Minggu, 27 Februari 2011

Martabat Puisi dan Gairah Hidup

Bandung Mawardi *
http://www.lampungpost.com/

PENCETUS teori evolusi, Charles Darwin, pengarang On the Origin of Species, pernah memiliki masa intim dengan puisi. Pergaulan ini memberi tanda atas ajakan dalam gelimang makna kehidupan, kendati dunia modern disibukkan dengan pemujaan sains, pemujaan dengan konsekuensi menjauhkan manusia dari kehidupan. Darwin dalam otobiografi, suntingan Nora Barlow (1958), memberi kisah kecil intimitas diri dengan puisi: “Sampai umur tiga puluh tahun atau lebih, puisi dalam segala bentuk … memberiku kenikmatan besar.”

Puisi sebagai bab penting dalam hidup Darwin bermula sejak kecil, saat menempuh sekolah dengan menekuni puisi-puisi dan drama sejarah garapan Shakespeare. Kisah ini lekas hilang, Darwin pada usia menjelang tua justru menampik puisi. Masa lalu seolah berdiam dalam ingatan picisan. Darwin merasa bosan dengan puisi, lekas tergantikan dengan kenikmatan sains. Perubahan ini memikat dan mencemaskan.

Penjelasan Darwin: “Otakku seolah telah berubah menjadi semacam mesin untuk menggiling kumpulan fakta besar menjadi dalil-dalil. Mengapa hal ini mengakibatkan kemunduran bagian otak sebagai pusat citarasa tinggi? Aku tak mengerti. Kehilangan citarasa berarti kehilangan kebahagiaan. Barangkali malah bisa merusak kecerdasan dan moral. Hal ini melemahkan emosi manusia.” Hidup tanpa puisi mirip dengan “cacat diri” manusia karena mengabsenkan puja atas citarasa estetika.

Hasrat

Pergumulan dengan puisi pun identik dalam diri Karl Marx, pemikir berjenggot, pengusung pemikiran-pemikiran radikal dalam deru modernitas dan kapitalisme di Barat. Marx menulis puisi untuk kekasih, Jenny von Westphalen, akhir 1836. Inilah petikan puisi romantis ala Karl Marx: Maafkan aku, memberanikan diri mengharap cercamu/ tetapi jiwa ini ingin sekali jujur mengaku,/ bibir sang pengidung rela terbakar lebam,/ demi menghembus bara kegelisahan agar padam./ Dapatkah aku melawan diri, berbalik arah,/ lalu kehilangan diriku sendiri, dungu dan resah,/ haruskah sang pengidung menipu,/ tak mencintaimu, setelah memandang wajahmu? Puisi ini mungkin memancing kecut atau pukau. Pembaca mungkin tak menduga, Marx dalam kisah cinta sanggup menulis puisi dalam anutan romantik. Kerja estetis dijalani untuk menjadi lelaki di hadapan si pujaan.

Puja atas puisi terasakan dalam surat sedih Marx (1837) pada sang ayah. Ada alinea memelas saat Marx merasa hidup sia-sia karena mendengar sang kekasih menderita sakit. Kesedihan hati membuat kerja intelektual berantakan. Marx merasa tak bisa melahirkan apa-apa. Kondisi frustrasi itu membuat Marx sakit. Di balik tragedi itu, Marx memberitakan pada ayah: “… saya membakar semua puisi … dengan harapan saya akan bisa melepaskan kegemaran itu, tapi ternyata tak mudah melepaskan itu.” Marx, pengarang Das Kapital, menganggap puisi sebagai sumber cinta dan benci. Puisi sanggup memberi arti hidup, sekaligus meruntuhkan.

Mikhail Liftschitz (2004) menilai relasi Marx dengan puisi adalah modal awal dalam karier keintelektualan. Marx, pemikir revolusioner, memang berhasil mengumumkan dua puisi dalam Athenaum, tapi momentum itu menjelma konflik, hasrat untuk menulis puisi dengan disiplin ketat atau menemukan jawaban di bidang ilmu pengetahuan tentang masalah-masalah kehidupan. Semua ini menjadi penanda krisis pertama dalam perkembangan intelektual Marx. Jadi, puisi pernah menjadi idaman dan kecaman dalam diri Marx.

Gairah

Kisah intim dengan puisi juga dialami oleh raja filsafat, Martin Heidegger, pengarang buku berat, Sein und Zeit. Filosof asal Jerman ini menjadi ikon dunia filsafat modern dan tokoh kontroversial. Heidegger termasuk pemuja puisi. Puisi disemaikan dalam biografi keintelektualan dan perselingkuhan, kisah menggairahkan antara Heidegger dengan Hannah Arendt, filosof perempuan kondang, penulis buku The Origin of Totalitarianism. Arendt bagi Heidegger adalah gairah hidup. Jadi, puisi dituliskan untuk persembahan pada gairah hidup, gairah memuja dan mencinta perempuan.

Heidegger rajin menulis dan mengirimkan puisi-puisi pada Arendt, saat terpisah jarak karena situasi politik pada 1930-an di Jerman. Puisi dalam perselingkuhan juga sejak mula hadir dalam kehidupan privasi, hidup dalam sepi dan terpencil bersama istri, di pedalaman Scharzwald. Filosof ampuh itu mengisi agenda keseharian, saat sore hari, dengan membaca puisi-puisi Friedrich Holderlin, penyair agung Jerman. Heidegger menemukan gairah hidup dalam puisi, menandai puisi sebagai ciri manusiawi untuk menggapai puncak-puncak pengalaman tanpa harus terjinakkan oleh arogansi rasionalitas.

Mengabaikan

Semua kisah pergumulan tokoh-tokoh dunia dengan puisi merupakan ciri dari pembentukan kiblat dan roh zaman modern pada abad XIX dan XX. Sains mungkin tampak melampaui puja atas puisi (sastra). Kondisi dikotomik ini mengonstruksi dan mendestruksi dunia. C.P. Snow pun tampil dengan risalah The Two Cultures untuk memerkarakan perbedaan derajat antara intelektual-ilmuwan dan penyair-sastrawan. Perbedaan ini menjadi dalil bagi C.P. Snow untuk menggegerkan jagat pemikiran dan estetika Barat. Dunia Barat, abad XX, terbelah pada dua kutub, cendekiawan-sastra dan ilmuwan. Dua kutub ini saling bermusuhan, membenci, susah untuk saling memahami, dan mendistorsi martabat lawan untuk arogan.

Beda derajat dan corak dalam membentuk kemodernan ini pun menghinggapi kalangan intelektual di negara-negara berkembang. Pemartabatan sastra pada masa awal abad XX di Indonesia seolah mengalami kebangkrutan pada akhir abad XX dan awal abad XXI. Dunia kentara terbentuk oleh sains, agenda mengubah dan menikmati dunia dengan puja rasionalitas. Sastra tersingkirkan, disangkakan sekadar sebagai hiburan atau penampik perubahan. Efek ironi ini masih terwariskan pada dunia keintelektualan hari ini, sastra hampir tak tampil karena rendah diri atau terkooptasi oleh hegemoni sains. Negara juga tampak memilih sains untuk memartabatkan diri di mata dunia ketimbang sastra. Pilihan ini mengandung ironi tapi tak disadari karena mengabaikan sastra sebagai sumber gairah hidup. Begitu.

*) Pengelola Jagat Abjad Solo

Sabtu, 26 Februari 2011

Pesona Keempat Sutardji Calzoum Bachri

Asarpin
http://www.lampungpost.com/

SEJAUH ini, lebih dari lima puluh ulasan tentang puisi Sutardji Calzoum Bachri (selanjutnya ditulis Tardji). Namun, di antara yang banyak itu, saya melihat jarang sekali sajak-sajak Tardji pasca-O Amuk Kapak (1981) mendapat perhatian.

Mungkin karena puluhan sajak mutakhirnya itu belum dibukukan, hingga perhatian kritikus masih tetap pada sajak-sajak lama. Arif Bagus Prasetya memang sempat menyinggung puisi-puisi Tardji terbaru sedikit membandingkan dengan sajak-sajak sebelumnya hingga Arif sampai pada kesimpulan bahwa sajak-sajak lama Tardji menampilkan “sajak aksi” dan sajak-sajak terbarunya menggemakan “sajak saksi”–sebuah kesimpulan yang hemat saya masih perlu diperdebatkan.

Puluhan puisi terbaru yang ditulis Tardji sangat padat menggunakan kalimat dengan kejutan estetik yang mencengangkan. Di antara puisi terbarunya saya sempat menyimpan puisi La Nosche De Las Palabas, Tanah Air Mata, Berdepan-Depan dengan Kakbah, Idulfitri, Cermin, David Copperfield, Pemulung, Mari, Sudah Waktu, Tanah Airmata, Cari, Atlantis, Para Munafik Ismail, Doa, Gempa Kata, Ini.

Dalam sajak-sajak ini Tardji begitu intim masuk jantung kata-kata, mendayakan kata, mengembalikan harkat kata tidak lagi pada mantra. Metaforanya tampil lewat kata-kata yang menyembul bagaikan ombak yang menghunjam batu karang, menggulung pantai kesadaran tempat burung bakik melantunkan tembang lawa malam.

Puisi La Nosche De Las Palabas bertanggal Madellin Columbia 1997, menggemakan kata-kata hingga sukma mutu menikam, seperti dalam fragmen ini: “palabras palabras palabras/-/–kata kata kata kata –/semakin kental mengucap/cahaya pun memadat/sampai kami bisa buat purnama jatuh/kata-kata menjadi kami/kami menjadi kata-kata”. Nada protes dengan kandungan amanat yang posesif–bahkan sejenis “dakwah”–tersirat dalam sajak Pemulung (1990): kalian bikin mesjid/kalian bikin gereja/kalian senang kami selalu wirid/kalian anjurkan kami banyak berdoa/tapi kalian juga paling banyak melahap nikmat dunia”.

Tardji tidak lagi menampik arti menjadi sejenis isyarat dengaran belaka atau kembali dari kata ke fonem, sebagaima dalam O Amuk Kapak (1981). Sajak-sajak terbarunya mengusung mentalitas sajak merakit kata dengan kontemplasi dan refleksi.

Dengan kekuatan sampiran, Tardji menghancurkan larik pantun empat bait dan menyusun puisi baru dengan melebur diri dalam gulungan ombak kata-kata. Tardji pernah mengatakan menulis sajak baginya bagaikan debur ombak yang perlahan-lahan mengikis pantai jadi lautan.

Ombak selebu dan alimbubu tidak henti-hentinya datang menyerbu dan mengempas datang lagi dalam mencari kedalaman sajaknya, membentuk dan menciptakan kesadaran imaji diam. Dalam sajak Tanah Air Mata, Tardji mungkin saja tenggelam bila tidak ada air mata yang menolongnya, bila saja tumpah darah tidak menjelma tanah air mata, “mata air airmata kami, airmata tanah air kami” yang kelak tampil dalam wadak yang telanjang dalam sajak Cari kata-kata seperti pemuda kita mencari kata dalam sumpahnya.

Sajak Gempa Kata (2005) seperti datang terlambat dan menjadi penegasan yang implisit terhadap tabiat puisinya dalam O Amuk Kapak yang menolak “tergantung pada kata” (A. Teeuw) sekaligus menolak pada mulanya adalah kata yang dijadikan satu rubrik Tokoh Bicara dalam Koran Tempo. Tardji berteriak: retak/kata kata bertumbangan/runtuh/metafora porak poranda/koyak moyak kamus/makna hapus/dalam banyak tenda/para korban keruntuhan kata/menjerit tanpa kata/negara asing tak sanggup bantu/ini persoalan sendiri/mustahil nyelamatkan korban/lewat asing kata/bahkan terjemahan/pun/tak.

Dalam puisi Para Munafik Ismail (2005), Tardji memang bukan penyair sekadar, kendati puisi-puisinya belakangan ini banyak menjejalkan kalimat-kalimat pejal. Tanpa beban Tardji menohok “Ismail” sebagai yang munafik: para ismail yang munafik/bergegas menyodorkan/leher:/– sembelihlah kami!/Ibrahim yang hanif bilang:/– tak, kalian tak boleh mati/agar menjadi pertanda biar umat waspada/.

Ismail dalam sajak Para Munafik Ismail bisa dibaca sebagai nama metaforik dan tak berurusan dengan Ismail putra nabi Ibrahim, bahkan Ismail di situ mungkin “Taufik Ismail”, kata rekan saya. Tardji mengulang nama Ismail kembali dalam sajak Doa (2005): “…ini sungguh para ismail bayi ismail renta/ismail kanak ismail pemuda/dibantai/ya Tuhan/kuatkan selamatkan bangsaku/dari derita beberapa Nabi.

Puisi-puisi pasca-O Amuk Kapak hadir bagaikan sang mualim yang diempas angin lasi dari segala daftar kecelakaan yang pernah ditenggaknya di masa lalu. Sekali lagi, inilah tabiat ombak di tengah laut rembang atau olok mulang yang bekelok-kelok, berputar dan menggulung naik dan turun. Sesekali terdengar bunyi-bunyi di pantai kesadaran laut lazuardi sebelum akhirnya bergabunglah nakhoda, mualim, dan kelasi.

Tardji telah melengkapi tiga kumpulan sajak hingga layaklah ia meraih apa yang disebut sebagai sajak obviatif atau pesona keempat, yang sebelumnya telah ditunjukkan pada pesona pertama (O), kedua (Amuk) dan ketiga (Kapak). Dengan demikian, Tardji telah sampai pada kata yang memiliki bentuk khusus, yang membedakannya dengan semua penyair di negeri ini. Dengan watak obviatif ini, Tardji telah menyejajarkan dirinya–kalau bukan malah melintasi–dengan empat pendakian menuju Yang Mahakuasa dalam tradisi irfan dan ghazal Persia.

Bila saja sajak-sajak mutakhir Tardji dibukukan, saya akan memilih lema ombak karena dengan ombak, Tardji telah menghasilkan empat metamorfosis dalam pendakian puncak yang jauh. Mula-mula Tardji mengembara dalam sunyi lewat nol mutlak (dalam atau O) menuju kerinduan yang ganas melalui sembilu kucing batinku ngiau nuju jejak tak mewariskan sampai-luka tak meninggalkan badan walau sejuta mawar kucoba penawar dengan apa mencariMu (Amuk), berlanjut dengan mengembara dari manusia ke manusia dengan kebersamaan saudara kembar aku-kita yang dipertalikan oleh nasib (Kapak) dan hubungan dalam kewargaan dengan membebaskan mahia pengucapan tradisi yang sempit dan membawanya ke lingkungan sastra dunia tentang kedalaman kemaknaan (Ombak) ujung Tanjung, sekapur sirih seulas Pinang.

Kidung Rebung

S.W. Teofani
Lampung Post, 2 Januari 2011

MENGAPA tak sekarang saja kita tebang rumpun rebung itu, Ibu? Apa lagi yang kita tunggu. Bukankah semak laknat itu menyisakan mimpi buruk pada malammu, juga siangku. Kita telah kehilangan nakhoda biduk pada ganasnya gelombang hidup. Laki-laki yang sangat mencintai bambu, mungkin melebihi cintanya padamu, juga padaku. Tapi kau tak pernah cemburu pada bambu-bambu itu. Bahkan saat akhirnya dengan sadis pohon kesumat itu menjadi sebab kematian laki-lakimu, ayahku.

Aku ingin segera meleyapkan rumpun aur itu, Ibu. Biar usai pedih ini. Agar lenyap bayang senyap pada tetumbuhan yang merenggut seluruh suluh hidupku: cengkerama dengan ayah di rembang petang, di antara betung dan aur, menyisahkan kenang yang mengguncang. Memelantingkan seluruh siksa ditinggalkan, mengundang ruang raung yang hilang.

Benar hutan bambu itu sesak kenangan, tapi nganga luka pun ia suguhkan. Aku memilih melenyapkan semua, Ibu. Agar tunai seluruh kenang, juga dendam.

Ayah pasti marah padaku, jika kuleburkan pohon hidupnya. Tapi, bukankah akhirnya pohon-pohon itu jua yang merenggut nyawanya? Karena cinta selalu menagih pembuktian, ayah menyatakan cintanya. Cinta pada rerimbun bambu, sejak bertunas hingga meranggas. Bahkan hingga bambu-bambu itu menghendaki cinta yang tandas. Lalu ke mana kehilangan ini aku sangsangkan, bila tiap bilah bambu adalah keriut lara lukaku.

Engkau diam Ibu, tak mengiyakan, pun menolak hasratku. Ingin yang kusampaikan dengan ungkap dusta, agar tak tercipta pedih bagimu, juga lara untukku. Kau hanya tersenyum dengan sungging yang mendamaikan, sekaligus meresahkan. Seperti rimbun bambu yang teduh, juga membuntal gatal. Tersebab bulu halusnya yang terselip pada setiap pelepah dan batang.

Maafkan aku Ibu. Aku mencintamu, tapi kali ini aku ingin mencintai diriku sendiri.

Di hatimu telalu banyak bilik. Aku tak sempat memasukinya satu per satu. Sebanyak bilik rumah bambu yang ditatah ayah, dibawa ke kota-kota yang jauh, dikagumi indahnya, dipuji pesonanya. Tanah kita pun masyhur karena tangan terampil ayah. Dari rakyat biasa hingga pejabat terpesona karyanya. Engkau turut tersenyum bangga, pada laki-lakimu, yang tetap kau cintai, bahkan hingga tinggal tilas yang mengenangkanmu.

**

Kan kupelihara hutan bambu itu, Suamiku. Sebagaimana dirimu menjagaku, juga anak kita. Kau merawat bambu-bambu itu sepenuh waktu, tapi aku percaya, kau jaga kami dengan seluruh hatimu. Sepeninggalmu, bambu-bambu ini yang menemaniku. Kesiurnya mengingatkan pada bisikmu tentang ketabahan. Deritnya mengenangkan pada suaramu saat memanggilku, dengan pelan,…dalam, pada sepenarikan napas yang membuat kita sadar pada amanah kemaslahatan. Lalu muncul pucuk-pucuk rebung yang menjanjikan hari esok nan panjang. Rebung itu bertumbuh menjadi aur baru yang menggantikan. Hingga siap ditinggalkan batang induknya yang kita tebang.

Tapi tidak diriku, Suamiku. Kau tinggalkan aku saat rebung kita begitu belia. Ia belum siap menanggung derita. Tapi aku berbaik sangka, kau yakin kumampu menjaganya. Selain ketundukkan kita pada keharusan semesta yang mengajari lega lila pada ingin-Nya. Meski ada lembar hatiku mengeja hal lain yang kita amini dengan kedipan mata. Lalu kita tertunduk karena kesalahan yang tak kita kehendaki.

Kau ajari aku menyayangi bambu seperti menjaga kehidupan. Kau tak akan menebang betung jika tumbuhan itu tak menginginkan. Bahkan kau tahu, mana batang yang berkenan kau tebang, dan mana yang enggan kau pinang. Tak akan kau tebang batang betung yang menyusui rebung. Kau rawat dia hingga tunai sang betung mengasuh rebung. Jika pada titimangsa tua, ketika bulan tak lagi purnama, kusaksikan batang-batang betung rebah dengan indah. Pada pangkuanmu, pada tanganmu yang begitu piawai menjadikannya lebih berharga. Akan kusaksikan betapa mesranya kau menyambut batang betung itu. Dan betapa cemburunya aku pada kemanjaan rumpun rumput istimewamu. Batang-batang itu seperti tahu, kaulah yang akan menatah titah mengada; memberi manfaat bagi semesta. Jika sampai waktunya, bambu itu pasrah pada tanganmu mencipta. Batang betung dan aur itu percaya, kau mampu mendandaninya menjadi permata yang disanjung puja. Bukan sekadar kayu bakar yang tersia.

Di hari nahas itu, aur dan betung mengutukmu. Rumpun itu merasa dikhianati, sebagaimana kau tersiksa atas pengingkaran pada anak jiwamu, juga seluruh hidupmu. Aku tahu, Suamiku, betapa sulitnya debat hatimu saat itu.

Seluruhmu tergadai antara titah dan tembang manah. Kau sanggupi wisma angsana di taman kota praja. Yang Mulia meminta mahakaryamu tercipta dari bambu terbaik yang dipilihnya. Dia tunjuk serumpun betung nan memesona; setiap jiwa terkagum pada pikatnya. Dengan santun kau katakan pada Yang Mulia, betung itu belum sampai titimangsa. Kau tawarkan batang lain yang tak kalah jelita. Telah kau siapkan pada musim tebang sebelumnya.

Tapi siapakah engkau, Suamiku. Engkau tak punya daya untuk menawarkan kebenaran di hadapan penguasa. Apalah arti pengetahuanmu di hadapan kemauan raja. Dengan senyum getir, kau iyakan mata murkanya. Dia puas dalam tawa. Tak ada yang lebih tahu dari nafsunya. Tak ada yang sanggup menentang maunya. Apalah arti seorang perajin bambu di hadapan kuasanya. Sebentar lagi istana bambu yang diidamkannya tercipta, meski menumbalkan kemaslahatan muasalnya.

Aku tahu, Suamiku, untukmu yang begitu takzim pada gerak mayapada, memangkas betung dengan tergesa adalah perbuatan sia-sia. Bagimu, ini langkah zalim pada semesta. Satu betung kau bawa, berdasa rebung binasa. Tapi bisakah penguasa berlapang dada pada kearifan alam raya?

Suamiku, di belakangmu aku terdiam. Mengikuti langkahmu yang gamang. Tak kulihat lagi semringahmu menyambut rebahnya lurus batang. Kau begitu bimbang. Akan kau tebang betung yang tengah menyusui rebung. Akan kau pangkas hatimu untuk titah. Tapi aku tak percaya, kau berani mengingkari tembang rejang kehidupan.

Langkahmu gundah, mendekat batang betung dengan pasrah. Tanganmu gemetar saat menempelkan parang pada batang yang tak hendak rebah. Ketika parang kau angkat, riuh jerit rimbun rebung pilu menyayat. Direbutnya parang hatimu yang mendekat. Tangis mereka pecah saat besi tajam itu semakin rapat. Gendang telingamu tak mampu menangkap apa pun, selain sayat pilu sedu sedan rebung. Tanganmu goyah, entah ke mana parang terarah, hingga senjata itu memilih tuannya. Darah mengucur di pucuk-pucuk rebung, juga bambu betung. Tangis rebung reda, atas peristiwa tak terduga, berganti isakku kehilanganmu. Tak lama, rebung-rebung itu, petung itu, aur itu, turut tersedan. Melafalkan kidung penyesalan akan kepergian. Menembangkan kehilangan manusia yang akan menjaga dan merawatnya, juga memolesnya hingga memesona. Kemudian, kota ini menjadi sepi, tak lagi wangi.

**

“Mengapa tak sekarang saja kita tebang rimbun aur itu, Ibu? Kan kubuat sebuah kota dengan rumah-rumah bambu di atasnya. Pasti negeri ini akan masyhur lagi.”

“Anakku, menanam ada masanya, memetik pun ada waktunya, jangan kau ganggu bambu-bambu itu. Lihatlah, anak-anaknya tengah menyusu.”

“Ah..ibu, manalah putingnya, manalah airnya, ibu jangan mengada-ada. Akulah anak ibu yang akan merawatnya, dengan menjadikannya lebih berharga.”

“Pada mangsa setelah dasa, kala bulan tak lagi purnama, tebanglah induknya saja. Biarkan anak-anaknya bertumbuh menggantikannya.”

“Akan aku tebang semuanya, Ibu. Agar tak lagi ada ular yang bersembunyi di semaknya. Kan kubangun rumah-rumah bambu di atasnya, biar tanah kita jadi legenda.”

“Anakku, buah cinta hutan bambu, jangan turuti nafsu. Apalah arti legenda, jika musnah segala yang ada. Kita ambil sebagian saja, seperlu hajat kita, bumi akan panen raya setelah padam purnama.”

“Duh Ibu, kekasihku, teman jiwa ayahku,…mengapa kau eja purnama, zaman tak lagi menghiraukannya. Esok ada batang beton yang menggantikan bambu betung itu.”

“Duh..anakku, kau saksikan matahari muncul di waktu pagi, terbenam di senja kala, tentu ada maksudnya. Tuhan tak ciptakan itu dengan sia-sia. Adalah perputaran waktu yang menggantikan warsa. Membuat kita belajar tentang musim, tema titimangsa. Benar semua waktu baik, Anakku. Maka disebut baik, karena mengandung kebaikan untuk yang lainnya. Pandailah kau membaca sasmita, pertanda yang dipersembahkan alam untuk kita. Cermatlah dirimu berteman dengan musim, agar menjadi sahabat semesta.”

“Duh..Ibu, tidakkah semua telah berlalu. Kita hidup di zaman tanpa musim, tak beda ketika purnama atau gulita.”

“Anakku, ibu telah tua. Tinggal merawatmu, juga rumpun rebung itu. Menjaga kinasih ayahmu, menata kelarasan mayapada.”

“Duh Ibu, aku anakmu seorang saja, kan kulakukan yang terbaik bagi semua.”

***

“Suamiku, maafkan aku. Tak tuntas kuajarkan kearifan pada anak kita. Kini aku hidup tanpamu, tanpa hutan bambu. Yang tertinggal ngiang kidung rebung yang meratapi namamu.”

Jatimulyo, ujung 2010

Happy birthday my best friend Elly D., 25 Desember 2010
Kado untuk Suluh Jiwa, 20 Desember 2010

Sumber: menjumput dari http://kklampost.blogspot.com/2011/01/cerpen-sw-teofani.html

WATU PRAHU

Jayaning S.A
http://sastra-indonesia.com/

Kata ibuku, batu itu sudah ada di sana sejak pertama kali ibuku datang ke daerah ini. Ya, sebuah batu hitam memanjang berbentuk seperti perahu tertangkup yang ada di kaki bukit, tak sampai berjarak puluhan meter dari pintu rumahku.

Batu itu bisa kulongok tiap saat dari jendela depan rumah, asalkan bukan malam hari. Tampak jelas di antara pohon-pohon kurus yang tumbuh jarang di sekitarnya.

Saat kecil dulu, aku pernah beberapa kali bermain di sekitarnya, bersama teman-teman sepermainanku. Kami duduk sambil sesekali menggosok-gosok permukaannya yang tampak berkilat saking halusnya. Kau tahu, halusnya seperti hasil tatahan tangan-tangan ahli yang mengerti benar seperti isi hati si batu, hingga pahatannyapun jadi sedemikian sempurna.

Hingga suatu kali, kami yang penasaran berunding untuk menentukan siapa yang dapat giliran. Temanku yang kena giliran bertanya begini pada ibunya, “Lihat Bu, kenapa ada batu sebagus itu di bukit sana?” sambil telunjuknya mengarah pada batu itu.

“Husy, jangan tunjuk-tunjuk. Nanti jin penunggu bukitnya marah, bisa kuwalat,” kata si ibu sambil menampik tangan putra kecilnya.

Temanku langsung diam. Kami yang sedang duduk di pelataran rumahnya, di dekat anak-beranak itu, sempat mendengar. Sejak itu, walaupun sering bermain di bukit, kami tak pernah mendekati batu itu. Kami hanya memandangnya, lalu cepat-cepat menjauh.

Sampai terakhir kali kami bermain bersama di bukit, kami saling menyalahkan kenapa dulu tertarik mempertanyakan batu itu. Seandainya tak pernah bertanya, kami tak perlu kehilangan salah satu tempat singgah sehabis bermain.

Dan sekarang, ketika adik bungsuku dan teman-temannya asyik bermain di sekitar batu hitam itu, aku hanya bisa melihat dari balik jendela. Sebenarnya aku ingin mengingatkan, karena aku takut terjadi apa-apa. Tapi bagaimana ya, aku sendiri juga tak terlalu percaya.

Akhirnya, aku diam saja.
Entah kenapa aku selalu lupa bertanya pada ayahku yang mungkin lebih tahu. Dan sayangnya, aku terlalu takut untuk mencari tahu sendiri.
***

Seorang lelaki muda memacu kudanya kencang-kencang ke barat, melintasi kerimbunan hutan yang makin menipis. Keringatnya mengembun, wajahnya pias. Ia tak menatap manapun kecuali ke depan. Nanar. Sang kuda tungganganpun sepertinya paham kegelisahan tuannya. Ia melesat, semata-mata menuruti kehendak tuannya.

“Demi keselamatan Raden Pancanaka, kita harus cepat, Jabrik.” Pria muda itu mengelus kudanya, sambil tetap memacunya kencang-kencang.

Maka sang kuda tunggangan makin cepat melesat.
Lelaki muda itu tersenyum. Sekilat binar tampak di matanya. Tatapannya bertumpu pada setitik bayangan gapura nun jauh di sana. Beberapa orang menyunggi pikulan lewat di pinggir jalan setapak yang dilewatinya.

Ditepuknya leher kudanya, “Perdikan sudah dekat. Kau bisa istirahat sepuasnya di istal nanti.”

Si kuda meringkik, mengibaskan ekornya. Laju larinya sedikit melambat. Makin banyak orang berseliweran melintas.

Dua lelaki memalangkan tombak di tengah gapura. Tubuh mereka berisi, wajah mereka garang. Si lelaki muda turun dari kudanya, kemudian terlibat pembicaraan singkat dengan dua pemilik wajah garang.

Dua orang itu minggir, memberi jalan. Segera saja, si lelaki muda melesat dengan tunggangannya.

Ia memacu tunggangannya ke kediaman sang junjungan, Raden Pancanaka. Ia menepuk leher tunggangannya. Kudanya meringkik keras, sambil mengangkat kaki-kaki depannya ke atas. Sekejap, kemudian melesat masuk ke halaman pendopo terbesar di tengah perdikan.

Seorang penjaga berusia paruh baya menyambut kedatangannya. Dan si lelaki meyerahkan kudanya.

“Apa Raden Pancanaka ada di kediamannya?”
“Inggih, Gusti. Gusti Raden Pancanaka baru saja pulang dari meninjau keadaan perdikan,” sahut si penjaga sambil menghaturkan sembah.

“Saya akan sampaikan kedatangan Raden pada Gusti Raden Pancanaka.” Sekali lagi lelaki itu menghaturkan sembah.

“Tidak perlu, Ki,” lelaki muda itu tersenyum. “Raden Pancanaka sudah tahu kedatanganku.”

Penjaga itu berbalik, menghaturkan sembah ketika pandangannya jatuh pada lelaki bersahaja yang berdiri di tangga paling atas pendopo. Lelaki muda itu merunduk, berjalan mendekat pada sang lelaki priyayi.

“Sembah hamba Gusti, hamba datang untuk menyampaikan kabar dari ibukota.”

Sang lelaki priyayi yang tak lain adalah Raden Pancanaka diam. Dia berjalan tenang ke singgasananya. Si lelaki muda beringsut mengikutinya.

Tak ada orang lain di pendopo itu.
“Kabar apa yang kau bawa, Panca?”
“Sembah hamba Gusti, hamba ingin menyampaikan kabar tentang tanah perdikan kita.”

Lelaki muda itu, sekali lagi, menghaturkan sembah.
Sinar mentari makin meredup. Namun, belum ada seorangpun yang datang ke pendopo untuk menyalakan dian. Bayang-bayang dua orang itu jatuh ke timur, menambah kesan suwung pendopo itu.

“Katakan Panca, kabar apa yang kau bawa dari ibukota,” suara berat Raden Pancanaka menggetarkan sunyi di pendopo itu.

“Ampun Raden, kakanda Gusti sudah mengetahui bahwa Gusti sekeluarga bersembunyi di perdikan ini. Kakanda Gusti berencana mengerahkan pasukan kemari dalam waktu dekat ini.”

Lelaki yang disebut Panca itu menghaturkan sembah.
Raden Pancanaka turun dari singgasananya, berjalan bolak-balik di pendopo perdikan yang makin temaram.

“Mereka pasti takkan segan menghabisi nyawa seluruh penduduk untuk menemukanku, Panca.”

“Inggih Gusti.”
“Rakyat perdikan ini sudah terlalu berjasa padaku. Aku tak bisa membiarkan mereka berkorban lebih banyak lagi.”

Pandangan Raden Pancanaka menerawang.
“Menurutmu, apa yang harus kulakukan Panca?”

“Ampun Gusti, mungkin lebih bijaksana jika gusti memerintahkan seluruh rakyat untuk pindah ke kadipaten lain secara terpencar. Agar orang-orang tak curiga bahwa mereka datang dari perdikan ini.”

“Kau benar Panca. Tapi apakah kau yakin mereka akan mau menuruti titahku ini?”

“Ampun Gusti, menurut pemikiran hamba, seorang abdi yang setia akan taat dengan titah junjungannya.”

“Kau benar Panca, tapi tidakkah seorang abdi yang setia itu yang mengikuti kemanapun junjungannya pergi?”

“Sembah hamba Gusti, hamba yakin Gusti lebih mengerti.”
“Kumpulkan para abdiku, Panca. Kumpulkan juga seluruh rakyat perdikan ini. Kita akan berikan pilihan ini, dan biarlah mereka memilih sendiri.”

“Sendiko dawuh Gusti.”
Panca beringsut meninggalkan pendopo. Meninggalkan Raden Pancanaka yang termenung sendirian.
***

Rek-erek kambil endhek,
Wong Nggalek tudung cowek,
Coweke mambu telek,
……………

Dadaku terasa penuh. Sungguh. Mungkin sebentar lagi meledak, jadi debu. Sial!
Aku baru tahu jika ada lagu daerah yang bunyinya begitu. Kemarin ayahku yang memberitahu tentang lagu itu, ketika beliau sedang bercerita tentang masa kecilnya. Sungguh, aku tidak bisa terima. Apalagi Mbah Buyut yang mengajarkan itu.

Siapa yang membuat lagu seperti itu. Merendahkan sekali.
Ibuku pernah berspekulasi tentang sebab musabab kenapa sebegitu konservatifnya masyarakat daerahku terhadap perubahan adalah perasaan takut dan tertekan yang dialami turun temurun karena peristiwa kudeta di jaman Kerajaan Mataram dulu. Orang terkudeta yang lari ke daerahku itu selalu dibayangi ketakutan bahwa prajurit si pengkudeta senantiasa berjaga di balik lingkar pegunungan, menanti kami keluar dan siap menghabisi. Hingga akhirnya si terkudeta dan para pengikutnya memilih untuk tidak pernah keluar dari lingkar pegunungan ini dan melarang anak-anaknya untuk merantau terlalu jauh.

Ketakutan itu ditanam dan tertanamkan turun temurun generasi demi generasi, menjadi ketakutan yang terwariskan.

Ada bukti sejarah yang mengatakan bahwa si terkudeta itu memang lari ke daerah kami, kemudian mengirimkan teliksandinya untuk selalu mengawasi gerak-gerik kami. Tapi tak pernah ada spekulasi tafsir sejarah yang membahas sampai sedetail itu.

Seandainya aku grusa-grusu menelan mentah-mentah spekulasi Ibuku, mungkin aku akan membenci leluhurku, orang-orang yang telah membawa kami –keturunannya- terlahir di tanah ini. Menyalahkan mereka dan mengecam keputusan mereka yang membuat kehidupan kami seperti ini.

Dan lagu erek erek kambil endhek itu, harus dihapus sebersih-bersihnya dari ingatan sejarah. Tak boleh lagi ada yang tahu, apalagi mengajarkan itu.
***

Lelaki muda itu tercenung. Sorot matanya layu, sendu, sesendu hutan yang tak bersedia tertembus sinar surya.

“Jika engkau sudah sampai di lingkaran gunung yang dibelah rawa di salah satu sisinya, masuklah dengan mendaki salah satu gunung. Di baliknya, itulah tempat yang kalian tuju.”

Kata-kata itu terus saja terngiang.
Ya, akhirnya Raden Pancanaka memilih untuk tinggal dan menyambut kedatangan prajurit utusan Raden Balungan. Sedang lelaki muda itu, ia diutus untuk mengungsikan penduduk perdikan ke tanah di timur sana, tempat yang dikatakan Raden Pancanaka lebih menjanjikan keamanan.

Sang junjungan memang berjanji untuk segera menyusul rombongan penduduk. Namun lelaki muda itu gelisah, semua orang yang dekat dengan Raden Balungan pasti mengerti bahwa bukan wataknya untuk mengampuni orang yang dianggap mengancam kuasanya.

Ia tak yakin Raden Pancanaka akan menyusul.
Ia sudah tahu mengapa Raden Pancanaka memilih untuk tinggal. Ya, junjungannya itu pasti berfikiran bahwa tetap tinggal akan membuat pengungsian penduduk perdikan lepas dari incaran prajurit saudara tirinya itu.

Pandangannya tak lepas dari bocah kecil yang berjalan di depannya. Raut mudanya sama sekali tak menampakkan kekalutan akan perpisahan dengan ayah bundanya.

Ah, Raden Trijata, betapa bersahajanya engkau, desis sang pria muda. Seandainya Raden Balungan tahu bahwa putra tunggal Raden Pancanaka ini ada bersama kami, pengorbanan ayahanda dan ibundamu mungkin tak berarti apa-apa. Dia takkan lepaskan.

“Paman Panca, lihat batu itu?”
Pandangan pria muda itu beralih, pada sesuatu yang ditunjuk jari-jari mungil Trijata.

“Mengapa di sekeliling batu itu berkabut, Paman?” Trijata menarik-narik tangannya.

Kening lelaki muda itu berkerut. Pegunungan memang dingin. Tapi hari masih sore, dan pastinya tak terlalu dingin hingga membentuk kabut putih tebal. Diikutinya Trijata yang berjalan ke sana.

Semakin dekat, lapisan kabut itu semakin tipis. Pepohonan di baliknya tampak jarang. Padahal hutan ini, yang di lereng gunung ini, seharusnya pepohonannya lebat.

Sesosok tubuh samar-samar mendekat dari kejauhan. Lalu berhenti. Trijata dan sang pria muda, melangkah lebih jauh dalam kabut.

Bayangan itu mengitari batu, melewati mereka. Sikapnya seolah-olah tak sadar pada kehadiran dua orang itu.

“Paman, kenapa dia tak menoleh pada kita?” Trijata menarik tangan si lelaki muda.
“Hamba tidak tahu Raden.”

Tanpa menunggu si lelaki muda, Trijata mendekat. Lebih dekat, sampai seonggok batu hitam berbentuk perahu menghalangi langkahnya. Diulurkannya tangannya melewati atas batu itu, berupaya meraih bayangan yang kemudian tampak sebagai sosok perempuan. Tapi sosok itu malah diam, tak bergerak. Si lelaki muda yang ikut merasakan keanehan turut mengulurkan tangan.

Sosok itu masih terpaku. Matanya menyipit, hingga satu sentakan membuatnya terjengkang ke belakang.
***

Untuk kesekian kalinya aku memandangi batu hitam itu dari kejauhan. Batu hitam yang sama dengan batu hitam yang kulihat lima tahun lalu, juga masih di tempat yang sama. Tak berpindah. Hanya saja, sekelilingnya tak lagi ditumbuhi pohon jati yang sering menyumbang bentol-bentol di kulitku saat musim ulat. Tergantikan dengan tanah meranggas yang jadi jalan bagi si mobil pribadi menuju garasi.

Untungnya, garasi untuk mobil pribadi itu dibangun agak ke selatan. Sehingga hobiku memandanginya itu tak terhalang.

Ah, sudah bertahun-tahun rupanya sejak pikiran tentang batu itu pertama kali muncul. Bertahun-tahun pula kubiarkan terbenam di satu sudut tersembunyi di dalam rongga otakku, karena tak pernah kucari jawabannya. Tentang alasannya, aku sendiri juga tak tahu. Padahal jaraknya hanya beberapa meter dari rumahku.

Tapi, he..he..he.. Sepertinya aku salah satu korban cerita ibu temanku waktu dulu.
Fiuh, batu ya batu. Tak lebih dari itu.

Sekarang aku sudah dewasa. Sudah lebih banyak belajar tentang masyarakatku. Dan yang harus kuyakini : batu ya batu. Tak lebih dari itu. Meskipun dinamai Watu Prahu, batu berlian, batu akik, terserahlah. Kecuali sebuah kenyataan bahwa batu juga ciptaan Tuhan yang menjadi bagian dari alam. Jin penunggu atau apapun sejenis itu, juga makhluk Tuhan. Punya alamnya masing-masing. Percayalah, mereka tidak akan mengganggu selama kita tak mengganggu.

“Dongeng biar saja jadi dongeng. Tak usah dipikirkan. Orang modern kok percaya begituan.”

Yap, benar sekali. Kukenakan alas kaki, kemudian melangkah mantap –sebenarnya ragu, tapi sedikit saja- ke arah batu itu.

Batu itu tinggal berjarak satu meter dariku.
“Lihat, sama dengan batu-batu lainnya. Aku malah tak tahu dilihat darimana batu ini sehingga disebut-sebut berbentuk perahu,” desisku agak keras.

Kukelilingi batu itu, kuamati pelan-pelan tanpa menyentuh. Tak berubah. Hanya kelihatan lebih kecil. Mungkin terkikis air, hujan, panas, atau segala macam proses alam yang terjadi secara terus menerus. Aku jongkok, kuraba permukaanmu. Halus seperti dulu. Aku berdiri lagi.

“Lihat baik-baik sekali lagi, Lia. Tak ada apa-apa. Orang-orang dewasa saat kau kecil dulu hanya menciptakan mitos supaya anak-anaknya tak keluyuran keluar masuk hutan tanpa ditemani orang dewasa. Oke, finish. Sekarang, out.”

Mentari menjelma oranye di barat sana. Aku hampir berbalik ketika kusadari sesuatu yang agak aneh. Ada kabut tipis.

Pohon-pohon di belakang batu itu menjadi lebih besar, lebih teduh, lebih rapat. Tampak dua bayangan samar manusia di antara kabut.

Kukucek-kucek mataku. Bayangan dua orang itu makin jelas. Berjalan ke arahku. Kukucek mataku sekali lagi. Tak berubah, mereka masih disana.

Seorang pria muda dan anak kecil seumuran adik bungsuku. Si anak tersenyum, lalu mengulurkan tangan mungilnya. Kulihat pria muda yang berdiri di belakang anak itu. Keningnya berkerut. Sedikit keterkejutan terpancar di wajahnya.

Di tengah kebingunganku, samar-samar kudengar anak kecil itu bicara. Aku tak paham yang dikatakannya. Entah karena degub jantungku yang tak karuan, atau ketakutanku yang memuncak. Hanya satu kata yang sempat singgah di telingaku.

”…..Trijata…”
Tangan anak lelaki itu masih terulur, seakan menungguku menyambutnya. Dan aku, tubuhku kaku. Lidahku kelu.

Pria muda itu diam. Lalu menyentuh pundak si anak. Kelihatannya ia juga bicara, namun tak tertangkap telingaku.

Aku betul-betul panik ketika sayup-sayup terdengar seseorang melantunkan lagu yang dulu kerapkali didendangkan oleh kakekku. Bersahutan.

Kutho Trenggalek, Kutho Trenggalek
Kinubengan gunung-gunung,
Tepung gelang bumine
………………………………………….

Mentari makin oranye, namun kabut semakin tipis.
***

Malang, 4 Mei 2008

Kekuasaan, Bahasa, dan Kebudayaan Jawa

Muhammad Qodari
http://majalah.tempointeraktif.com/
Kuasa-Kata: Jelajah Budaya-Budaya Politik di Indonesia
Penulis : Benedict R. O’G. Anderson
Penerjemah : Revianto Budi Santosa
Penerbit : Mata Bangsa, 2000, viii + 634 halaman

BENEDICT R. O’Gorman Anderson adalah murid yang lebih besar dari gurunya. Memang tidak jelas betul apakah Soemarsaid Moertono, penulis buku Negara dan Bina-Negara di Jawa Masa Lampau, memang pernah mengajar Ben—nama panggilan Anderson—di tahun 1964, ketika Moertono menyelesaikan bukunya yang semula adalah tesis di Universitas Cornell. Yang pasti, Moertono memberi kredit kepada Ben muda, yang dalam ucapan terima kasih ia sebut “telah membaca, membaca ulang, memberi komentar, dan mengetik, dan mengetik ulang naskah tesis-nya” tersebut.

Dapat diperkirakan, selain kunjungan pertamanya ke Indonesia pada 1961-1964 yang ia rasakan “Indonesia saat itu pada dasarnya Jawa”, Ben Anderson mendapat wawasan dan ilham soal pengaruh budaya Jawa dalam politik Indonesia dari Moertono. Dan dia kemudian menulis The Idea of Power in Javanese Culture, sebuah tulisan yang disebut R. William Liddle sebagai karya paling orisinal dalam literatur politik Indonesia.

Di sini, bersama karya-karya lainnya, khususnya yang menyelami budaya Jawa dalam hubungannya dengan politik Indonesia, Ben menjadi lebih besar dari Moertono, Claire Holt, Prof. Poerbatjaraka, dan Pak Kodrat—orang-orang yang memperkenalkan kebudayaan Jawa, yang semula asing kepadanya.

Kini, bila membicarakan relasi kebudayaan Jawa dan politik Indonesia, nyaris setiap penulis dan pengamat politik Indonesia selalu menyitir namanya. Buku Ben berjudul Kuasa-Kata: Jelajah Budaya-Budaya Politik di Indonesia, yang diterjemahkan dari Language and Power: Exploring Political Cultures in Indonesia, yang pertama kali terbit pada tahun 1990, dapat dikatakan berisi kumpulan karya-karya tulis Ben Anderson yang paling mencerminkan, sekaligus menyebabkan ia dikenal sebagai salah satu Indonesianis terbesar sampai saat ini.

Di luar karya-karya monumental seperti The Pemuda Revolution: Indonesian Politics 1945-1946 dan Imagined Communities: Reflections on the Origins and Spread of Nationalism, buku Kuasa-Kata mencirikan pendekatan khas budaya, yang membuat analisis sosial-politik Ben menjadi lain daripada yang lain.

Pendekatan budaya tersebut terlihat dari isi buku Kuasa-Kata ini. Dengan pengecualian Bab III, Negara Lama, Masyarakat Baru: Orde Baru Indonesia dalam Perbandingan Perspektif Kesejarahan, yang menurut Vedi R. Hadiz (1992) ditulis dengan pendekatan “struktural” non-Marxis ala Barrington Moore atau Theda Skocpol, hampir semua analisis Ben tentang dinamika politik di Indonesia, dari zaman kerajaan Jawa sampai Orde Baru, ditelusuri lewat bahasa dan penjelajahan artifak-artifak budaya lainnya, seperti babat, kartun, dan monumen nasional.

Secara keseluruhan, buku tebal ini terdiri dari delapan bab, ditambah satu bab pengantar panjang yang menceritakan “autobiografi intelektual” Ben semenjak ia masih menjadi mahasiswa sastra klasik di Universitas Cambridge, Inggris, sampai akhirnya menjadi seorang ahli politik tentang Indonesia.

Bagian pertama buku ini terdiri dari tiga esai tentang kekuasaan. Esei pertama, Gagasan tentang Kuasa dalam Budaya Jawa, menunjukkan “rasionalisme” atau lebih tepatnya “sistematika” kekuasaan dalam pemikiran tradisional Jawa, yang kontras dengan “rasionalisme” konsep kekuasaan masyarakat Barat.

Konsep kekuasaan Jawa, dengan demikian, harus dipahami dengan cara yang berbeda dengan kita memahami kekuasaan melalui “lensa” Barat. Argumen lain tulisan ini, yang bertentangan dengan harapan orang saat itu bahwasanya kekuasaan Soeharto akan pragmatis dan rasional, adalah bahwa Soeharto sebetulnya mempraktekkan banyak konsepsi kekuasaan Jawa yang dipraktekkan oleh orang yang digulingkannya (Tak mengherankan, dalam terjemahan pertama naskah ini pada buku yang diedit Miriam Budiardjo pada tahun 1984, semua acuan yang menunjukkan kesinambungan ini disensor agar bisa terbit.)

Bagian kedua buku ini dipublikasikan pada tahun 1966, 1978, dan 1984, difokuskan pada relasi antara bahasa Jawa dan bahasa Indonesia dan politik. Esai pertama, Bahasa-Bahasa Politik Indonesia, juga merupakan tulisan yang tak kalah terkenalnya dengan Gagasan Kuasa. Sebab, ia menjadi tulisan pertama yang menyelidiki perkembangan bahasa Indonesia modern dari sudut klasik.

Sementara dalam Gagasan Kuasa Ben membahas persistensi kekuasaan Jawa tradisional dan pengaruhnya terhadap kehidupan politik kontemporer, dalam Bahasa Politik Ben membahas signifikansi politik dari pengaruh semacam proses “Jawanisasi” bahasa Indonesia, dalam arti yang psikologis.

Bahasa Indonesia yang revolusioner dan egaliter makin tergusur oleh proses Jawanisasi, yang membuatnya “lamban” dan hirarkis. Esai Kartun dan Monumen: Evolusi Komunikasi Politik di Bawah Orde Baru merupakan hasil pengamatan Ben terhadap direct speech dan symbolic speech. Kedua jenis speech itu memperlihatkan kelunturan semangat revolusi Indonesia, sekaligus tanda-tanda refeodalisasi dalam mentalitas masyarakat Indonesia.

Ilham tulisan ini sebetulnya dihasilkan Ben secara “tidak sengaja”. Akibat tulisannya bersama Ruth McVey, A Preliminary Analysis of the October 1, 1965, Coup in Indonesia, pemerintah Orde Baru melarang Ben mewawancarai aktor politik Indonesia. Untuk mengisi waktu, Ben berjalan berkeliling Kota Jakarta, melihat-lihat monumen, membaca koran dan komik, dan menonton film, yang malah menjadi materi analisisnya.

Penggunaan serat, suluk, novel, biografi, dan teks lainnya ini pulalah yang dilakukan Ben pada esainya yang ketiga, Sembah-Sumpah: Politik Bahasa dan Kebudayaan Jawa. Lewat penelusuran teks kuno dan kontemporer, Ben menunjukkan krisis kebudayaan Jawa dan kontradiksi yang membuncah di dalamnya.

Bagian ketiga dari Kuasa-Kata terdiri dari dua esai, yang oleh Ben disebut “eksperimental”. Keduanya mencoba menerangkan dan memahami perubahan besar dari alam kesadaran kaum intelektual Jawa, dari akhir abad ke-18 sampai dasawarsa pertama abad ke-20.

Esai pertama, yang Ben anggap sebagai karyanya yang paling berhasil dalam antologi ini, merupakan semacam “pembedahan” Ben terhadap biografi yang ditulis secara tidak biasa oleh tokoh pergerakan berkebangsaan Jawa terkemuka Indonesia, Dr. Soetomo. Ben menunjukkan “keterputusan”—dan karenanya tarik-menarik—antara diri Dr. Soetomo dan para leluhurnya dan antara semangat nasionalisme Indonesia dan akar ke-Jawa-annya.

Ben sangat kagum pada Dr. Soetomo, sosok yang menurut dia tidak hanya “lovely man”, tapi juga begitu altruistis kepada rakyat, orang-orang yang menjadi pengikutnya. Dalam esai kedua, sebuah artikel yang belum penah dipublikasikan sebelumnya, Ben melongok ke Serat Centhini dan Suluk Gatholoco, dua karya yang klasik karena keduanya—meminjam definisi Mark Twain—memenuhi kriteria “something that everybody wants to have read and nobody wants to read”.

Ben memperlakukan dua buku tembang tersebut bukan sebagai karya seni ataupun sebagai bukti peristiwa sejarah, melainkan sebagai “phantasmagoria”—imajinasi liar—yakni imaji-imaji politik sebelum istilah “politik” itu sendiri memasuki kosakata bahasa Jawa, dan fantasi tentang kelas sebelum kesadaran tentang kelas dikenal oleh masyarakat Jawa.

Menurut Ben, kedua naskah ini dengan demikian dapat dipahami sebagai cara “subversi” sekelompok intelektual Jawa abad ke-19 untuk merespons keruntuhan kepemimpinan oligarkis Jawa dan penyerahan tuntas Pulau Jawa kepada penguasa kolonial.

Karena analisisnya yang kerap keluar dari—bahkan menantang—konvensi yang umum, Ben Anderson tak jarang menuai kritik ilmuwan lain. Kritik pada level teoretis, misalnya, dilontarkan oleh Koentjaraningrat (1984), yang menolak konsepsi kekuasaan Jawa sebagaimana disimpulkan oleh Ben.

Bila diringkas, Koentjaraningrat, bapak antropologi Indonesia, pertama-tama menolak penggunaan bahan cerita, upacara, dan ujaran orang Jawa untuk menyimpulkan konsepsi kekuasaan Jawa yang sesungguhnya. Dalam kalimat Koentjaraningrat, “Anderson tidak cukup mengenal orang Jawa apabila ia mengira bahwa mereka juga menganggap apa yang ada dalam cerita-cerita itu merupakan realitas.”

Koentjaraningrat secara tidak langsung juga menyanggah kesimpulan partikularitas konsep kekuasaan Jawa dengan menguraikan komponen kekuasaan serta syarat-syarat kepemimpinan dalam tiga kerangka komparatif: masyarakat kecil dan sedang, masyarakat tradisional, dan masyarakat masa kini.

Koentjaraningrat juga mengkritik penekanan Ben, yang terlalu besar pada satu komponen kekuasaan Jawa: “kesaktian”. Kritik yang lebih praktis terletak pada implikasi gagasan “konsep kekuasaan Jawa”, yang seperti diargumentasikan Ben harus dipahami berbeda dengan konsep yang dipahami masyarakat Barat.

Ben, yang sesungguhnya berwatak revolusioner dan anti-status quo, dengan gagasannya itu secara tidak diinginkan terjebak dalam “pembelaan” terhadap rezim Orde Baru, yang dianggap banyak memiliki paralelisme dengan kerajaan-kerajaan Jawa Kuno.

Partikularisme konsep kekuasaan Jawa yang diterapkan Soeharto menjadi tameng untuk menangkis kritik-kritik politik yang dilontarkan, terutama oleh pihak luar, yang dinilai oleh pemerintah Orde Baru sebagai terkontaminasi budaya Barat.

Ben Anderson, yang semenjak 1972 selama 26 tahun dilarang rezim Orde Baru berkunjung ke Indonesia, secara paradoks “membela” musuhnya itu. Kritik berikutnya ditujukan bukan pada Ben Anderson, melainkan pada penerjemahan buku ini.

Menurut saya, hasil terjemahannya termasuk lumayan, tapi masih jauh dari elastis. Bandingkan terjemahan bab The Idea of Power in Javanese Culture di buku ini dengan terjemahan Samekto dan A. Rahman Zainuddin dalam buku Aneka Pemikiran tentang Kuasa dan Wibawa, yang diedit Miriam Budiardjo. Terjemahan Samekto dan Rahman Zainuddin lebih enak dibaca.

Pembaca berkemampuan bahasa Inggris memadai akan lebih cepat memahami maksud kalimat Ben lewat teks bahasa aslinya (bandingkan dengan kita menonton film dengan subtitling yang bagus—maksud yang juga ingin dicapai dengan proyek penerjemahan buku).

Terlepas dari kesulitan mengalihbahasakan teks-teks Ben yang prosais, terjemahan buku ini terasa alot di kerongkongan. Memang, inilah problem umum yang menjadi kerikil (besar?) di tengah naiknya gairah penerjemahan dan penerbitan buku akhir-akhir ini.

Seksualitas dan Lokalitas

Judul buku : Bulan Celurit Api
Penulis : Benny Arnas
Penerbit : Koekoesan, Oktober 2010
Tebal : 130 hlm.
Peresensi : Arman A.Z.
http://www.lampungpost.com/

DUA tahun terakhir, ranah cerpen Indonesia dihiasi nama Benny Arnas. Nyaris tiap minggu karya-karya cerpenis muda Lubuklinggau ini muncul di media massa nasional dan daerah. Ada beberapa pemantik yang membuat cerpen-cerpennya memikat perhatian penikmat sastra Indonesia: penulis berasal dari daerah yang selama ini seperti sayup-sayup sampai dari geliat sastra, banyak pengamat dan penikmat cerpen menilai karya-karyanya mengekspos lokalitas Lubuklinggau, selain itu diksi dan gaya bahasa yang segar-unik membuat cerpen-cerpen Benny berbeda dari penulis seangkatannya.

Menjelang akhir tahun 2010, Penerbit Koekoesan menerbitkan kumpulan cerpen Benny, bertajuk Bulan Celurit Api (BCA). BCA menjadi alternatif segar perihal lokalitas dalam sastra. Sejumlah cerpen dalam buku ini menjadi pintu masuk untuk menengok dinamika sosio-kultural Lubuklinggau. Mungkin cerpen-cerpen ala Benny sepintas mengingatkan pada cerpen bernapaskan lokalitas daerah lain yang duluan familiar, seperti Minangkabau atau Jawa.

Secara subyektif saya mencoba mencari benang merah dari BCA. Di balik lokalitas, diksi yang bernas, dan simbol-simbol kultural, ternyata ada ihwal purba yang disusupkan: seksualitas. Jika hendak lebih gamblang lagi: pra-pasca senggama. Sebelas dari 13 cerpen menukil atau bahkan membahas proses pra-pasca senggama, dengan kode-kode yang serupa tapi tak sama.

Cerpen pembuka Bulan Celurit Api, mengisahkan Mak Muna yang enam anaknya gagal dalam strata sosial (tak ada yang menjadi orang), hingga dipergokinya gadis tua yang selalu menemaninya (Iyut) sedang bercinta dengan pria hidung belang (Rusli) di semak dekat tempat pesta yang rusuh. Dalam cerpen Percakapan Pengantin; sepasang suami istri yang sama-sama bisu dan baru menikah, hilang secara misterius usai menikmati malam pengantin. Kemudian Malam Rajam; arwah pembantu balas dendam pada anak majikan yang telah merudapaksanya. Peristiwa itu terjadi usai anak majikan menikmati malam pengantin. Lagi, cerpen ®Dilarang Meminang Gadis Berkereta Unta; wanita yang ditalak usai malam pengantin karena ketahuan tak perawan lagi, padahal perawannya hilang lantaran jatuh dari sepeda. Keluarga pengantin pria langsung memutuskan hubungan anaknya keesokan harinya. Lagi, dalam cerpen Anak Ibu; tentang sederet petuah ibu kepada anaknya; yang di ujung cerita ternyata tak jelas siapa bapak biologis anak itu. Juga dalam cerpen Sajak-sajak yang Mengantarmu Pulang yang agak berbau urban.

Puncak asumsi saya ada di cerpen terakhir Perkawinan tanpa Kelamin. Mengisahkan pernikahan pria dan wanita, yang masing-masing memiliki kelainan orientasi seksual. Pernikahan itu semu, demi menutupi fakta mereka penyuka sesama jenis. Warga pun menghakimi pasangan tersebut. Ihwal yang notabene masih tabu di kampung dan hanya lazim ditemui di kota-kota besar, ternyata sudah merangsek hingga ke kampung-kampung.

Dua cerpen yang mengangkat khazanah lokal Lubuklinggau adalah Bujang Kurap dan Kembang Tanjung Kelopak Tujuh. Kedua legenda dan mitos yang sudah familiar di Lubuklinggau, menjadi input wawasan bagi masyarakat yang masih asing dengan kota itu.

Lokalitas dalam sastra tak melulu identik dengan lokus atau posisi geografis suatu daerah. Akan lebih menarik jika lokalitas dalam sastra diapresiasi lewat perspektif lain, misalnya antropologi atau sosiologi. Terhadap BCA, mungkin juga dibahas lewat kajian feminisme, karena banyak ihwal diskriminasi gender di dalamnya (virginitas dan hak-hak sosial ekonomi perempuan). Melalui perspektif lain inilah sedikit banyak kita bisa mengetahui dinamika sosio-kultral di balik teks cerpen yang berlatar suatu daerah.

Harus diakui Benny mengetam cerpennya dengan detail. Pembaca mungkin akan terkecoh dengan perangkap kejutan yang disisipkan dalam sejumlah cerpen. Bukan sesuatu yang harus dikhawatirkan apakah Benny akan konsisten mendedah lokalitas (dan seksualitas) sebagai strategi literer cerpen-cerpennya. Ke depan, tampaknya Benny akan melebarkan energi produktif kreatifnya dengan mengeksplorasi dan menawarkan interpretasi baru terhadap ihwal sejarah. Ini bisa dipergoki dalam beberapa cerpen terbarunya. Apa pun itu, cerpen-cerpen Benny memberi warna baru dalam khazanah cerpen mutakhir Indonesia, dan BCA telah menjadi monumen awalnya. Selamat!

Arman A.Z., sastrawan

Menghormati Pengabdian Sastra

Judul : Rona Budaya: Festschrift untuk Sapardi Djoko Damono
Editor : Riris K Toha-Sarumpaet dan Melani Budianta
Penerbit : Yayasan Pustaka Obor Indonesia dan HISKI, Jakarta
Cetakan : Oktober 2010
Tebal : 360 halaman
Peresensi : Bandung Mawardi
http://www.lampungpost.com/

KERJA sastra, pengabdian diri dalam menyemai sastra, dan pergumulan menebar benih-benih sastra menjadikan Sapardi Djoko Damono sebagai ikon dalam kesusastraan modern di Indonesia. Puisi, esai, dan cerpen telah dipersembahkan. Hasil penelitian, buku-buku pembelajaran sastra, dan produksi sastra terjemahan turut memberi arti geliat sastra di masyarakat akademik. Sapardi menekuni diri dalam sastra, menyapa publik untuk merayakan sastra, dan memartabatkan negeri melalui agenda pembentukan kultur literasi.

Gairah sastra Sapardi selama puluhan tahun menjadi alasan untuk penerbitan buku mencakup pelbagai kajian dari kolega, murid, dan pengagum. Buku Rona Budaya sebagai bentuk buku persembahan ulang tahun ke-70 tahun Sapardi (1940—2010) merepresentasikan keuletan dan keluasan perspektif SDD dalam kajian sastra dan kultural di Indonesia. Dua puluh esai dalam buku ini lintas keilmuan: sastra, filsafat, perpustakaan, linguistik, arkeologi, dan sejarah. SDD di mata publik tak sekadar penyair. Sosok ini memberi inspirasi dan penyulut dari persemaian kajian keilmuan di ranah akademik dan masyarakat umum.

Riris K Toha-Sarumpaet dan Melani Budianta (editor) menyebut bahwa publikasi buku ini diniatkan sebagai tanda penghargaan pada “usaha, teladan, dan gaya” Sapardi dalam kerja sastra. Mereka pun menghendaki Sapardi terus menyulut “kegembiraan” dalam agenda membangun ilmu sastra di Indonesia. Penghormatan ditunaikan dengan pengumpulan pelbagai tulisan sebagai mozaik antusiasme Sapardi selama mengabdi sebagai penyair, esais, kritikus, penerjemah, redaktur, peneliti, dan dosen.

Donny Gahral Ardian menyuguhkan esai Tanah Tak Berjejak Para Penyair. Esai ini seolah lekat dengan proses kreatif Sapardi dalam puisi. Ardian menyebut bahwa kesunyian, kehampaan, dan keasingan adalah pengamalan purba. Pembaca lekas bakal mengingat tentang buku puisi Sapardi: DukaMu Abadi (1969). Kitab puisi ini pernah ditahbiskan oleh Goenawan Mohamad sebagai “Nyanyi Sunyi” kedua, sambungan estetis dan tematis dari kepenyairan Amir Hamzah pada masa 1930-an. Lirisisme Sapardi menjelma tonggak penting dalam tradisi puisi lirik sejak 1970-an sampai hari ini. Buku itu seolah seruan untuk para penyair di Indonesia melahirkan lirik-lirik kekekalan.

Jejak-jejak kepenyairan Sapardi menciptakan jalan estetis dalam perpuisian mutakhir. Buku-buku puisi Perahu Kertas, Sihir Hujan, Mata Pisau, Akuarium, Hujan Bulan Juni, Mata Jendela, dan Kolam adalah sodoran memikat bagi publik sastra, tanda mata dari babak-babak kerja kreatif penyair.

Kepenyairan itu dianggapi M. Yoesef dengan mengurai pernyataan dari pihak Freedom Insitute saat memilih Sapardi sebagai penerima Achmad Bakrie Award 2003. Sapardi diakui telah menunjukkan “pengabdian untuk bidang (puisi) selama empat puluh tahun”. Pengabdian ini diimbuhi dengan peran Sapardi dalam “mengkristalkan dan memperbarui tradisi lirik di Indonesia”. Klaim memuncak dalam pernyataan: “Puisi SDD adalah sebuah puncak pencapaian bahasa Indonesia”. Bentuk penghargaan atas kepenyairan SDD adalah berkah dari keberimanan melahirkan, merawat, dan membesarkan puisi di negeri miskin literasi.

SDD memang identik dengan lirisisme. Hal ini menggugah Fridolin Ukur untuk memerkarakan kerja penerjemahan puisi-puisi klasik China oleh SDD. Lirisisme China seolah turut memberi pengaruh dari kepenyairan Sapardi selama ini. Ketertarikan Sapardi dibuktikan dengan publikasi Puisi China Klasik (1976, hasil terjemahan puisi-puisi liris China.

Harry Avelling (2010) menyebut kerja penerjemahan ala Sapardi adalah cara untuk memahami budaya lain. Sapardi (1999) justru pernah mengatakan penerjemahan sastra merupakan “kerja pengarang yang mencipta dalam batasan, kungkungan, dan ikatan yang berasal dari karya yang diterjemahkannya”. Kerja ini memang menegangkan, dilematis, dan berisiko.

Penghormatan atas pengabdian sastra juga ditunjukkan Wahyu Wibowo. Sapardi bagi Wahyu Wibowo adalah keniscayaan antologis. Klaim atas relasi intim Sapardi dan puisi: “Ibarat melihat hubungan Sapardi dan sepatu sandalnya, keniscayaan ontologis menjadikan diri Sapardi dan sajak-sajak liriknya saling bergantung. Sapardi adalah sajak lirik dan sajak lirik adalah Sapardi.”

Esai persembahan ini melengkapi dari hasil penelitian Model Waktu dalam Perahu Kertas Sapardi Djoko Damono (1991). Sapardi memang pantas mendapati penghormatan tanpa harus dikultuskan dan “dibakukan”. Sapardi melalui buku ini seolah tanda mata zaman tak usai didefinisikan dan ditafsirkan. Begitu.

*) Pengelola Jagat Abjad Solo

Tujuh Kritik A. Teeuw

MEMBACA DAN MENILAI SASTRA
Oleh: A. Teeuw
Penerbit: PT Gramedia, Jakarta, 1983,
141 halaman.
Peresensi : Sapardi Djoko Damono
http://majalah.tempointeraktif.com/

BUKU ini merupakan rampai tujuh karangan yang ditulis Prof. Dr. A. Teeuw, antara tahun 1964 dan 1980. Sehingga, “Teeuw yang dalam tahun 1964 menulis mengenai Hang Tuah pasti cukup berbeda orangnya dengan Teeuw yang dalam tahun 1980 menulis tentang Chairil Anwar dan Amir Hamzah,” tulis Teeuw dalam kata pengantar kumpulan karangannya itu.

Ia benar. Apalagi kalau kita bandingkan buku ini dengan Pokok dan Tokoh dalam Kesusastraan Indonesia Modern yang terbit pada tahun 1952 dan 1955. Tapi, di samping menunjukkan perkembangan pemikiran yang terjadi dalam diri profesor ini, bukunya yang terbaru ini juga menunjukkan sesuatu yang tetap ada pada Teeuw: minatnya yang besar terhadap sastra Indonesia.

Dalam Pokok dan Tokoh, yang kemudian dikembangkan dan diterjemahkan menjadi Modern Indonesian Literature (1967), Teeuw memusatkan perhatiannya pada pelbagai masalah dan sastrawan di samping membicarakan beberapa karya sastra secara sekilas-sekilas.

Pembicaraan tentang karya sastra boleh dikatakan selalu tidak terlepas dari pembicaraan mengenai sastrawan. Dalam membicarakan karya-karya Pramoedya Ananta Toer, misalnya, Teeuw secara panjang lebar menyertakan riwayat hidup novelis itu seolah-olah makna yang didapat pembaca dari buku-buku Pram tidak bisa dilepaskan dari riwayat hidup si pengarang.

Pendekatan terhadap sastra semacam ini jelas tidak berlaku lagi bagi Teeuw yang menulis. Tergantung pada Kata (1980) dan Membaca dan Menilai Sastra. Keahlian dan perhatian Teeuw terhadap filologi dan linguistik jelas merupakan sumbangan penting bagi perkembangan pemikirannya.

Dalam Tergantung pada Kata, misalnya, Teeuw mempergunakan seperangkat konsep yang ‘dipinjam’ dari linguistik untuk “merebut makna” sajak-sajak yang dibicarakannya. Pembicaraan Teeuw tentang sepuluh buah sajak dalam Tergantung pada Kata menarik memang. Analisisnya teliti dan kesimpulan-kesimpulannya berarti. Namun demikian karangan dalam buku itu baru bisa dipahami secara semestinya oleh pembaca yang sudah mengenal seluk-beluk ilmu bahasa.

Karena itu, berbeda dengan Pokok dan Tokoh, lingkungan pembaca Tergantung pada Kata lebih sempit. Padahal, ditinjau dari segi peningkatan pemahaman terhadap sastra, buku ini sangat penting. Membaca dan Menilai Sastra berisi beberapa karangan Teeuw yang erat hubungannya dengan analisis yang dilakukannya dalam Tergantung pada Kata.

Beberapa karangan dalam buku terbaru ini bahkan baru bisa dipahami lebih baik apabila pembaca sudah menyimak Tergantung pada Kata. Dan, seperti halnya Tergantung pada Kata, buku yang dibicarakan ini memerlukan modal yang tidak sedikit dari pembaca dalam bidang linguistik dan kesusastraan.

Bagi pembaca Indonesia umumnya, bahkan termasuk pengajar kesusastraan di perguruan tinggi, banyak konsep dan masalah baru dalam buku ini. Yang dikerjakan Teeuw dalam kebanyakan karangannya ini sebenarnya “sederhana”: membicarakan berbagai pendekatan, teori, dan pandangan dalam ilmu sastra dalam kaitannya dengan sastra Indonesia klasik dan modern.

Namun justru yang “sederhana” itu yang menuntut banyak dari penulisnya: Teeuw harus membaca luas tentang linguistik dan ilmu sastra sebab banyak pemikiran baru di kedua bidang itu diterbitkan di mana-mana.

Minat Teeuw di bidang sastra klasik dan modern jelas-jelas tercermin dalam kumpulan karangan ini. Dalam karangan yang berjudul Studi dan Penelitian Bahasa dan Sastra Jawa Kuno di Jaman Modern, yang merupakan pidato pengukuhannya waktu menerima gelar Doctor Honoris Causa dari UI, ia menyebutkan bahwa “penelitian dan penyebaran pengetahuan mengenai bahasa Jawa Kuno dan sastranya menjadi sebuah tugas budaya yang mendesak, khasnya bagi orang cendekiawan Indonesia sekarang dan besok.”

Dalam karangan “Tentang Penghargaan dan Penafsiran Hikayat Hang Tuah”, Teeuw membuat catatan mengenai perkembangan minat beberapa ahli dan pengamat Barat terhadap hasil sastra Melayu, terutama Hikayat Hang Tuah. Ternyata sudah sejak 1726 ada pengamat Barat, namanya Francois Valentijn, yang membuat catatan mengenai hikayat yang indah itu.

Teeuw menjelaskan, ternyata banyak para ahli itu mengacaukan Hikayat Hang Tuah dengan Sejarah Melayu. Namun yang terpenting dalam karangan Teeuw mengenai hikayat ini adalah ia, berbeda dengan kebanyakan sarjana Barat yang disebut-sebutnya, berpendirian bahwa Hikayat Hang Tuah adalah karya sastra. Karena itu harus diperlakukan sebagai karya sastra — bukan sebagai catatan sejarah atau yang lain. Pendirian ini sangat ditekankannya mengingat banyaknya penelitian yang menganggap hikayat tersebut sebagai sumber sejarah.

“Multatuli dan Puisi Melayu” merupakan salah satu karangan Teeuw yang sangat menarik. Dalam karangan itu ia berusaha meyakinkan kita bahwa “Multatuli berhak mendapat tempat yang layak dalam sejarah sastra Indonesia sebaai pelopor puisi Indonesia modern.” Lepas dari benar tidaknya pandangan tersebut, karangan itu sendiri menarik karena menyuguhkan pendekatan dan cara-cara pembuktian yang njlimet.

Empat karangan lain dalam buku ini merupakan usaha Teeuw memperkenalkan pelbagai pendekatan dan teori sastra mutakhir — karya sastra Indonesia modern, terutama puisi, dijadikannya contoh atau “bahan” dalam “laboratorium”nya. Sekali lagi perlu ditekankan bahwa karangan-karangan tersebut khusus bagi kalangan yang memiliki minat sungguh-sungguh terhadap sastra, terutama kalangan akademik.

Dengan demikian kumpulan karangan ini menjadi penting bagi kalangan tersebut, sebab banyak di antara yang ingin maju mengalami hambatan bahasa. Dan Teeuw berusaha menjelaskan pelbagai pendekatan dan teori tersebut dalam bahasa Indonesia yang lancar dan cukup luwes, sekalipun di sana sini ia membiarkan kutipannya dalam bahasa asing.

Bagi pembaca yang tidak menguasai bahasa asing, kutipan-kutipan tersebut bisa memusingkan atau bahkan membuatnya merasa sangat bodoh. Ada beberapa kutipan yang dijelaskan. Lalu untuk apa kutipan itu? Beberapa kutipan merupakan terjemahan ke dalam bahasa Inggris atau Jerman dari bahasa asing lainnya.

Jelas bagi Prof. Teeuw sama sekali tidak ada kesulitan untuk menerjemahkan kutipan-kutipan itu ke dalam bahasa Indonesia demi kejelasan konsep-konsep yang diperkenalkannya kepada pembaca Indonesia. Setidaknya ada dua hal yang perlu disinggung mengenai karangan-karangan Teeuw.

Pertama, dalam “Tentang Paham dan Salah Paham dalam Membaca Puisi” Teeuw memcatat di kalangan pembaca sajak Indonesia, mengupas sajak hampir dapat disamakan dengan berfilsafat mengenai sajak. Ini erat kaitannya dengan anggapan yang tersebar luas di kalangan pembaca Indonesia bahwa sebuah sajak, sebuah karya seni, harus mempunyai amanat yang positif, dan harus memberi ajaran atau pelajaran tertentu.

Pendapat atau kesimpulan Teeuw itu tidak keliru. Dan hal tersebut tidak cuma berlaku bagi pembaca Indonesia, juga pembaca di negeri lain, tidak terkecuali pembaca di Barat. Hal kedua adalah pernyataan Teeuw bahwa “membaca dan menilai sebuah karya sastra bukanlah sesuatu yang mudah.” Pernyataan ini mendapat dukungan kuat dari segala macam pendekatan dan teori yang dijelaskan penulis. Dan pernyataan itu tentunya terbatas ditujukan kepada kalangan tertentu — orang-orang yang berusaha meningkatkan sikap ilmiah terhadap sastra.

Pernyataan Teeuw tersebut (dalam “Tentang Membaca dan Menilai Karya Sastra”) sangat tepat apabila dihubungkan dengan semacam kesimpulan (dalam “Estetik, Semiotik, dan Sejarah Sastra”) yang mengatakan bahwa sajak Chairil Anwar (“Senja di Pelabuhan Kecil”) baru mendapatkan makna penuh sebagai tanda (semiotik) dalam kontrasnya dengan hipogram sajak Amir Hamzah (“Berdiri Aku”) yang ditransformasikannya.

Analisis sajak Chairil yang tidak mempertanggungjawabkan relasi intrinsik antara dua sajak ini tidak dapat dikatakan selesai baru merupakan tahap dini. Kerepotan menghadapi sajak semacam itu tentu tidak usah dibayangkan oleh pembaca biasa. Tapi merupakan tantangan bagi para peneliti sastra untuk mengatasinya. Pada dasarnya buku Teeuw ini merupakan tantangan serupa itu.

Teeuw telah memulai usaha untuk membuka lembaran baru dalam penelitian dan kritik sastra Indonesia, dan sudah sewajarnyalah apabila para peneliti dan kritikus lain menjawabnya. Tinggal catatan kecil: di samping beberapa salah cetak (antara lain pada halaman 68, dimabuk warna ditulis diamuk warna), ada kepustakaan yang terasa mengganggu. Disertasi Soelastin Sutrisno, “Sastra dalam Ketegangan antara Tradisi dengan Pembaruan”, yang diselesaikan tahun 1979 dicantumkan dalam bibliografi karangan yang ditulis tahun 1978.***

13 Agustus 1983

“Nyai”nya Pramoedya Ananta Toer

M.D. Atmaja
http://sastra-indonesia.com/

Pramoedya Ananta Toer (PAT), seorang penulis legendaris yang menjalani kehidupan dalam perjalanan panjang dan berat, serta perjuangan yang berat juga. Dia memikul tanggung jawab sebagai agen pembeber realitas sejarah masyarakatnya. Hal ini dapat saja kita tilik, dari pandangan kepenulisan PAT yang berlandaskan pada Realisme Sosialis, yang dalam pandangan Gorki: “bahwa setiap orang harus mengetahui sejarahnya”, sehingga peran untuk mengungkapkan realitas sejarah dipikul sastrawan Realisme Sosialis.

Karya PAT secara keseluruhan berupaya meraup realitas yang terjadi dalam kehidupan masyarakatnya. Ia (karya tersebut) sebagai penggambaran hidup yang utuh, sampai-sampai Yakob Sumarjo mengatakan kalau publik akan kesulitan dalam menentukan, apakah karya PAT sebagai karya fiksi atau karya biografis. Realitas kehidupan yang mendalam, PAT gambarkan melalui karya-karyanya yang mungkin (semoga) saja ada di rak buku kita.

“Bumi Manusia” (2006) sebagai novel pertama dari Tetralogi Buru, memberikan suatu perdebatan tersendiri mengenai ranah kebudayaan. Misalnya saja, konsep mengenai “Nyai” yang muncul dalam dua pandangan berbeda, baik secara realitas maupun kisah fiksinya. Konsep ini membawa pada suatu kontradiksi pemahaman budaya, yang mungkin saja, sengaja diketengahkan penulis.

Dalam “Bumi Manusia” seorang Nyai, atau istilah Nyai mengacu sebagai produk kebudayaan pemerintah Kolonial Belanda (dan Eropa). Nyai sebagai seorang perempuan peliharaan atau sebut saja sebagai perempuan gelap yang memiliki hubungan tidak sah dengan seorang Asing (Belanda). Lihat saja, skema hidup Nyai Ontosoroh yang berperan sebagai perempuan pribumi dan menjadi gundik. Keberadaan Nyai, dalam konsep “Bumi Manusia” hampir sama dengan seorang pelacur yang mendatangkan aspek kesenangan dan pemenuhan kebutuhan akan seks.

Memang berbeda, dengan Nyai Ontosoroh yang justru menjadi penguasa di Boederij Buitenzorg milik pengusaha Belanda bernama Herman Mellema. Peran Nyai di sini memiliki tendensi yang luar biasa, sebab bagaimana seorang perempuan simpanan bisa memimpin perusahaan milik orang Belanda. Nyai Ontosoroh tidak sekedar Nyai yang diperankan. Saya membaca, di sana ada pengembanan tugas yang luar biasa penting demi kelajuan hidup perusahaan besar.

Aspek ke-Nyai-an hampir sama, apabila tidak ada hubungan pernikahan sah, maka status mereka sama dengan para selir raja Jawa. Perbedaannya, selir raja menduduki posisi terhormat dikalangan masyarakat umum, bahkan banyak dari rakyat kecil yang mengidamkan posisi tersebut. Esensi antara Nyai-nya pembesar Belanda dengan selir raja Jawa adalah sama. Lantas, apa yang membedakan diantara keduanya? Nyai di sini dapat saja dipandang sebagai suatu bagian dari sistem perbudakan bangsa Belanda pada masyarakat pribumi, seperti yang diungkapkan Nyai Ontosoroh sendiri, bahwa: “bisa saja seorang budak hidup di istana kaisar, hanya dia tinggal budak (BM, 2006: 340-341)”. Dan hal ini, sama saja dengan posisi selir raja Jawa itu sendiri.

Masyarakat Jawa, memandang fenomena “Nyai” sebagai hal yang salah karena menyimpang dan merupakan pelanggaran terhadap norma masyarakat yang berkaitan dengan prinsip moral. Akantetapi, pandangan negatif ini sepertinya tidak berlaku bagi kehidupan para selir raja Jawa. Lantas, apakah fenomena “Nyai” yang terjadi pada waktu itu karena rasa ketertarikan pembesar Hindia Belanda pada kehidupan para raja Jawa?

PAT juga menceritakan mengenai dilema Herman Mellema ketika ingin anaknya dengan Nyai Ontosoroh mendapatkan pengakuan, atas baptis dari agama Kristen. Agama tersebut menolak, karena baik Robert Mellema dan Annelies Mellema bukan anak dari pernikahan yang sah. Dengan demikian, kita melihat adanya penolakan dari agama tersebut mengenai keberadaan Nyai. Tapi sayangnya, pada masa itu ketika para pembesar Hindia Belanda memeluk agama Kristen, kenapa tidak melarang perbudakan Nyai sehingga Robert Mellema dan Annelies Mellema tidak perlu lahir?

Fenomena “Nyai”nya Pramoedya perlu mendapatkan perhatian yang lebih baik, sebab di satu pihak pribumi mengatakan kalau fenomena ini sebagai produk perbudakan Hindia Belanda di Jawa, sedang disisi lain, fenomena Nyai juga muncul dalam kehidupan para raja Jawa dengan nama selir.

“Nyai” itu sendiri muncul dikarenakan adanya suatu keadaan yang mendorong seseorang untuk menyerahkan nasib untuk menjadi Nyai atau selir untuk menjalani hubungan tanpa pernikahan. Kondisi ini bisa saja sebagai akibat dari kemiskinan atau situasi politik yang gemar memberikan upeti. Apabila ditinjau dari selirnya para raja Jawa, fenomena “Nyai” dapat dipandang sebagai salah satu bentuk penyelewengan kekuasaan dalam tingkatan sosial, politik dan budaya.

Kemudian, apakah fenomena “Nyai” masih hadir dalam lingkungan masyarakat Indonesia modern? Mari kita jawab bersama-sama. Kalau, dalam suatu konsep “Nyai” sebagai suatu pola hubungan (seks, rumah tangga) yang di dalamnya tidak terdapat pernikahan, maka pada kondisi Indonesia modern sekarang, apakah hubungan-hubungan seperti itu masih terjadi? Sebut saja, kumpul-kebo sebagai hubungan antara lelaki dan perempuan dalam satu rumah, mereka melakukan hubungan keluarga seperti suami istri namun tidak terlebih dahulu melakukan pernikahan secara agama dan hukum.

Kumpul kebo yang membudi-daya ini berasal dari mana? Apakah karena gerak kebudayaan yang diwariskan semenjak dahulu, atau karena ada pengaruh kebudayaan lain yang ikut membentuk karakter bangsa. Kumpul kebo atau bahasa menterengnya living togheter, memiliki kesamaan karakter dengan “Nyai”nya Pramoedya Ananta Toer, atau dengan selir yang berada di samping raja. Entah itu Nyai, selir, kumpul kebo, atau istilah lain masih harus ditelusur dari latar belakang yang mendasari pembentukannya. Selanjutnya, bagaimana dengan free sex anak muda sekarang? Apakah itu masuk ke dalam daftar Nyai dan Selir yang didorong faktor ekonomi, atau kegiatan anak muda sekarang menjadi genre kebudayaan yang mengacu pada kesenangan. Dan kesemua ini, mengacu pada hubungan seks.

Kembali pada konsep “Nyai”, apabila dalam khasanah Hindia Belanda yang dikemukakan Pramoedya, ada khasanah lain mengenai konsep “Nyai” ini. Khasanah yang bisa membuat kita heran, karena di dalamnya terdapat perbedaan konsep. Yaitu, masyarakat Jawa pada umumnya, memandang “Nyai” sebagai seorang perempuan yang terhormat, suci, dan menjadi pendamping atau gelar bagi perempuan bersuami yang meninggal. Hal ini sangatlah berbeda dengan konsep “Nyai” antara pandangan masyarakan Hindia Belanda dengan masyarakat Jawa. Perbedaan makna ini yang dapat membuat kita salah mengerti, sehingga tidak setiap Nyai menjadi gundik dan tidak setiap gundik mewakili “Nyai”. Kemudian, bagaimana dengan free sex, kumpul kebo dan sederet yang lainnya? Saya kira, itu tidak menjadi bahasan yang penting di sini. Atau mungkin saja, para perempuan itu ingin menjadi nyai-nyai dan para lelaki kita itu ingin menjadi tuan-tuan Belanda. Saya kira.

Bantul – Studio SDS Fictionbooks, 22 Februari 2011.

Sitok Srengenge: Puisi sebagai Pertaruhan Berbahasa

Asarpin
http://sastra-indonesia.com/

Dia menulis dengan bahasa yang sangat puitis. Barangkali inilah modal utamanya sebagai penyair—belakangan juga mencatatkan diri sebagai penulis prosa yang liris dan puitis, yang hanya bisa ditandingi oleh kejernihan bahasa prosa Nukila Amal. Terus terang, saya iri dengan kemampuan bahasa Indonesia yang dimilikinya. Bahkan, saya tak bisa menyembunyikan keterpesonaan setiap kali memukan sajak-sajaknya. Selalu ada semacam godaan untuk mengikutinya, jadi epigonnya, atau mengambilalih, atau memiuhnya. Mungkin benar kata sebagian orang: tulisan yang bagus akan selalu menggoda orang untuk jadi pencuri.

Sang mualim itu bernama Sitok Srengenge. Sebuah nama keren alias beken. Mungkin orang tuanya pernah bermimpi diberi nama seindah dan secantik lenggak-lenggok permaisuri. Atau mendapat ilham, atau diberi seorang petualang, atau apa saja. Yang jelas orang tuanya pasti tidak pernah mengira kalau anaknya akan jadi penyair. Penyair yang punya modal kata dan bahasa. Bukan menyair asal menyair.

Sebagai penyair namanya memang telah tercatat, tapi tak begitu mendapat tempat sesuai dengan kadar dan kualitas sajak-sajaknya. Apresiasi dan kritik yang dialamatkan pada puisi-puisinya sayup-sayup sampai, bahkan nyaris tenggelam oleh kehadiran ratusan penyair yang lebih muda darinya. Padahal, bila dibandingkan—bisa juga dibaca dipertandingkan—dengan kadar puitik yang dimiliki sejumlah penyair generasi 1990-an yang terlanjur ditahbis sebagai penyair kuat, belumlah seberapa dengan kadar puitik yang dimiliki penyair kita yang satu ini. Kecerdasannya merangkai kata bahasa Indonesia jadi puisi menawan hati, terhitung amat langka. Setiap kali saya membaca puisi dan prosanya, saya seperti sedang berhadapan dengan seorang jenius di lapangan kata-kata. Pilihan kata amat diperhitungkan, imajinya menawan hati, ritmenya sangat terjaga.

Saya mengenal Sitok mula-mula lewat puisi Takbir para Penyair, yang belakangan saya anggap sebagai sajak kurang menggigit bila dibandingkan dengan sajak-sajaknya yang muncul kemudian. Sebagai sebuah takbir, sudah sewajarnya jika sajak ini dimulai dengan kata “Atas nama para penyair”, yang mirip dengan bunyi slogan para demonstran: “Atas nama rakyat!”

Kekuatan Sitok rupanya bukan di situ; bukan pada kata-kata yang membahana semacam itu, apalagi sampai berpanjang-panjang seperti sajak Takbir para Penyair yang meletihkan membacanya. Kekuatan Sitok ada pada kesederhanaan ungkapan, pada kejernihan kata-kata dan metafor yang ”nirpolitik” serta tidak dibuat-buat.

Kalau puisi Takbir para Penyair adalah kredo, maka Sitok salah memilih kredo. Seharusnya ia memilih kredo Osmosa Asal Mula yang bicara ihwal persenyawaan yang mantap, atau sajak Elegi Dorolegi. Sajak Obituari Bulan juga lumayan bagus. Sajak ini dibuka dengan kisahan atau sebuah penceritaan tentang seorang bocah di Jawa, entah biografis sifatnya, atau potret dari suasana kampung halaman. “Anakku tidur menduga-duga bulan/dan di kelas matanya masih menyimpan malam/ketika ibu guru mengajari matahari/anakku lalu menggambar cakrawala, lautan/perahu layar tanpa nakhoda, dan/rok ibu guru dipermainkan ombak pasang/Ibu gurunya dimakna ikan”.

Sajak ini sangat lucu, dan membuat saya ingin tertawa. Rupanya Sitok bisa juga menulis sajak humor yang kena. Tapi bukan macam ini juga sajak Sitok yang menurutku termasuk yang tercantik dan terindah. Namun sajak yang bagaimana, tunggu dulu dan bersabar, saya ingin mengutip sajak Teluh Lanang yang agak merayu dulu. “Ketika kuntum cinta rekah di hati perempuan/dan suara geliat kelopaknya menjadi kata-kata/meluncur ke arah lelaki/sesungguhnya telah dicipta telaga di rahimnya/ditumbuhi buluh-bulu sepi”.

***

Sitok mempesona saya karena kepiawaiannya menghadirkan gersik kata-kata yang bisa menggoda kediam-dirian. Sajak-sajaknya di bawah ini, semuanya menggunakan bahasa yang indah dan nyaris tak ada bahasa yang sia-sia, apalagi sampai cacat. Semuanya penuh perhitungan dan ketelitian. Kadang sangat hemat kata, tapi kadang pula mengurai panjang menyusuri kelokan, mirip aliran sungai yang menyusuri tebing dan bebatuan.

Taak banyak penyair yang lihai serta piawai menghadirkan frase puitik, seperti “penyair terlunta dikutuk kata” dalam sajak Sonet Situmorang. Kata-katanya khidmat dan jauh dari bahana. Iramanya tenang namun bisa menggelembung bagai aliran pasir yang dibawa bandang. Perhatikan susun larik-larinya, atau cerna alunan irama dan pilihan katanya yang cerdas.

Malam dingin yang kesepian turun berjingkat dari Eiffel,
seakan ingin cari teman dan menghayati hangat mantel
Seusai risau mondar-mandir di bawah gedung tua
dia dekap kau, penyair terlunta dikutuk kata

Lidahnya lembut
menelusup ke lekuk-lekuk kulit kisut
Jantungmu bagai diremas gairah,
gelembung masa lalu membuncah di sungai sejarah

Berkemaslah, sebelum maut
sembari kenang pohon renah berlumut
yang kau titi melintas jurang
di belantara rimba nenek moyang

Dari dulu Seine mengalir, mengairi akar anemun dan angkuli
Kau pun tahu, tanah air tak sekedar gurun dan melankoli

Sekalipun bicara soal mitologi, elegi dan tragedi, sajak-sajaknya tidak jatuh jadi klise. Sitok memang banyak menimba mitologi Jawa dan tembang pesisiran dan lagu dolanan anak kecil di Jawa. Tapi tidak hanya Jawa dunianya, terbukti ia juga menulis sajak dengan tokoh dunia.

Tapi saying Sitok tak selamanya terpesona pada hal-hal kecil yang remeh. Ada beberapa puisinya dengan judul besar dari tokoh besar. Bagaimana penyair ini menafsirkan sosok Prometheus hingga terasa tidak akrab bahkan bagi orang yang sudah lama tahu tentang tokoh ini. Prometheus dalam tafsiran Sitok tentu berbeda dengan tafsiran Wiratmo Soekito. Prometheus dalam puisi Sitok lebih sunyi dan tidak sok cerdas, mengalami nasib yang tidak bebas sehingga memunculkan solidaritas dari aku. Tokoh mitologi ini dilukiskan sebagai sosok yang menyeru zaman baru dengan pengorbanan yang berdarah-darah.

Prometheus

Dengan rasa sakit yang sama, Prometheus,
aku pun diberangus,
Ketika kugenggam api
kehangatan beranjak
dan buku-buku jari
yang gemetar meraut sajak Baca! Dan akan kudengar rintih
pra penghuni generi laut yang air matanya buih

Ini kali, kali-kali berhasrat merasai lagi
geletar arus dalam nadi,
berbukit menggigil dalam sepi
rindu hangat tubuh lelaki
Kelak, kata-kataku akan menetas
di tebing-tebing cadas
Baca! Dan barangkali kau tak lagi bertanya:
hati siapa diresapi cahaya

Langit berkelepak
mengirim jerit selaksa gagak
Amarah menderu bagai Guntur
jatuh tercurah hujan sangkur
melukai kalbu yang menyeru zaman baru
darahnya mengalir ke dalam sajakku

Bahasa yang digunakan Sitok sangat berbahaya karena sangat bagus, tapi pilihan judul itu memperlihatkan semangat intelektualisme. Pilihan kata dan diksi tidak asal-asalan, melainkan penuh perhitungan. Pada titik ini, atau dalam sajak tadi, Sitok menghadirkan kekayaan kosakata bahasa Indonesia yang telah jauh lebih maju dibandingkan jaman Pujangga Baru.

Cukup banyak pembaca yang mengakui keindahan bahasa yang digunakan Sitok dalam sajak-sajaknya. Ada sebuah cerita yang menyedihkan ketika novel Saman Ayu Utami terbit. Beberapa penyair di Lampung tidak percaya kalau novel indah itu ditulis oleh Ayu. Mereka meyakini Sitok-lah yang menulisnya mengingat bahasanya dekat sekali dengan puisi-puisi Sitok.

Tentu saja hal itu meremehkan Ayu, dan sampai sekarang saya berkeyakinan Ayu Utami-lah yang menulis novel itu. Bahwa kemudian Ayu menulis novel Bilangan Fu dengan bahasa yang jelek, tema yang sudah banyak digarap, isi yang terlampau dirayakan hingga nyaris jadi novel pemikir yang garing.

Sejak buku puisi pertamanya, sudah tampak bakat Sitok. Sekarang bukan lagi bakat, tapi terlatiih menulis sajak-sajak bagus. Beberapa tema sajaknya dekat dengan pengucapan puisi Rendra, seperti sajak Rangkasbitung menarik dibandingkan dengan Orang-orang Rangkasbitung, sajak Elegi Dorolegi juga dekat dengan Rendra. Bedanya terletak pada sajak-sajak Sitor yang tidak realis, atau tidak berambisi untuk menjadi sajak sosial apalagi pamflet. Jadi kesimpulannya: kedaunya beda.

Sajak Peniup Angin juga sajak cantik yang hanya bisa lahir dari Sitok. Ingin saya kutip seluruhnya, sajak ini agak panjang dan menghabiskan ruangan saja. Tapi kalau dikutip sebagian sangat saying karena bisa jadi justru yang tidak dikutip adalah yang bagus. Marilah saya kutip seluruhnya saja agar pembaca bisa kembali menyedap-nyedapkan diri dengan sajak Sitor:

Peniup Angin

Peniup angin yang kaukisahkan padaku ketika sebelum subuh
terdengar lenguh menjauh
susut- di padang-padang rumput yang menggelepar
dirambahi birahi kuda liar
telah membekaliku sehimpun getun
ke stasiun
Maka kubayangkan sekuntum kembang
rekah pada sebuah rembang petang
yang belum tersusun
yang kelak akan kautemu begitu kau terperanjat bangun,
dan akan kaupandangi pintu yang lupa kaukunci:
seseorang yang lama kaulupa telah nyelinap ke dalam mimpi Namun
kereta keburu tiba
lalu berlalu membawamu, meninggalkan duka,
sepi menggumpal di pucuk-pucuk menara
Jalanan licin menggelincirkan jejakmu ke kanal,
aku tersesat dalam labirin angan yang banal

Di angkasa salju masih tertebar di antara halimun fajar
bagai sperma dan ovum memancar
Kesunyian
bangkit dari lengang taman,
beku bangku batu, tempatku dulu menunggu kau
turun dari trem lantas bergegas penuh pukau
ke arah harum tembakau
Dari balik pohon oak,
gadis cilik berambut perak menangisi
kupu mati

Angin menghampar, menghantar
suatu senja suaramu samar, kata-kata gemetar:
Cinta bukan padang-padang yang menunggu,
melainkan kincir yang berporos di pusar kalbu,
berderak karena angin,
bergerak karena angin,
Dan kincir yang mengulirkan putting beliung lantaran kaupelintir dengan
lengking dan ruang
ketika malam padang rumput menggelepar
dan lenguh birahi kuda liar,
merekahkan sekuntum kembang
Dan sedentum kenang
Namun telah ditinggalkan bangku batu itu,
barangkali padang-padang tetap menunggu
Dari jauh kupandang kau turun dari trem, penuh pukau
coba menangkap kupu yang terbang ke harum tembakauku

Dahsyat. Cantik. Bagus. Entah istilah apalagi. Sitok memukau kita dengan sajak-sajak lirik yang berprosa, bercerita dengan warna-warni kehidupan yang mempesona. Dari mana Sitok memperoleh ilham ketika menulis puisi itu? Mungkinkah dari diskusi soal seks yang sejak 1990-an kembali bergemuruh di negeri ini? Melihat tahun sajak itu ditulis, ia sama dengan enam sajak seks Goenawan Mohamad yang cantik dan rupawan.

Masih banyak sajak Sitok yang menggoda kita untuk menjamahnya. Bila perlu bersetubuh dengan intim sebelum subuh menjelang dan fajar singkat melambai di kejauhan sebagai tanda perpisahan. Sajak yang paling mencekam saya, selain yang sudah dikutip, adalah sajak Elegi Dorologi. Agaknya saya perlu kutipkan secara utuh sajak indah yang dekat dengan dolanan anak-anak dalam sajak-sajak Rendra ini:

Di pelataran, di bawah benderang bulan,
ia bimbing anak-anak dengan dolanan dan nyanyian:
Gobak sodor, jamuran, pencari ubi, ayam hilang,
berkejaran, berjalin dengan melingkar, bergamit bahu memanjang
Di hamparan tanah lapang, di atas rerumputan,
di bawah curah cahaya bulan!

Para orang tua duduk bersila di gelaran tikar pandan,
khusuk berbincang tentang musim, hama, tanaman:
cara berdamai dengan alam yang setiap nyari
dijagai para peri,
berkarib dengan nasib, kekuatan akbar
yang bertahta di luar nalar,
demi tahu
bagaimana menggembalakan waktu,
membaca rahasia semesta
jagat kecil dan jagat besarnya,
menyatukan diri
dengan langit dan bumi
Mengurangi tidur dengan tapa, berjaga hingga malam larut:
bencana bagi yang lena, keberuntungan bagi yang siaga
menyambut

Berhadapan dengan sajak Sitok saya agak gugup. Jangan-jangan sajak itu bukannya memperjelas, malah jadi gelap karena sangat privat. Saya kekurangan bahan pengalaman untuk bisa menyelam di kedalaman irama kata-katanya, sehingga saya khawatir jangan-jangan yang akan hanyut dibuai oleh imaji-imajinya. Apalagi ketika berhadapan dengan sajak Osmosa Asal Mula, sungguh tak mudah dan bisa bercumbu dengan maknanya—karena memang ada segurat makna yang masih rahasia dan meminta untuk dikuak.

Osmosa Asal Mula

Aku bertanya kepada angin,
dari mana asalnya angan
angin menggoyangkan pucuk-pucuk daun
dan kusaksikan pohon-pohon melukis lingkaran tahun

Aku bertanya kepada pohon,
dari mana datangnya waktu,
pohon meekahkan kelopak bunga
dan kusaksikan lebah hinggap menghisap madu

Aku bertanya kepada lebah,
dari apa sel yang tumbuh jadi tubuhku,
lebah menggumam terbang ke dalam gua
dan kusaksikan kelelawar menangkap kuping di
dinding batu

Aku bertanya kepada kelelawar,
dari mana awalnya suara,
kelelawar mengepak sayap ke langit malam
dan kusaksikan embun bergulir serupa sungai

Aku bertanya kepada sungai,
dari mana sumber ai susu
sungai menjulangkan gunung
dan kusaksikan lembah bergaun kabut

Aku bertanya kepada lembah,
dari mana mulanya tabu,
lembah menyingkapkan gaun
dan kusaksikan bumi bugil menggeliat anggun

Aku bertanya kepada bumi,
siapa yang melahirkan Ibu,
bumi tersipu, tapi kudengar laut menyahut,
“Ia bersaksi atas fakta, namun tak berdaya untuk
bicara!”

Aku bertanya kepada laut,
siapa yang menampungnya,
laut menggelora, tapi kerontang
sebelum usai membilang Nama

Ingin saya berhenti sampai di sini. Menyerah. Kalah. Sebab saya kehilangan kata untuk memaknai sajak-sajak Sitok yang gaya dan bentuknya belum pernah aku temukan. Tapi sajak “Sonet, Sonya, dan Nannet” melambai-lambai memanggilku untuk menghidupinya, atau malah menikamnya sampai mampus.

Kalau ada lomba penulisan kata-kata yang indah dalam bahasa Indonesia, mungkin yang juara pertama adalah Sitok dan juara kedua Nukila Amal. Bahasa Sitok lebih menjanjikan ketimbang bahasa prosa Nukila yang membuat banyak pembaca terkesima dan takjub tak percaya. Tapi ada satu hal kekuarangan Nukila: kedalaman kata-kata. Walau pun kedalaman adalah bahasa ruang, tapi sajak-sajak Sitok tidak cetek dan dangkal. Ia tak terhalang oleh ruang, bahkan melampauinya dengan sangat berani.

Kadang saya tergoda untuk mencoba membandingkan larik-larik sajak Sitok dengan larik-larik puisi Sapardi, tapi saya urungkan karena keduanya sangat jauh berbeda. Kalau pun ada satu-dua kata dan gaya yang sama, itu lumrah saja. Bagaimana pun Sitok telah punya gaya sendiri, sudah mengantongi modal sebagai penyair, yaitu bahasa yang khusus yang tidak dipunyai penyair lain.

Bagaimana pun sebuah esai mampu menantang atau mengimbangi metafora dan personifikasi yang dihadirkan Sitok. Dan bagaimana pula mau menilai sajak Sitok jelek kalau saya terpesona, bahkan larut dalam pesona. Lalu dengan apa aku harus melanjutkan telisik yang tidak indah ini, atau yang dipaksa-paksakan agar jadi esai yang indah ini? Daripada suntuk melulu, baiklah saya kutipkan lagi satu sajak Sitok.

Engkau Ingin

Semula aku sangka kau gelombang
tapi setiap kali aku renangi
Engkau menggasing bagai angin
Peluh membuncah dan ruh dan tubuh gelisah
adalah ibadah bagi Cinta tak berjamah
Di situ, kunikmatkan teduhmu
sesekali sebelum kau berhembus pergi

Aku buru suara seruling di jauhan
yang kutemukan dedahan bergesekan
Aku termangu tertipu gerakmu
sehening batu di kedalaman rinduku

Kini aku tahu, tak perlu memburumu
Engkau hidup di dalam dan di luar diriku
–tak berjarak namun teramat jauh
teramat dekat namun tak tersentuh

Jika benar engkaulah angin itu
semauku akan kuhirup kamu
Dalam jantung yang berdegup
engkau gairah baru bagi hidup
Mengalirlah darah, mengalir
dalam urat nadi Cintaku
krenamu, Kekasihku!

Benar kata orang, tidak semua sajak bisa diterjemahkan. Tidak semua sajak mengandung makna yang pekat. Ada kalanya kita cukup menikmati ritme dan aliran bahasanya, tapi kadang perlu juga menjelajah di kedalaman hidup di dalam dan di luar dirinya agar hidup tidak mampet.

Sajak-sajak Sitok bisa cidera di tangan pembaca seperti saya. Hanya karena ada larik berbunyi “Peluh membuncah dan ruh dan tubuh gelisah”, lalu semena-mena saya katakan ini sajak persetubuhan. Karena ada kata “sehening batu di kedalaman rinduku”, lalu saya tafsirkan ini sajak tentang kerinduan kepada kekasih. Lantaran ada bunyi “Engkau menggasing bagai angin”, lalu saya terbuai dan mengatakan ini metafor yang cantik, bahkan sangat cantik. Mentang-mentang ada bisikan “engkau gairah baru bagi hidup” lalu menyebut sajak ini sebagai sajak jatuh cinta.

Tapi, sebagai pembaca, sejauh diniatkan untuk sungguh-sungguh membaca, saya kira sah-sah saja untuk bebas menafsirkan. Bukankah seorang pembaca juga seorang yang bergelut dengan kata. Kalau penyair disebut si Tukang Syair, si penafsir bisa dipanggil “Tuan, Pembaca”, kata Sitor Situmorang. Hanya dengan membaca, sebagai pembaca, laku pribadi terasa lebih menggairahkan.
__________
*) ASARPIN, lahir di dekat hilir Teluk Semangka, propinsi Lampung, 08 Januari 1975. Pernah kuliah di jurusan Perbandingan Agama IAIN Raden Intan Bandar Lampung. Setelah kuliah, bergabung dengan Urban Poor Consortium (UPC), 2002-2005. Koordinator Uplink Lampung, 2005-2007. Pada 2009 mengikuti program penulisan Mastera untuk genre Esai di Wisma Arga Mulya, 3-8 Agustus 2009. Tahun 2005 pulang lagi ke Lampung, dengan membuka cabang Urban Poor Linkage (UPLINK). Di UPLINK pernah menjabat koordinator (2005-2007). Menulis esai sudah menjadi bagian perjalanan hidup, yang bukan untuk mengelak dari kebosanan, tapi ingin memuaskan dahaga pengetahuan. Sejak 2005 hampir setiap bulan esai sastra dan keagamaan terbit di Lampung Post. Kini telah beristri Nurmilati dan satu anak Kaila Estetika. Alamat blognya: http://kailaestetika.blogspot.com/

Bryan: Kilau Emas dari Kalbar

Judul Buku : Menggambar Impian
Penulis : Pay Jarot Sujarwo
Penerbit : Borneo Tribune Press dan Pijar Publishing
Cetakan : Pertama, Januari 2011
Tebal Buku : ix+164 Halaman
Peresensi : Satmoko Budi Santoso
http://www.lampungpost.com/

DALAM kurun waktu sekitar 3 tahun terakhir, dunia perbukuan Indonesia cukup semarak dengan kehadiran buku-buku berjenis kisah sukses. Buku-buku inspiratif yang memang mampu menggedor semangat, memompa motivasi setiap orang untuk terus tumbuh dan berkembang seiring zaman yang semakin kompetitif di segala bidang.

Salah satu buku berjenis kisah sukses dan amat inspiratif tersebut menurut saya adalah buku berjudul Menggambar Impian ini. Buku ini merupakan kisah sukses pelukis cilik Bryan Jevoncia, siswa SD Suster, Pontianak, Kalimantan Barat, yang menggenggam penghargaan prestisius dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Ia muncul sebagai salah satu pemenang dalam ajang International Children Art Competition 2007. Yang menarik lagi, ia meraih penghargaan setingkat PBB tersebut di saat usianya menginjak 6,5 tahun.

Bagi anak seusia itu, meraih penghargaan selevel PBB adalah bagaikan pembuktian kemampuan personalitas yang baik. Bagai memancarkan kilau emas yang terpendam. Apalagi, kilau emas itu ternyata ada di bumi Borneo, Kalbar. Tentu saja, untuk meraih penghargaan seprestisius itu, tak mudah proses kreatif yang dijalani Bryan.

Dikisahkan di dalam buku ini, Bryan misalnya pernah bersitegang dengan pihak keluarganya, terutama mamanya, karena kesukaannya menggambar di dinding rumah. Kebiasaan yang pastilah membikin gerah orang rumah ini rupanya memang susah dikendalikan. Dalam banyak hal, orang rumah Bryan pun membaca kecenderungan kreatif yang dijalani Bryan membutuhkan semacam penanganan khusus.

Akhirnya, salah satu bentuk “penanganan khusus” itu adalah diikutkannya Bryan dalam berbagai lomba menggambar, terutama yang diselenggarakan di Kota Pontianak sebagai ibu kota Kalbar. Dari event-event lomba semacam inilah, yang tidak semuanya memunculkan Bryan sebagai pemenang, kemampuan menggambar Bryan semakin terasah. Terhitung, semenjak kecil ia rajin menggambar, barulah pada 24 Juli 2005, Bryan membawa pulang piala. Artinya, itulah piala pertama kali yang ia bawa pulang sepanjang mengikuti berbagai lomba menggambar.

Dengan piala itu, Bryan semakin termotivasi. Ketika berada di depan televisi, piala itu ditaruhnya di atas televisi. Begitu pula ketika pindah ke tempat tidur, piala itu ia bawa. Bahkan ketika makan di meja makan, nongkrong pula piala itu (hlm. 51).

Tersebab ketekunan Bryan dalam mengasah kreasi, tidak pandang bulu mengikuti event lomba yang diselenggarakan siapa pun di Pontianak, akhirnya suatu hari di tahun 2007, Rosina, Mama Bryan, mengirimkan karya Bryan dan anak-anak lainnya di Pontianak melalui internet untuk ikut serta ajang Children Art Competition yang diselenggarakan PBB itu. Peserta yang dijaring adalah berusia 6 sampai 15 tahun di seluruh dunia. Temanya Kita dapat memberantas kemiskinan. Kelak, enam karya pemenang yang muncul menjadi perangko resmi yang dikeluarkan PBB untuk tahun 2008.

Lantas, apakah penafsiran Bryan terhadap kemiskinan?

Ternyata, gambar yang diikutsertakan Bryan ke PBB adalah gambar yang tak jauh dari memori masa kecilnya. Mama Bryan adalah mantan tukang jahit. Maka, Bryan kecil suka melihat ibunya menjahit, tak jauh dari posisi ibunya menjahit, sejumlah anak (saudara dan teman-teman Bryan, mungkin?) sibuk dengan aktivitas masing-masing. Ada yang bermain boneka, membantu ibunya mengukur kain, dan sebagainya. Rupanya, tafsir visual Bryan ini cukup menggelitik para juri lomba melukis internasional itu.

Jadilah Bryan dihubungi pihak Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia yang mendapatkan surat bahwa salah satu karya warga negara Indonesia bernama Bryan Jevoncia memenangkan lomba menggambar PBB. Karya Bryan muncul bersama sejumlah nama pemenang lain, di antaranya Elisabeth Elaine Chun Ning Au dari Hong Kong, Rufaro Duri dari Zimbabwe, Mariam Marukian dari Armenia, Grace Tsang Ji Yan dari Hong Kong, dan Ranajoy Benerjee dari India. Tentu, proses pemberangkatan ke Amerika Serikat pun kemudian direncanakan. Sampai akhirnya, sepulang dari Amerika, Bryan dapat bertemu dengan Presiden Republik Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono.

Boleh jadi, kisah sukses perihal Bryan ini penting disimak oleh siapa pun orang tua. Talenta anak memang perlu dikawal dengan perhatian dan kasih sayang yang cukup, diarahkan untuk mencapai hasil yang maksimal. Bryan adalah contoh kegigihan di tengah kultur negara berkembang yang tetap dihuni oleh kemiskinan begitu mendera, dan akhirnya ia bisa memberikan kontribusi untuk membebaskan kemiskinan itu sendiri dengan kemandirian yang berakar dari keluarga. Kini, karya Bryan memang sudah dicetak dan beredar secara internasional. Persoalannya, apakah di Indonesia yang notabene merupakan negara miskin pula, kontribusi pikiran Bryan ini akan berpengaruh atau direalisasi oleh masyarakat dan didukung pemerintah? ***

*) Sastrawan, tinggal di Yogyakarta

Novel Petualangan Laki-laki Cina Karya Maxine Hong Kingston

Peresensi: Fany Chotimah
Judul Asli: China Men
Alih bahasa: Vicky Gunawan
Cetakan pertama: Mei 1982
Penerbit: IQRA-Bandung
Pencetak: PT.Al Maarif-Bandung
http://pawonsastra.blogspot.com/

Ayah, ada kalanya engkau begitu riang. “Hayo, kita bermain kapal-kapalan!” katamu.

“Akan ku buatkan kapal terbang unik bagimu”.Dan engkau menangkap seekor capung, menjepitnya di antara jarimu. Sepasang sayap binatang yang tampak bagaikan terbuat dari plastik bergetar-getar. Kepala binatang dengan mata melotot bagaikan memandangi kami.

Sekelumit kutipan diatas saya ambil dari bagian awal novel Petualangan Laki-laki Cina. Saat pertama membaca bagian awal novel ini ingatan saya dibawa ke masa kecil. Saya diingatkan kembali moment yang kurang lebih sama yang pernah dilalui seorang anak perempuan dengan sang ayah. Di satu moment si tokoh Aku sang anak yang tengah bermain-main dengan sang ayah yang sedang riang, menemukan kejanggalan sikap pada ayahnya. Menurut sang anak, sang ayah biasanya tidak senang bermain-main bersama dia dan adik-adiknya. Sang ayah lebih sering marah dan menakutkan. Akibatnya sang anak membayangkan segala sesuatu mengenai diri sang ayah dan dari sinilah kisah berawal.

Saya menikmati cara bertutur penulis yang menggunakan sudut pandang sang anak. Cerita novel ini mengalir bak dongeng petualangan yang kaya akan kisah oleh seorang anak yang memang pandai bercerita. Sesuai judulnya Petualangan Lelaki Cina merekonstruksi kisah petualangan para lelaki dari pihak ayah dimulai dari sang ayah (Baba), kakek (Ah Po), kakek buyut(Ah Goong), paman (Sam Bak), yang melakukan petualangan menuju gunung emas. Gunung emas yang dimaksud adalah Amerika dimana pada abad 18 terjadi migrasi besar-besaran orang-orang Cina berbondong-bondong pergi ke Amerika untuk bekerja mencari kekayaan demi kehidupan yang lebih baik.

Pada kenyataannya perjalanan menuju kebahagian itu tidaklah mudah, dimulai urusan administrasi memanipulasi dokumen perjalanan, biaya perjalanan yang mahal didapat dengan menjual ladang atau meminjam tetangga dengan bunga berlipat dan sumpah tak akan melupakan jasa-jasa keluarga yang mau memberi pinjaman secara turun temurun dari generasi ke generasi. Setelah tiba di Gunung Emas pun perlakuan tak manusiawi harus diterima, penipuan, pemerasan, dan segala bentuk ketidakadilan harus dialami. Sesuatu yang saya anggap romantis sekaligus miris saat dimana para lelaki petualang itu tak pernah lupa mengirim surat pada keluarga di tanah leluhur, kadang sengaja memanipulasi isi surat dengan tidak mengabarkan kondisi sebenarnya agar keluarga mereka tak perlu bersedih, mereka juga melengkapinya dengan foto diri terbaru.

Sejarah pun tak berlaku adil pada orang Cina. Pembuatan rel kereta api pertama di Sierra Nevada pekerjaan yang memakan waktu tiga tahun menembus batu granit melibatkan ribuan orang Cina, tak mengabadikan orang Cina saat peresmian jalan rel tersebut. Seperti yang dituturkan tokoh sementara siluman-siluman kulit putih sibuk memotret, orang-orang Cina sibuk meninggalkan tempat karena pengusiran telah dimulai. Ah Goong juga tidak muncul dalam potret-potret.

Begitupun dengan hukum, satu bab khusus dalam novel ini berjudul Undang-undang membahas undang-undang yang diberlakukan oleh pemerintah Amerika Serikat dengan kesepakatan Kerajaan Cina. Diantaranya pada tahun 1878 di San Fransisco ditetapkan peraturan pajak kuncir rambut, pajak cerutu, pajak sepatu, pajak penatu serta pajak penggunaan udara ditiap kediaman. Saya tidak bisa membayangkan pajak terakhir mengenai penggunaan udara bagaimana soal perhitungan tarifnya. Setiap tarikan napas berarti denda, tidak mungkin untuk menghindari pajak dengan cara tidak bernapas bukan? Saya jadi teringat penuturan guru agama saya saat SD dulu dia menganalogikan Tuhan yang pemurah dengan analogi udara yang kita hirup saja gratis tak perlu bayar (saya pikir analogi Tuhan pemurah seperti ini tidaklah tepat bahkan untuk anak SD sekalipun), itu karena Tuhan pemurah jika tidak seumur hidup manusia tidak akan sanggup membayar. Ternyata pada masa pajak itu berlaku Tuhan tak ada. Tuhan diganti manusia licik yang bisa mengklaim udara menjadi miliknya. Untunglah pajak penggunaan udara itu sudah tak berlaku lagi saat ini. Tuhan ternyata ada dan Maha Pemurah.

Lain lagi dengan kisah tentang saudara laki-laki di Vietnam, saat perang Vietnam pecah semua warga Amerika harus memenuhi panggilan dinas ketentaraan tak terkecuali orang-orang Cina Amerika. Saudara laki-laki di Vietnam yang pada awalnya bekerja sebagai guru, dengan tubuh sempurna dan tidak cacat yang tidak mungkin terbebas dari dinas ketentaraan. Dia memilih Angkatan Laut, dengan alasan tidak ingin membunuh karena pada Angkatan Udara, dia harus menjatuhkan bom yang membunuh begitu banyak manusia. Ayah (Baba) pun mendapat panggilan masuk dinas ketentaraan. Tapi Baba tak kehabisan akal untuk melepaskan diri dari perang banyak cara yang bisa dipilih dari memutuskan jari telunjuk oleh tukang jagal, meminum obat yang bisa melumpuhkan pita suara, atau minum tinta sebanyak mungkin sehingga bisa lolos dari hasil foto Rontgen. Baba memilih menguruskan badan hingga sekurus tulang dilapisi kulit dan akibatnya Baba tidak bisa gemuk hingga kapan pun.

Kisah laki-laki berusia seratus enam tahun sebagai kisah pamungkas petualangan lelaki Cina merupakan penutup yang indah. Lelaki berusia seratus enam tahun ini bekerja dikebun tebu dengan gaji empat dolar sebulan. Tugas pertama yang dilakukannya adalah membersihkan semak belukar agar tanah dapat ditanami tebu.

“Dalam waktu seratus enam tahun yang begitu panjang, bilamana dan apa yang memberikan anda perasaan bahagia yang amat besar?”. lelaki itu menjawab “Pada saat aku melihat pucuk hijau dari tanaman bersembulan keluar..”.

Betapa lelaki itu mencintai hidup.. dengan sengaja saya memilih novel ini untuk kisah buku kali ini sebagai jawaban atas pertanyaan lelaki bukan Cina yang bertanya apakah saya sudah membaca Petualangan Lelaki Cina yang saya beli darinya.

Ada bagian menggelitik membuat saya tersenyum, lalu kagum hingga terharu. Teringat motto hidup lelaki Cina Indonesia yang masih hidup sehat dan tampak bahagia hingga saat ini. Dia berprofesi sebagai pengusaha kartu ucapan ternama juga self motivator, motto hidupnya berbunyi “Jika kamu lunak pada dirimu, maka kehidupan akan keras padamu. Jika kamu keras pada dirimu maka kehidupan akan lunak padamu” jika saya tidak salah kurang lebih redaksionalnya seperti itu. Saya jadi teringat sosok ayah saya yang tak lagi muda. Saya yakin setiap kerutan di wajahnya menyimpan kisah petualangan tersendiri. Bagi saya novel Petualangan Lelaki Cina ini menjadi sangat indah karena lahir dari tangan seorang penulis perempuan.

Pengikut