Sabtu, 07 Maret 2020

Perihal Sastra Kerakyatan, Sastra Pergerakan, dan Sastra Perlawanan

Djoko Saryono *

/1/
Makna istilah rakyat dan bukan rakyat bisa merujuk pada kategori sosial politik dan sosial ekonomi. Ketika ada pejabat mengatakan bahwa rakyat nggak jelas, dia memosisikan diri sebagai penguasa. Di sini istilah rakyat beroposisi biner dengan penguasa, yang bisa kita sebut sebagai kategori sosial politik. Tatkala para politikus dan pejabat pemerintah selalu menyebut kata rakyat di dalam setiap pidato, mereka sedang membuat garis batas makna antara rakyat dan bukan rakyat, yang juga bisa kita sebut sebagai kategori sosial politik.

Namun, ketika seorang konglomerat kakap menyatakan usaha-besarnya untuk memenuhi kebutuhan rakyat, dia sedang memosisikan diri sebagai kapitalis, yang bisa kita katakan sebagai ketegori sosial ekonomi. Demikian juga tatkala kaum berpunya mengidentifikasi diri berbeda dengan orang kebanyakan, dia tengah menarik garis batas makna antara rakyat dan kaum berada. Di sini istilah rakyat beroposisi biner dengan kaum kaya atau borjuis, yang dapat kita sebut sebagai kategori sosial ekonomi.

Sebab itu, boleh dikatakan, rakyat dan bukan rakyat merupakan pembelahan sosial politik dan sosial ekonomi. Ini kemudian digunakan sebagai parameter dan demarkasi kehidupan ekonomi, sosial, dan budaya. Lebih lanjut, hal itu melahirkan istilah gaya hidup rakyat, ekonomi rakyat, dan [ke]budaya[an] rakyat (yang dibayangkan berbeda dengan gaya hidup borjuis, ekonomi kapitalis, dan [ke]budaya[an] borjuis atau tinggi).

Seturut dengan itu, istilah kerakyatan acap dilekatkan pada frasa gaya hidup kerakyatan, ekonomi kerakyatan, politik kerakyatan, kebudayaan kerakyatan, kesenian kerakyatan, dan juga sastra kerakyatan, misalnya. Ini dilawankan secara biner dengan frasa gaya hidup borjuis/kapitalis, ekonomi kapitalis/borjuis, politik elitis, kebudayaan borjuis/kapitalis/tinggi, kesenian borjuis/kapitalis/adiluhung, dan sastra borjuis/elitis/kanon-adiluhung. Demi eksistensi, masing-masing kategori menegaskan identitas dan jati diri secara berbeda-tajam meskipun tak jarang bertindak saling subversif.

Implikasinya, kebudayaan kerakyatan, kesenian kerakyatan, dan atau sastra kerakyatan berusaha mengkonstruksi identitas dan jati diri, bahkan juga kedudukan, peran, dan sikap sosial politik dan sosial ekonomi yang berbeda [secara diametral] dengan kebudayaan borjuis-kapitalis, kesenian borjuis-priyayi-kapitalis, dan atau sastra borjuis-priyayi-kapitalis. Begitu juga sebaliknya: kebudayaan borjuis-priyayi-kapitalis, kesenian borjuis-priyayi-kapitalis, dan atau sastra borjuis-priyayi-kapitalis selalu mengkonstruksi penanda-penanda identitas dan jati diri di samping kedudukan, peran, dan sikap sosial politik dan sosial ekonomi yang amat berbeda demi kemantapan eksistensi.

Dengan akumulasi kekuatan modal sosial politik dan sosial ekonomi yang dimiliki, kebudayaan borjuis-priyayi-kapitalis, kesenian borjuis-priyayi-kapitalis, dan atau sastra borjuis-priyayi-kapitalis acap berusaha menguasai segala lini arena atau habitus kebudayaan, kesenian, dan atau sastra. Merangsek dan merasuk masif ke arena, habitus, atau ruang kebudayaan, kesenian, dan atau sastra kerakyatan. Secara khusus boleh dibilang, kesenian atau sastra borjuis-priyayi-kapitalis membangun kedudukan, peran, dan sikap sebagai penentu dalam kehidupan kesenian atau kesastraan berdasarkan modal sosial politik dan sosial ekonomi yang telah diakumulasi.

Tak heran, kesenian atau kesastraan borjuis-priyayi-kapitalis kerap berambisi menentukan dan menetapkan standar, parameter, dan kriteria kesenian atau kesastraan berlandaskan kepentingan identitas dan jati diri kesenian atau kesastraan borjuis-priyayi-kapitalis. Di sini kita bertemu dengan politik literer, puitika, estetika atau budaya yang standar, parameter, dan aturannya didasarkan pada identitas dan jati diri kesenian atau kesastraan borjuis-priyayi-kapitalis.

Modal sosial politik dan sosial ekonomi menjadikan para pendukung kesenian atau kesastraan borjuis-priyayi-kapitalis sebagai elite kesenian atau kesastraan. Elite kesenian atau kesastraan yang notabene “pemeluk teguh” kesenian atau kesastraan borjuis-priyayi-kapitalis tersebut kerap menjalankan politik dominasi, hegemoni, subordinasi, labelisasi negatif, bahkan eksklusi dan “peliyanan” (othering) terhadap kesenian atau kesastraan yang kurang atau tidak memenuhi standar, parameter, dan atau aturan kesenian atau kesastraan borjuis-priyayi-kapitalis. Misalnya standar, parameter, dan aturan estetika atau puitika, termasuk terhadap kesenian atau sastra kerakyatan.

Kesenian atau kesastraan borjuis-priyayi-kapitalis mengkonstruksi identitas dan jati diri estetis atau puitis. Setidaknya ada delapan identitas dan jati diri estetis atau puitis. Pertama, memandang sesuatu estetis atau puitis secara vertikal [bukan horisontal]. Kedua, menempatkan diri pada kedudukan tinggi dan adiluhung secara estetis atau puitis. Ketiga, menjadikan keberpilin-pilinan dan kenjelimetan [sofistikasi] simbolis dan metaforis sebagai standar dan parameter estetis atau puitis.

Selanjutnya, keempat, menjadikan keanggunan dan keadiluhungan [keeleganan] ekspresi simbolis atau puitis sebagai takaran estetis atau puitis kesenian atau sastra. Kelima, menempatkan kehalusan dan kelembutan sebagai serat keanggunan dan keadiluhungan estetis atau puitis. Keenam, menempatkan ketersembunyian dan kemenduan, bahkan keremangan sebagai tikungan standar estetis atau puitis [bukan ketersuratan lugas, kelangsungan ekspresi, keterang-benderangan diksi dan pikiran, dan kepastian semantis]. Ketujuh, menempatkan kecanggihan ekspresi [beyond the line] gagasan dan pikiran sebagai sumbu estetis atau puitis [bukan ke-literal-an atau kelugasan gagasan dan pikiran]. Kedelapan, menjadikan ke-prigel-an satuan atau anasir seni atau bahasa sebagai palang pintu estetis atau puitis suatu karya seni atau karya sastra.

Dapat dikatakan, kedelapan hal tersebut menjadi “aturan hukum” karya seni atau karya sastra. Karya seni atau karya sastra yang mampu memenuhi delapan aturan hukum tersebut bakal dilegitimasi dan diformalisasi sebagai karya seni atau karya sastra yang bagus atau baik. Karya seni atau karya sastra yang kurang atau tidak sanggup memenuhi delapan aturan hukum tersebut bakal didelegitimasi dan dideformalisasi, bahkan dilabelisasi dan dieksklusi sebagai karya seni atau karya sastra.

Dari situlah bisa timbul empat kategori karya sastra. Pertama, sastra yang dilegitimasi dan disahkan sebagai karya sastra yang unggul [sastra kanon atau adiluhung]. Kedua, sastra yang didelegitimasi dan diremehkan atau direndahkan sebagai karya sastra yang bagus. Ketiga, sastra yang didelegitimasi dan dihina-dinakan sebagai karya sastra yang bagus. Terakhir, sastra yang didelegitimasi dan tidak diakui sebagai karya sastra yang bagus.

Karya sastra kategori pertama niscaya menjadi formal transcript dalam dunia sastra, sedang karya sastra kategori kedua bakal menduduki informal transcript dalam dunia sastra. Demikian juga karya sastra kategori ketiga akan menjadi hidden transcript dalam dunia sastra. Lantas karya sastra kategori keempat bakal menjadi the other transcript dalam dunia sastra. Meminjam bahasa Gayatri Spivak, karya sastra kategori ketiga dan keempat hanya menjadi subaltern dalam dunia sastra di tanah air.

Sehubungan dengan itu, dalam kehidupan kesenian atau kesusastraan di tanah air, kita dapat menyaksikan empat fenomena sebagai berikut. Pertama, lantaran memenuhi delapan aturan hukum kesenian atau sastra di atas, maka puisi-puisi Goenawan Mohamad dan Nirwan Dewanto ditasbihkan sebagai puisi kanon dan bagus sehingga memperoleh Penghargaan Kusala Khatulistiwa (Khatulistiwa Literary Award). Novel Ayu Utami [misalnya Zaman dan Larung], Leila S. Chudori, Laksmi Pamuntjak, dan Eka Kurniawan diabsahkan sebagai sastra bermutu tinggi sehingga memperoleh berbagai penghargaan sastra baik dalam maupun luar negeri. Puisi dan novel pengarang-pengarang tersebut menjadi sastra kanon Indonesia yang menjadi formal transcript sastra Indonesia.

Kedua, karena kurang memenuhi delapan aturan hukum kesenian atau sastra di atas, maka novel-novel Hindia Belanda, peranakan Tionghoa-Indonesia, dan populer Indonesia [karya-karya Marga T, S.G. Mara, V Lestari, dan Sujiwo Tejo] didelegitimasi dan diremehkan sebagai novel. Wajarlah karya tersebut tak pernah [tidak akan pernah?] memperoleh penghargaan dan penyambutan dari sana-sini, kecuali dari para pengkaji dan pembaca setianya. Novel pengarang-pengarang tersebut hanya menempati informal transcript dalam dunia novel Indonesia.

Selanjutnya ketiga, karena sedikit memenuhi delapan aturan hukum kesenian atau sastra kanon, maka cerita-cerita teenlit’s, chicklit’s, based on true strory, dan novel-novel berjuluk “pembangkit motivasi atau keimanan” sejenis Ayat-Ayat Cinta, Ketika Cinta Bertasbih, dan Assalamu’alaikum Beijing cenderung didelegitimasi secara “habis-habisan” sekaligus didinakan sebagai karya sastra. Tak ayal, kurang memperoleh apresiasi pembaca khusus-ahli, apalagi penghargaan dari pemerintah, teoretikus sastra, dan penyelenggara hadiah-hadiah sastra. Malah tidak jarang karya-karya tersebut memperoleh cercaan dan celaan dari kalangan akademik dan elite sastra di samping tidak memperoleh ruang akademik dan ruang sosial yang memadai. Karya-karya tersebut menempati hidden transcript dalam dunia sastra di tanah air.

Keempat, sebab tidak memenuhi delapan aturan hukum kesenian atau sastra di atas, cerita-cerita perjalanan [traveling literature] sejenis Garis Batas, Selimut Debu, dan Menyusuri Lorong-lorong Dunia, novel-novel motivasional, puisi-puisi saiber atau virtual yang menghuni situs dan grup-grup layanan ponsel cerdas [smartphone], dan puisi-puisi yang dihajatkan untuk tujuan tertentu yang jelas secara terus-menerus didelegitimasi dan tidak diakui sebagai karya sastra. Logislah, bukan hanya tak pernah memperoleh apresiasi dan penghargaan, tapi juga secara masif telah mengalami penyingkiran dan peniadaan [eksklusi dan de-eksistensi] sebagai karya sastra. Karya-karya tersebut menempati the other transcript dalam dunia sastra di tanah air.

Dengan akumulasi modal sosial politik dan sosial ekonomi, yang merengkuh pula modal sosial budaya, sastra kategori pertama atau sastra kanon yang menjadi formal transcript tentu saja terus-menerus melaksanakan konsolidasi dalam rangka mengamankan dan melanggengkan eksitensi, identitas, dan jati diri. Itu sebabnya, sastra kategori pertama ini tak melakukan pergerakan, apalagi perlawanan. Namun, justru melakukan pelestarian dan pelanggengan sastra di samping tidak mengklaim atau menjustifikasi diri sebagai sastra pergerakan atau sastra perlawanan.

Begitu juga sastra kategori kedua atau sastra diremehkan yang menjadi informal transcript dalam dunia sastra kurang melakukan perhitungan kritis dan ofensif. Tidak tampak meneguhkan diri sebagai sastra pergerakan atau sastra perlawanan. Sastra diremehkan ini cenderung melakukan adaptasi-adaptasi dan negosiasi-negosiasi, kadang-kadang subversi-subversi dalam rangka mempertahankan dan menyesuaikan eksistensi, identitas, dan jati diri berdasarkan modal sosial ekonomi dan sosial politik yang dimiliki.

Adapun sastra kategori ketiga atau sastra yang dihina-dinakan dan sastra kategori keempat atau sastra yang dibukansastrakan selalu berusaha melakukan pergerakan, perlawanan, bahkan pemberontakan estetis atau puitis demi identitas dan jati diri di samping kepastian ekstensi, kedudukan, dan peran sosial politik dan sosial ekonomi. Sastra didinakan dan sastra dibukansastrakan ini gigih mencoba melakukan gerakan-gerakan perlawanan atau pemberontakan estetis atau puitis dan kultural dalam rangka memperoleh arena atau habitus kehidupan yang mantap agar eksistensi, kedudukan, dan perannya dalam dunia sastra di tanah air diakui.

Sebagian besar agen atau aktor gerakan perlawanan atau pemberontakan estetis atau puitis ini [yang mutatis mutandis sastra kategori ketiga dan keempat di atas] adalah himpunan orang-orang yang berjuluk rakyat kebanyakan, yang kurang atau tidak memiliki modal sosial politik dan sosial ekonomi memadai. Dengan demikian, sastra kerakyatan adalah sastra yang didinakan sebagai sastra dan sastra yang dibukansastrakan dalam rumah dunia sastra. Karena itu, tak kenal lelah melakukan pergerakan, perlawanan, bahkan pemberontakan estetis atau puitis dan kultural. Maksudnya, agar beroleh ruang eksitensi, peneguhan indentitas, dan penguatan jati diri. Karena itu, sastra kerakyatan adalah sastra sastra perlawanan atau sastra pemberontakan.

Gerakan sastra pedalaman, gerakan puisi anti-korupsi, gerakan PMK (Puisi Menolak Korupsi), “gerakan puisi Memo untuk Presiden”, dan gerakan sastra yang dihidupi oleh berbagai komunitas lokal adalah contoh sastra kerakyatan yang telah dan sedang melakukan pergerakan, perlawanan, bahkan pemberontakan estetis (puitis) dan kultural terhadap dominasi, hegemoni, dan subordinasi sastra kanon atau sastra yang dilegitimasi sebagai sastra beserta piranti modal sosial politik dan sosial ekonominya. Demi ringkasnya, ini semua dapat kita sebut gerakan sastra kerakyatan.

Berkebalikan dengan sastra kanon yang borjuis-priyayi-kapitalis, gerakan sastra kerakyatan mengusung konstruksi identitas dan jati diri estetis atau puitis tersendiri. Paling tidak terlihat ada sembilan identitas dan jati diri estetis atau puitis. Pertama, memandang semua ekspresi kesenian atau sastra secara horisontal yang membentuk jejaring sosial sehingga tidak memandang bentuk-bentuk ekspresi estetis atau puitis lain yang berbeda lebih tinggi atau lebih rendah. Kedua, menempatkan diri secara setara sebagai salah satu simpul jejaring sosial sehingga bentuk-bentuk ekspresi estetis atau puitis menjadi rajutan utuh.

Kemudian ketiga, tidak mengejar, mengutamakan, dan atau memuja kekanonan dan keadiluhungan bentuk eskpresi estetis atau puitis. Namun, lebih menekankan keterbacaan, keberartian, dan kebermanfaatan sosial setiap bentuk ekspresi estetis atau puitis. Selanjutnya keempat, tidak menjunjung tinggi dan menomorsatukan kecanggihan dan keketatan simbolis dan atau metaforis yang bisa berupa kenjelimetan dan keberpilin-pilinan bentuk-bentuk ekspresi simbolis dan atau metaforis sebagai standar dan parameter estetis atau puitis. Tetapi, lebih mementingkan kejelasan, ketegasan, dan keteguhan gagasan, pesan, dan alamat ekspresi simbolis dan atau metaforis

Selanjutnya kelima, tak menjunjung dan memuja keanggunan dan keadiluhungan “bungkus” ekspresi simbolis dan atau metaforis sebagai takaran estetis atau puitis, melainkan kelangsungan dan kejujuran ekspresi simbolis dan atau metaforis sebagai penanda estetis atau puitis. Keenam, menempatkan kewajaran dan kecukupan alamiah ekspresi simbolis dan atau metaforis sebagai kunci pokok kelangsungan dan kejujuran ekspresi simbolis dan atau metaforis. Ketujuh, menekankan kelugasan, kelangsungan ekspresi, keterang-benderangan diksi dan pikiran, dan kepastian semantis sebagai takaran estetis atau puitis dari bentuk-bentuk ekspresi simbolis dan atau metaforis.

Lebih jauh, ciri kedelapan, tidak menomorsatukan ke-prigel-an atau kepiawaian keperajinan menata anasir bahasa atau sastra sebagai prasyarat penciptaan bentuk ekspresi simbolis dan atau metaforis. Lebih ditekankan keberanian dan kemauan menata anasir bahasa atau sastra sebagai prasyarat penciptaan estetika atau puitika. Terakhir, kesembilan, menempatkan sublimasi, kontemplasi, dan refleksi lebih sosiologis atau sosiokultural dan sosiopolitis daripada filosofis dan psikologis. Tak heran, diutamakan sublimasi, kontemplasi dan refleksi sosiologis sebagai sumbu estetis atau puitisnya bentuk-bentuk ekspresi simbolis dan atau metaforis.

Kesembilan konstruksi identitas dan jati diri estetika atau puitika sastra kerakyatan tersebut, sudah barang tentu berbeda secara diametral dengan konstruksi identitas dan jatidiri sastra kanon yang borjuis-priyayi-kapitalis. Di sinilah terjadi dialektika, negosiasi, bahkan perbenturan estetika atau puitika.

Seperti gerakan kaum minoritas atau subaltern pada umumnya, gerakan perlawanan atau pemberontakan oleh sastra kerakyatan ini sudah tentu memiliki militansi dan soliditas yang mengagumkan kendati kurang didukung oleh modal sosial politik dan sosial ekonomi, bahkan modal sosial budaya, yang andal dan kuat. Agenda gerakannya jelas dan tegas, aktor gerakannya militan dan solid, dan struktur gerakannya terbuka dan sederhana sehingga memiliki keliatan dan ketangkasan bergerak dan berkelit dari terjangan agen dan struktur dominatif yang ditopang oleh kekuatan modal sosial politik dan sosial ekonomi.

Berhasilkah? Seperti berbagai gerakan perlawanan atau pemberontakan kaum minoritas atau kaum marginal lain pada umumnya, meski tak gampang memenangi perlawanan atau pemberontakan, terbukti gerakan perlawanan atau pemberontakan estetis dan kultural sastra kerakyatan tak pernah mati. Tak heran, gerakan perlawanan atau pemberontakan sastra kerakyatan menjadi bagian penting dinamika politik kesusastraan atau estetika (puitika).

____________________
*) Prof. Dr. Djoko Saryono, M.Pd adalah Guru Besar Jurusan Sastra Indonesia di Fakultas Sastra pada kampus UNM (Universitas Negeri Malang). Telah banyak menghasilkan buku, artikel apresiasi sastra, serta budaya. Dan aktif menjadi pembicara utama di berbagai forum ilmiah kesusatraan tingkat Nasional juga Internasional.
http://sastra-indonesia.com/2020/03/perihal-sastra-kerakyatan-sastra-pergerakan-dan-sastra-perlawanan/

Tidak ada komentar:

Label

`Atiqurrahman A Muttaqin A Rodhi Murtadho A. Iwan Kapit A. Purwantara A. Qorib Hidayatullah A. Zakky Zulhazmi A.H.J Khuzaini A.S. Laksana Aang Fatihul Islam Abdul Azis Sukarno Abdul Aziz Rasjid Abdul Hadi WM Abdul Kadir Ibrahim Abdul Lathief Abdul Malik Abdul Wachid B.S. Abdurrahman El Husaini Abidah El Khalieqy Abu Salman Acep Zamzam Noor Achdiat K. Mihardja Adek Alwi Adi Suhara Adnyana Ole Adreas Anggit W. Afrion Afrizal Malna Aguk Irawan MN Agung Dwi Ertato Agus B. Harianto Agus Buchori Agus Himawan Agus R. Sarjono Agus R. Subagyo Agus Sulton Agusri Junaidi Agustinus Wahyono Ahda Imran Ahmad Badrus Sholihin Ahmad Fanani Mosah Ahmad Fatoni Ahmad Ikhwan Susilo Ahmad Kekal Hamdani Ahmad Muchlish Amrin Ahmad Musabbih Ahmad Rofiq Ahmad Sahidah Ahmad Tohari Ahmad Yulden Erwin Ahmad Zaini Ahmadun Yosi Herfanda Ajip Rosidi Akhiriyati Sundari Akhmad Muhaimin Azzet Akhmad Sekhu Alex R. Nainggolan Alex Suban Alunk Estohank Ami Herman Amien Kamil Amien Wangsitalaja Aminudin R Wangsitalaja Anastasya Andriarti Andreas Maryoto Anes Prabu Sadjarwo Angela Angga Wijaya Angkie Yudistia Anindita S Thayf Anis Ceha Anjrah Lelono Broto Anton Kurnia Anton Kurniawan Anton Wahyudi Anugrah Gio Pratama Anwar Nuris Aprinus Salam Arie MP Tamba Arif B. Prasetyo Arif Bagus Prasetyo Arif Hidayat Arman A.Z. Arti Bumi Intaran Arys Hilman AS Sumbawi Asarpin Asef Umar Fakhruddin Asep Sambodja Asrama Mahasiswa Aceh SABENA Astrikusuma Asvi Warman Adam Atep Kurnia Awalludin GD Mualif Aziz Abdul Gofar Azizah Hefni Badrut Tamam Gaffas Bagja Hidayat Bagus Takwin Balada Bale Aksara Baltasar Koi Bambang Agung Bambang Kempling Bamby Cahyadi Bandung Mawardi Bayu Insani Beni Setia Benny Arnas Benny Benke Berita Berita Duka Berita Utama Bernando J. Sujibto Berthold Damshauser Binhad Nurrohmat Blambangan Brunel University London BSW Adjikoesoemo Budaya Budhi Setyawan Budi Darma Budi Saputra Budi Suwarna Bung Tomo Cak Kandar Catatan Cerpen Chairil Anwar Chavchay Syaifullah Cucuk Espe Cunong N. Suraja D. Zawawi Imron Dadang Ari Murtono Daisuke Miyoshi Damanhuri Damhuri Muhammad Damiri Mahmud Danarto Daniel Dhakidae Dante Alighieri Deddy Arsya Dedy Tri Riyadi Denny Mizhar Deny Tri Aryanti Detti Febrina Dharmadi Diah Hadaning Dian Hartati Dian Sukarno Diana A.V. Sasa Dicky Fadiar Djuhud Didi Arsandi Dimas Dina Oktaviani Dinas Perpustakaan Daerah Lamongan Djadjat Sudradjat Djoko Saryono Doddi Ahmad Fauji Doddy Hidayatullah Donny Anggoro Dony P. Herwanto Dorothea Rosa Herliany Dr. Muhammad Zafar Iqbal Dr. Simuh Dwi Arjanto Dwi Fitria Dwi Pranoto Dwicipta Dwijo Maksum Edy A. Effendi Edy Firmansyah Efri Ritonga Egidius Patnistik Eka Budianta Eka Kurniawan Eko Hendri Saiful Elik Elsya Crownia Emha Ainun Nadjib Endah Sulawesi Endah Wahyuningsih Endang Suryadinata Endhiq Anang P Endri Y Eriyandi Budiman Ernest Hemingway Esai Esha Tegar Putra Eva Dwi Kurniawan Evi Dana Setia Ningrum Evi Idawati Evieta Fadjar F Rahardi Fabiola D. Kurnia Fadelan Fahrudin Nasrulloh Faidil Akbar Faisal Kamandobat Faisal Syahreza Faizal Syahreza Fajar Alayubi Fandy Hutari Fany Chotimah Fatah Yasin Noor Fathor Lt Fathurrahman Karyadi Fatih Kudus Jaelani Fatma Dwi Rachmawati Fauzi Absal Festival Sastra Gresik Fikri. MS Fina Sato Fitri Susila Galih Pandu Adi Gde Agung Lontar Geger Riyanto Gerakan Literasi Gerakan Surah Buku (GSB) Gerson Poyk Ginanjar Rahadian Gita Pratama Goenawan Mohamad Grathia Pitaloka Gunawan Budi Susanto Gunoto Saparie Gus Martin Gus tf Sakai Gusti Eka Hadi Napster Haji Misbach Halim HD Halimi Zuhdy Hamberan Syahbana Hamdy Salad Han Gagas Handoko F. Zainsam Hari Santoso Haris del Hakim Hartono Harimurti Hary B. Kori’un Hasan Gauk Hasan Junus Hasif Amini Hasnan Bachtiar Hasta Indriyana Helwatin Najwa Hepi Andi Bastoni Heri C Santoso Heri KLM Heri Latief Heri Listianto Hermien Y. Kleden Hernadi Tanzil Heru Emka Heru Kurniawan Heru Prasetya Hesti Sartika Hudan Hidayat Humaidiy AS I Made Asdhiana I Made Prabaswara I Nyoman Suaka IBM. Dharma Palguna Ibnu Rusydi Ibnu Wahyudi Ida Ahdiah Idayati Ignas Kleden Ihsan Taufik Ilenk Rembulan Ilham Khoiri Ilham Yusardi Imam Cahyono Imam Jahrudin Priyanto Imam Muhtarom Imam Nawawi Imamuddin SA Iman Budhi Santosa Imron Rosyid Imron Tohari Indah Darmastuti Indiar Manggara Indra Tjahyadi Indra Tranggono Indrian Koto Irma Safitri Irman Syah Iskandar Noe Istiqomatul Hayati Ita Siregar Iwan Kurniawan Iwan Nurdaya-Djafar Iyut FItra Jadid Al Farisy Jafar M. Sidik Jakob Sumardjo Jamal D Rahman Janual Aidi Javed Paul Syatha Jayaning S.A Jefri al Malay Jihan Fauziah JJ. Kusni Jo Pakagula Johan Edy Raharjo Joko Pinurbo Jokowi Undercover Joni Ariadinata Joss Wibisono Jual Buku Paket Hemat Judyane Koz Juli Sastrawan Junaidi Abdul Munif Jusuf AN Juwairiyah Mawardy Kadir Ruslan Kasnadi Katrin Bandel Kedung Darma Romansha Khairul Mufid Jr Khamami Zada Khrisna Pabichara Kikin Kuswandi Koh Young Hun Komunitas Deo Gratias Komunitas Penulis Katolik Deo Gratias Komunitas Sastra Ilalang Indonesia (KSII) Korrie Layun Rampan Kostela (Komunitas Sastra Teater Lamongan) Kristianto Batuadji Kritik Sastra Kunni Masrohanti Kunthi Hastorini Kuntowijoyo Kurie Suditomo Kurnia EF Kurniawan Kuswaidi Syafi'ie Kuswinarto Lan Fang Landung Rusyanto Simatupang Latief S. Nugraha Leila S. Chudori Lembaga Pengembangan Pembelajaran dan Penjaminan Mutu (LP3M) Liestyo Ambarwati Khohar Linda Sarmili Liston P. Siregar Liza Wahyuninto LN Idayanie Lucia Idayani Lukman Asya Lusiana Indriasari Lynglieastrid Isabellita M Hari Atmoko M. Aan Mansyur M. Arman A.Z M. Bagus Pribadi M. Fadjroel Rachman M. Harya Ramdhoni Julizarsyah M. Lubabun Ni’am Asshibbamal S M. Luthfi Aziz M. Nahdiansyah Abdi M. Raudah Jambak M. Shoim Anwar M. Yoesoef M.D. Atmaja Maghfur Saan Mahmud Jauhari Ali Mahwi Air Tawar Majalah Sastra Horison Maklumat Sastra Profetik Malkan Junaidi Maman S. Mahayana Mardi Luhung Marhalim Zaini Maria Serenade Sinurat Mario F. Lawi Marluwi Marsel Robot Martin Aleida Martin Suryajaya Mashuri Matdon Mega Vristian Melani Budianta Melayu Riau Memoar MG. Sungatno Mh Zaelani Tammaka Miftah Fadhli Miftahul Abrori Misbahus Surur Miziansyah J Mochtar Lubis Mohamad Ali Hisyam Mohammad Eri Irawan MT Arifin Mugy Riskiana Halalia Muhajir Arrosyid Muhamad Rifai Muhammad Al-Fayyadl Muhammad Al-Mubassyir Muhammad Qodari Muhammad Rain Muhammad Yasir Muhammad Zuriat Fadil Muhammadun A.S Muhidin M. Dahlan Muhlis Al-Firmany Mujtahid Mulyadi SA Munawir Aziz Murniati Tanjung Murnierida Pram Musa Ismail Musfi Efrizal Mustaan Mustafa Ismail N. Mursidi Nafsul Latifah Naskah Teater Nasrullah Nara Nelson Alwi Nenden Lilis A Nh. Anfalah Ni Made Purnama Sari Nina Mussolini-Hansson Nirwan Ahmad Arsuka Nirwan Dewanto Noura Nova Christina Noval Jubbek Novela Nian Nugroho Notosusanto Nugroho Pandhu Sukmono Nur Faizah Nurdin F. Joes Nurdin Kalim Nurel Javissyarqi Nurul Komariyah Nuryana Asmaudi SA Nyoman Tusthi Eddy Nyoman Wirata Oka Rusmini Oktamandjaya Wiguna Oky Sanjaya Olanama Olivia Kristina Sinaga Otto Sukatno CR Pagelaran Musim Tandur Pamusuk Eneste Patricia Pawestri PDS H.B. Jassin PDS. H.B. Jassin Penghargaan Hadiah Sastra Pusat Bahasa Persda Network Pipiet Senja Pramoedya Ananta Toer Pramono Pranita Dewi Pringadi AS Prita Daneswari Prof. Tamim Pardede sebut Bambang Tri Prosa Pudyo Saptono Puisi Puisi Kesunyian Puisi Sufi Puji Santosa PUstaka puJAngga Putu Fajar Arcana Putu Wijaya Qaris Tajudin R. Sugiarti Rachmad Djoko Pradopo Radhar Panca Dahana Ragdi F. Daye Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Ramadhan Batubara Ramadhan KH Ratih Kumala Ratna Indraswari Ibrahim Ratna Sarumpaet Raudal Tanjung Banua Remy Sylado Reni Susanti Renny Meita Widjajanti Resensi Restu Kurniawan Retno Sulistyowati RF. Dhonna Rian Sindu Ribut Wijoto Ridwan Munawwar Riki Utomi Riris K. Toha-Sarumpaet Risang Anom Pujayanto Riza Multazam Luthfy Robin Al Kautsar Rodli TL Rofiqi Hasan Rohman Abdullah Rosidi Rosihan Anwar Rukardi S Yoga S. Jai S. Sinansari Ecip S.I. Poeradisastra S.W. Teofani Sabam Siagian Sabrank Suparno Saiful Anam Assyaibani Sainul Hermawan Sajak Salamet Wahedi Salman Rusydie Anwar Samsudin Adlawi Sanggar Rumah Ilalang Sanggar Teater Jerit Sapardi Djoko Damono Sartika Dian Sartika Dian Nuraini Sastra Tanah Air Sastra Using Satmoko Budi Santoso Saut Situmorang Sayyid Fahmi Alathas Sazano Sekolah Literasi Gratis (SLG) STKIP Ponorogo Seli Desmiarti Selo Soemardjan Senggrutu Singomenggolo Seno Joko Suyono SH Mintardja Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Sipri Senda Sitok Srengenge Siwi Dwi Saputro Sjifa Amori Sobih Adnan Sofian Dwi Sofie Dewayani Sofyan RH. Zaid Soni Farid Maulana Sri Ruwanti Sri Wintala Achmad St Sularto Stefanus P. Elu Sukron Abdilah Sulaiman Djaya Suminto A. Sayuti Sunaryono Basuki Ks Sungatno Sungging Raga Sunlie Thomas Alexander Sunu Wasono Suryansyah Suryanto Sastroatmodjo Susanto Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Suyadi Suyadi San Syaifuddin Gani Syaiful Amin Syamsiar Hidayah Syarbaini Syifa Amori Syifa Aulia Tajuddin Noor Ganie Taufik Abdullah Taufik Ikram Jamil Taufiq Ismail Taufiq Wr. Hidayat TE. Priyono Teguh Afandi Teguh Ranusastra Asmara Teguh Winarsho AS Tengsoe Tjahjono Theresia Purbandini Tita Tjindarbumi Titik Alva-Alvi Choiriyah Tjahjono Widarmanto Tjahjono Widijanto Tjoet Nyak Dhien Tosa Poetra Tri Lestari Sustiyana Triyanto Triwikromo TS Pinang Tu-ngang Iskandar Tulus S Tulus Wijanarko Udo Z. Karzi Ugoran Prasad Umar Fauzi Ballah Umar Kayam Umbu Landu Paranggi Universitas Indonesia Universitas Jember Utada Kamaru UU Hamidy Vera Ernawati Veronika Ninik W.S. Rendra Wahjudi Djaja Wahyu Hidayat Wawan Eko Yulianto Wawancara Wayan Budiartha Widya Karima Wijaya Herlambang Wiji Thukul Willem B Berybe Wilson Nadeak Winarni R. Wiratmo Soekito Wita Lestari Wiwik Widayaningtias Y. Thendra BP Y. Wibowo Yasser Arafat Yeni Ratnaningsih Yohanes Sehandi Yonatan Raharjo Yonathan Rahardjo Yopi Setia Umbara Yos Rizal S Yos Rizal Suriaji Yudhi Herwibowo Yuka Fainka Putra Yurnaldi Yushifull Ilmy Yusri Fajar Yusuf Suharto Zainal Abidin Zainal Arifin Thoha Zawawi Se Zen Hae