca bagian awal novel ini ingatan saya dibawa ke masa kecil. Saya diingatkan kembali moment yang kurang lebih sama yang pernah dilalui seorang anak perempuan dengan sang ayah. Di satu moment si tokoh Aku sang anak yang tengah bermain-main dengan sang ayah yang sedang riang, menemukan kejanggalan sikap pada ayahnya. Menurut sang anak, sang ayah biasanya tidak senang bermain-main…

Sastra-Indonesia.com

Sajak-Sajak Pertiwi