Jumat, 03 April 2020

Belajar Bersastra dari Seorang Umbu

Willem B Berybe
kupang.tribunnews.com

SEBUT nama Umbu, paling tidak bagi masyarakat Flobamora, langsung teringat akan sebuah pulau yang terletak di selatan wilayah Propinsi NTT yaitu Sumba. Mengapa? Etnik Sumba dengan marga (fam) Umbu berasal dari sana. Dari sekian nama Umbu salah satunya adalah Umbu Landu Paranggi, pria kelahiran Sumba 10 Agustus 1943, dan dikenal sebagai penulis puisi Indonesia.

Majalah Sastra Horison edisi Tahun XXXX 1, 2006, No: T3.3 dalam rubrik khusus ‘Kaki Langit’ mengangkat sosok Umbu Landu Paranggi dengan sederetan puisinya yang khas seperti Ni Reneng (Denpasar, Oktober-November 1984), Sajak Kecil (1) & (2), Ibunda Tercinta (1965), Solitude, Melodi, Percakapan Selat, Sabana, Sajak, Di Sebuah Gereja Gunung.

Dari sajak-sajak itu berikut ulasan Korie Layun Rampan perihal seluk beluk kepenyairan Umbu Landu Paranggi semakin memperkuat pengetahuan dan pemahaman kita bahwa ia adalah salah satu sastrawan Indonesia.

“Sebagai penyair, Umbu memang tidak seterkenal Chairil Anwar, Amir Hamzah, Rendra, Subagio Sastra Waroyo, Sapardi Djoko Damono, Sutardji Calzoum Bachri, Darmanto Yt, Abdul Hadi WM, atau Afrizal Malna misalnya. Akan tetapi, perannya sebagai penyair yang turut melahirkan bakat-bakat baru membuatnya tak bisa dilupakan dalam pertumbuhan dan perkembangan sastra Indonesia mutakhir,” demikian ungkapan Korrie seorang sastrawan, kritikus dan peneliti sastra Indonesia (ibid, Horison; Kaki Langit, hal.10).

Di sinilah faktor waktu dan ruang (lingkungan, konteks) ikut membentuk dan menentukan watak individu seorang penulis puisi. Tidak heran si Umbu pun harus keluar dari sarangnya di daratan Sumba dan pergi mencari alam, ruang, dan waktu, untuk terus berpuisi di tempat lain.

Bagi seorang Ajip Rosidi mengaku Jepang memberinya waktu menulis lebih banyak ketimbang Jakarta (Kompas, 31 Mei 2003). Demikian halnya Umbu Landu Paranggi tidak memilih Jakarta untuk dijadikan tempat ia berkarier, justru Bali adalah ‘istana’ kehidupannya sebagai seorang sastrawan. Pulau Dewata ini begitu berperan dalam eksistensi kehidupan bersastra Umbu. Atas dasar itulah kelompok seniman sastra dan akademisi Denpasar pernah memberikan penghargaan kepada beliau atas dedika-sinya di bidang sastra di TBD (Taman Budaya Den-pasar), Bali 9 Juli 2009 lalu.

Apa yang telah dikemuka-kan oleh Korrie menunjukan bahwa kontribusi Umbu dalam percaturan puisi Indonesia tidak bisa disepe-lekan. Bahkan pengakuan Korrie sendiri menyebutkan Umbu sebagai bidan yang turut melahirkan dua angkatan sastra Indonesia modern yaitu Angkatan 80 dan Angkatan 2000 (ibid Horison, hal.13). Ketika kalangan sastrawan nasional menempatkan posisi Umbu sebagai bagian dari sastra Indonesia masa kini, maka dalam sejarah pertumbuhan dan perkembangan sastra NTT pun Umbu Landu Paranggi adalah sebuah legenda. ‘Ketersembunyian,’ diam dalam pengembaraan ibarat voice of the voiceless telah memperlihatkan potensi orang NTT dalam dunia seni sastra.

Boleh jadi banyak kalangan di NTT sendiri merasa asing dan jauh, siapa sebenarnya Umbu Landu Paranggi. Umbu yang menjadi besar dan berkibar sebagai penyair di luar NTT (Yogya dan Denpasar) sama sekali tidak mengecilkan esensi bumi Flobamora. Sebuah kawasan yang telah melahirkan seorang penyair yang dapat disejajarkan dengan Taufiq Ismail, Putu Wijaya, Danarto, Budi Darma, dll. Salah satu bukti keakraban dan relasi Umbu dengan penyair nasional ialah puisi berjudul ‘Beri Daku Sumba’ secara khusus ditulis Taufiq Ismail buat sahabatnya ini.

Cikal bakal kepenyairan Umbu Landu Paranggi bermula dari Malioboro Yogya. Di tahun 60 hingga 70-an kompleks sepanjang Jalan Malioboro Yogya ini bagaikan sebuah panggung imajinasi bagi komunitas Umbu bersama pengikut-pengikutnya dalam sebuah perkumpulan bernama PSK (Persada Studi Klub). Tak peduli siapa dan darimana asal mereka, para peminat sastra itu digembleng, ditempa dan diberi pendidikan khusus menjadi penulis ala Umbu. Dari tangan seorang Umbu munculah penulis-penulis terkenal di kemudian hari seperti Linus Suryadi AG, Emha Ainun Nadib, Agus Darmawan T, Korrie Layun Rampan, Yudhistira ANM Massardi, Frans R Passandaran, dan lain-lain.

“Kami berjalan kaki berpuluh kilometer mengelilingi kota, pada tengah malam, dan kami dilarang bicara, dilarang bertanya. Kami hanya diperbolehkan berjalan dan merasakan kesunyian, merasakan bagaimana gejolak pikiran serta hati di tengah kebisuan. Saat puncak lelah, saat pagi menjelang subuh, barulah kami diperbolehkan bicara. Itu artinya kami harus berdiskusi tentang apa yang kami rasakan. Umbu selalu menekankan keterlibatan penuh dari seluruh panca indra untuk bisa menghasilkan karya yang baik,” ungkap penyair Mustofa W Hasjim yang pernah menjadi ‘murid’ Umbu dalam wadah PSK.

Berjalan di tengah malam dalam metode yang diterapkan Umbu di atas adalah sebuah contoh dan bagian kecil dalam proses bersastra bagaimana ‘pengalaman manusia’ diolah hingga menghasilkan sesuatu yang bernilai indah. Rene Welek dan Austin Warren menyebutnya human experience (Theory of Literature; terjemahan Melani Budianta; Teori Kesustraan; hal. 328). Lebih lanjut Rene Welek dan Austin Warren menulis dengan manis: “... Semula merupakan dunia kini berubah menjadi bahasa” (hal. 322).

“Dusun Flobamora sebuah wadah bersastra yang hadir di Kota Kupang memiliki daya dan spirit membangun penciptaan karya sastra asal Flobamora (NTT) yang patut diapresiasi dan didukung. Figur-figur seperti Amanche Franck Oe Ninu dan Mario F Lawi bersama para koleganya telah memperlihatkan spirit dimaksud. “Kami bukan apa-apa di dunia sastra. Kami memang masih muda, namun bara api semangat dan cinta yang kuat akan tanah ini menjadi motivasi bagi Dusun Flobamora” tulis Amanche Franck Oe Ninu dan Mario F Lawi (Baca: Pos Kupang Minggu, 20 Maret 2011). Inilah ungkapan yang optimistik tentang sastra NTT ke depan.

Korrie Layun Rampan mengelompokkan sastrawan asal NTT masuk dalam deretan penulis-penulis sastra Indonesia Timur seperti Gerson Poyk (Rote), Otto J Gaut, Dami N Toda, John Dami Mukese (Manggarai), Maria Matildis Banda (Ende, Lio) dan Umbu Landu Paranggi (Sumba) dengan karakter sastra bercorak lokal dan khas budaya setempat. Bahkan disebut sebagai sastrawan-sastrawan penganut karya sastra etnik. Sebagai contoh sepenggal sajak Umbu berjudul ‘Sabana’: /sabana sunyi/di sini hidupku/sebuah gitar tua/seorang lelaki berkuda kemudian ia teruskan: sabana tandus/mainkan laguku/harum nafas bunda/seorang gembala berpacu/ (Ibid Horison; rubrik Kaki Langit hal.7).

Kata-kata sabana, tandus, gembala, (ber)kuda adalah warna lokal, dan latar alam serta diselingi simbol kesedehanaan seperti gitar tua terasa begitu kental. Tentu saja perjalanan sastra NTT tidak berhenti dan habis di era Gerson Poyk cs. Tampilnya wadah-wadah seperti Dusun Flobamora dan komunitas penulis sastra lainnya di NTT diharapkan berpotensi untuk meneruskan dan melanjutkan jejak langkah para sastrawan senior NTT.

Rahasia keberhasilan PSK puluhan tahun silam yang ditangani Umbu Landu Paranggi terletak pada kolektivitas yang kuat. Saling berkontak, berdialog. Hubungan dari hati ke hati. Kebersamaan kreatif yang terdidik dan sehat. Sebuah pembelajaran praktis dan berhasil menuju aktivitas bersastra. Selamat (belajar) bersastra! *

___________________8 Mei 2011
*) Guru SMAK Giovani Kupang, Peminat Sastra.

Tidak ada komentar:

Label

`Atiqurrahman A Muttaqin A Rodhi Murtadho A. Iwan Kapit A. Purwantara A. Qorib Hidayatullah A. Zakky Zulhazmi A.H.J Khuzaini A.S. Laksana Aang Fatihul Islam Abdul Azis Sukarno Abdul Aziz Rasjid Abdul Hadi WM Abdul Kadir Ibrahim Abdul Lathief Abdul Malik Abdul Wachid B.S. Abdurrahman El Husaini Abidah El Khalieqy Abu Salman Acep Zamzam Noor Achdiat K. Mihardja Adek Alwi Adi Suhara Adnyana Ole Adreas Anggit W. Afrion Afrizal Malna Aguk Irawan MN Agung Dwi Ertato Agus B. Harianto Agus Buchori Agus Himawan Agus R. Sarjono Agus R. Subagyo Agus Sulton Agusri Junaidi Agustinus Wahyono Ahda Imran Ahmad Badrus Sholihin Ahmad Fanani Mosah Ahmad Fatoni Ahmad Ikhwan Susilo Ahmad Kekal Hamdani Ahmad Muchlish Amrin Ahmad Musabbih Ahmad Rofiq Ahmad Sahidah Ahmad Tohari Ahmad Yulden Erwin Ahmad Zaini Ahmadun Yosi Herfanda Ajip Rosidi Akhiriyati Sundari Akhmad Muhaimin Azzet Akhmad Sekhu Alex R. Nainggolan Alex Suban Alunk Estohank Ami Herman Amien Kamil Amien Wangsitalaja Aminudin R Wangsitalaja Anastasya Andriarti Andreas Maryoto Anes Prabu Sadjarwo Angela Angga Wijaya Angkie Yudistia Anindita S Thayf Anis Ceha Anjrah Lelono Broto Anton Kurnia Anton Kurniawan Anton Wahyudi Anugrah Gio Pratama Anwar Nuris Aprinus Salam Arie MP Tamba Arif B. Prasetyo Arif Bagus Prasetyo Arif Hidayat Arman A.Z. Arti Bumi Intaran Arys Hilman AS Sumbawi Asarpin Asef Umar Fakhruddin Asep Sambodja Asrama Mahasiswa Aceh SABENA Astrikusuma Asvi Warman Adam Atep Kurnia Awalludin GD Mualif Aziz Abdul Gofar Azizah Hefni Badrut Tamam Gaffas Bagja Hidayat Bagus Takwin Balada Bale Aksara Baltasar Koi Bambang Agung Bambang Kempling Bamby Cahyadi Bandung Mawardi Bayu Insani Beni Setia Benny Arnas Benny Benke Berita Berita Duka Berita Utama Bernando J. Sujibto Berthold Damshauser Binhad Nurrohmat Blambangan Brunel University London BSW Adjikoesoemo Budaya Budhi Setyawan Budi Darma Budi Saputra Budi Suwarna Bung Tomo Cak Kandar Catatan Cerpen Chairil Anwar Chavchay Syaifullah Cucuk Espe Cunong N. Suraja D. Zawawi Imron Dadang Ari Murtono Daisuke Miyoshi Damanhuri Damhuri Muhammad Damiri Mahmud Danarto Daniel Dhakidae Dante Alighieri Deddy Arsya Dedy Tri Riyadi Denny Mizhar Deny Tri Aryanti Detti Febrina Dharmadi Diah Hadaning Dian Hartati Dian Sukarno Diana A.V. Sasa Dicky Fadiar Djuhud Didi Arsandi Dimas Dina Oktaviani Dinas Perpustakaan Daerah Lamongan Djadjat Sudradjat Djoko Saryono Doddi Ahmad Fauji Doddy Hidayatullah Donny Anggoro Dony P. Herwanto Dorothea Rosa Herliany Dr. Muhammad Zafar Iqbal Dr. Simuh Dwi Arjanto Dwi Fitria Dwi Pranoto Dwicipta Dwijo Maksum Edy A. Effendi Edy Firmansyah Efri Ritonga Egidius Patnistik Eka Budianta Eka Kurniawan Eko Hendri Saiful Elik Elsya Crownia Emha Ainun Nadjib Endah Sulawesi Endah Wahyuningsih Endang Suryadinata Endhiq Anang P Endri Y Eriyandi Budiman Ernest Hemingway Esai Esha Tegar Putra Eva Dwi Kurniawan Evi Dana Setia Ningrum Evi Idawati Evieta Fadjar F Rahardi Fabiola D. Kurnia Fadelan Fahrudin Nasrulloh Faidil Akbar Faisal Kamandobat Faisal Syahreza Faizal Syahreza Fajar Alayubi Fandy Hutari Fany Chotimah Fatah Yasin Noor Fathor Lt Fathurrahman Karyadi Fatih Kudus Jaelani Fatma Dwi Rachmawati Fauzi Absal Festival Sastra Gresik Fikri. MS Fina Sato Fitri Susila Galih Pandu Adi Gde Agung Lontar Geger Riyanto Gerakan Literasi Gerakan Surah Buku (GSB) Gerson Poyk Ginanjar Rahadian Gita Pratama Goenawan Mohamad Grathia Pitaloka Gunawan Budi Susanto Gunoto Saparie Gus Martin Gus tf Sakai Gusti Eka Hadi Napster Haji Misbach Halim HD Halimi Zuhdy Hamberan Syahbana Hamdy Salad Han Gagas Handoko F. Zainsam Hari Santoso Haris del Hakim Hartono Harimurti Hary B. Kori’un Hasan Gauk Hasan Junus Hasif Amini Hasnan Bachtiar Hasta Indriyana Helwatin Najwa Hepi Andi Bastoni Heri C Santoso Heri KLM Heri Latief Heri Listianto Hermien Y. Kleden Hernadi Tanzil Heru Emka Heru Kurniawan Heru Prasetya Hesti Sartika Hudan Hidayat Humaidiy AS I Made Asdhiana I Made Prabaswara I Nyoman Suaka IBM. Dharma Palguna Ibnu Rusydi Ibnu Wahyudi Ida Ahdiah Idayati Ignas Kleden Ihsan Taufik Ilenk Rembulan Ilham Khoiri Ilham Yusardi Imam Cahyono Imam Jahrudin Priyanto Imam Muhtarom Imam Nawawi Imamuddin SA Iman Budhi Santosa Imron Rosyid Imron Tohari Indah Darmastuti Indiar Manggara Indra Tjahyadi Indra Tranggono Indrian Koto Irma Safitri Irman Syah Iskandar Noe Istiqomatul Hayati Ita Siregar Iwan Kurniawan Iwan Nurdaya-Djafar Iyut FItra Jadid Al Farisy Jafar M. Sidik Jakob Sumardjo Jamal D Rahman Janual Aidi Javed Paul Syatha Jayaning S.A Jefri al Malay Jihan Fauziah JJ. Kusni Jo Pakagula Johan Edy Raharjo Joko Pinurbo Jokowi Undercover Joni Ariadinata Joss Wibisono Jual Buku Paket Hemat Judyane Koz Juli Sastrawan Junaidi Abdul Munif Jusuf AN Juwairiyah Mawardy Kadir Ruslan Kasnadi Katrin Bandel Kedung Darma Romansha Khairul Mufid Jr Khamami Zada Khrisna Pabichara Kikin Kuswandi Koh Young Hun Komunitas Deo Gratias Komunitas Penulis Katolik Deo Gratias Komunitas Sastra Ilalang Indonesia (KSII) Korrie Layun Rampan Kostela (Komunitas Sastra Teater Lamongan) Kristianto Batuadji Kritik Sastra Kunni Masrohanti Kunthi Hastorini Kuntowijoyo Kurie Suditomo Kurnia EF Kurniawan Kuswaidi Syafi'ie Kuswinarto Lan Fang Landung Rusyanto Simatupang Latief S. Nugraha Leila S. Chudori Lembaga Pengembangan Pembelajaran dan Penjaminan Mutu (LP3M) Liestyo Ambarwati Khohar Linda Sarmili Liston P. Siregar Liza Wahyuninto LN Idayanie Lucia Idayani Lukman Asya Lusiana Indriasari Lynglieastrid Isabellita M Hari Atmoko M. Aan Mansyur M. Arman A.Z M. Bagus Pribadi M. Fadjroel Rachman M. Harya Ramdhoni Julizarsyah M. Lubabun Ni’am Asshibbamal S M. Luthfi Aziz M. Nahdiansyah Abdi M. Raudah Jambak M. Shoim Anwar M. Yoesoef M.D. Atmaja Maghfur Saan Mahmud Jauhari Ali Mahwi Air Tawar Majalah Sastra Horison Maklumat Sastra Profetik Malkan Junaidi Maman S. Mahayana Mardi Luhung Marhalim Zaini Maria Serenade Sinurat Mario F. Lawi Marluwi Marsel Robot Martin Aleida Martin Suryajaya Mashuri Matdon Mega Vristian Melani Budianta Melayu Riau Memoar MG. Sungatno Mh Zaelani Tammaka Miftah Fadhli Miftahul Abrori Misbahus Surur Miziansyah J Mochtar Lubis Mohamad Ali Hisyam Mohammad Eri Irawan MT Arifin Mugy Riskiana Halalia Muhajir Arrosyid Muhamad Rifai Muhammad Al-Fayyadl Muhammad Al-Mubassyir Muhammad Qodari Muhammad Rain Muhammad Yasir Muhammad Zuriat Fadil Muhammadun A.S Muhidin M. Dahlan Muhlis Al-Firmany Mujtahid Mulyadi SA Munawir Aziz Murniati Tanjung Murnierida Pram Musa Ismail Musfi Efrizal Mustaan Mustafa Ismail N. Mursidi Nafsul Latifah Naskah Teater Nasrullah Nara Nelson Alwi Nenden Lilis A Nh. Anfalah Ni Made Purnama Sari Nina Mussolini-Hansson Nirwan Ahmad Arsuka Nirwan Dewanto Noura Nova Christina Noval Jubbek Novela Nian Nugroho Notosusanto Nugroho Pandhu Sukmono Nur Faizah Nurdin F. Joes Nurdin Kalim Nurel Javissyarqi Nurul Komariyah Nuryana Asmaudi SA Nyoman Tusthi Eddy Nyoman Wirata Oka Rusmini Oktamandjaya Wiguna Oky Sanjaya Olanama Olivia Kristina Sinaga Otto Sukatno CR Pagelaran Musim Tandur Pamusuk Eneste Patricia Pawestri PDS H.B. Jassin PDS. H.B. Jassin Penghargaan Hadiah Sastra Pusat Bahasa Persda Network Pipiet Senja Pramoedya Ananta Toer Pramono Pranita Dewi Pringadi AS Prita Daneswari Prof. Tamim Pardede sebut Bambang Tri Prosa Pudyo Saptono Puisi Puisi Kesunyian Puisi Sufi Puji Santosa PUstaka puJAngga Putu Fajar Arcana Putu Wijaya Qaris Tajudin R. Sugiarti Rachmad Djoko Pradopo Radhar Panca Dahana Ragdi F. Daye Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Ramadhan Batubara Ramadhan KH Ratih Kumala Ratna Indraswari Ibrahim Ratna Sarumpaet Raudal Tanjung Banua Remy Sylado Reni Susanti Renny Meita Widjajanti Resensi Restu Kurniawan Retno Sulistyowati RF. Dhonna Rian Sindu Ribut Wijoto Ridwan Munawwar Riki Utomi Riris K. Toha-Sarumpaet Risang Anom Pujayanto Riza Multazam Luthfy Robin Al Kautsar Rodli TL Rofiqi Hasan Rohman Abdullah Rosidi Rosihan Anwar Rukardi S Yoga S. Jai S. Sinansari Ecip S.I. Poeradisastra S.W. Teofani Sabam Siagian Sabrank Suparno Saiful Anam Assyaibani Sainul Hermawan Sajak Salamet Wahedi Salman Rusydie Anwar Samsudin Adlawi Sanggar Rumah Ilalang Sanggar Teater Jerit Sapardi Djoko Damono Sartika Dian Sartika Dian Nuraini Sastra Tanah Air Sastra Using Satmoko Budi Santoso Saut Situmorang Sayyid Fahmi Alathas Sazano Sekolah Literasi Gratis (SLG) STKIP Ponorogo Seli Desmiarti Selo Soemardjan Senggrutu Singomenggolo Seno Joko Suyono SH Mintardja Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Sipri Senda Sitok Srengenge Siwi Dwi Saputro Sjifa Amori Sobih Adnan Sofian Dwi Sofie Dewayani Sofyan RH. Zaid Soni Farid Maulana Sri Ruwanti Sri Wintala Achmad St Sularto Stefanus P. Elu Sukron Abdilah Sulaiman Djaya Suminto A. Sayuti Sunaryono Basuki Ks Sungatno Sungging Raga Sunlie Thomas Alexander Sunu Wasono Suryansyah Suryanto Sastroatmodjo Susanto Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Suyadi Suyadi San Syaifuddin Gani Syaiful Amin Syamsiar Hidayah Syarbaini Syifa Amori Syifa Aulia Tajuddin Noor Ganie Taufik Abdullah Taufik Ikram Jamil Taufiq Ismail Taufiq Wr. Hidayat TE. Priyono Teguh Afandi Teguh Ranusastra Asmara Teguh Winarsho AS Tengsoe Tjahjono Theresia Purbandini Tita Tjindarbumi Titik Alva-Alvi Choiriyah Tjahjono Widarmanto Tjahjono Widijanto Tjoet Nyak Dhien Tosa Poetra Tri Lestari Sustiyana Triyanto Triwikromo TS Pinang Tu-ngang Iskandar Tulus S Tulus Wijanarko Udo Z. Karzi Ugoran Prasad Umar Fauzi Ballah Umar Kayam Umbu Landu Paranggi Universitas Indonesia Universitas Jember Utada Kamaru UU Hamidy Vera Ernawati Veronika Ninik W.S. Rendra Wahjudi Djaja Wahyu Hidayat Wawan Eko Yulianto Wawancara Wayan Budiartha Widya Karima Wijaya Herlambang Wiji Thukul Willem B Berybe Wilson Nadeak Winarni R. Wiratmo Soekito Wita Lestari Wiwik Widayaningtias Y. Thendra BP Y. Wibowo Yasser Arafat Yeni Ratnaningsih Yohanes Sehandi Yonatan Raharjo Yonathan Rahardjo Yopi Setia Umbara Yos Rizal S Yos Rizal Suriaji Yudhi Herwibowo Yuka Fainka Putra Yurnaldi Yushifull Ilmy Yusri Fajar Yusuf Suharto Zainal Abidin Zainal Arifin Thoha Zawawi Se Zen Hae