Canto 27
Nyala api lain mendekat, setelah mengenali aksen Lombard pada ucapan
Virgil. Ia menanyakan kabar tentang daerah asalnya dan memohon agar identitas
dan kisah hidupnya tetap dirahasiakan. Ia tidak lain adalah Guido da
Montefeltro, penipu ulung yang bergabung dengan Ordo Fransiskan di usia tua
setelah karier militernya yang dikenal sebagai Kapten Ghibelline. Melanggar
sumpahnya, ia melakukan kecurangan militer untuk mengawal kemenangan Paus
Bonifasius VIII atas keluarga Colonna dan mengucapkan pertobatan yang sia-sia
di akhir hidupnya, karena mempercayai ritual pengampunan yang menipu dari
kepausan tersebut. –Anna Amari Parker-
Sedialah nyala api itu
menjadi tegak dan sunyi,
Untuk tidak berbicara lagi,
dan kini menjauh dari kami
Dengan ijin dari Penyair
yang lembut hati;
Ketika nyala api lain,
datang dari belakang,
Menyebabkan kami mengalihkan
pandangan ke puncak
Disebabkan keributan
terdengar berasal dari sana.
Sebagai banteng dari Sisilia
(yang pertama melenguh
Dengan keluh kesah
tentangnya, dan hal itu benar,
Dia yang dengan
berkas-berkasnya telah mengatur hal itu)
Melenguh sedemikian rupa
dengan suara yang berasal dari penderitaan,
Yang, meskipun itu dilakukan
dengan lancang,
Masih hal tersebut tampak
sebagai penderitaan yang dalam dan terpaku;
Sehingga, bukan karena suatu
hal lain memantiknya
Melainkan sejak semula
berasal dari dirinya sendiri, dalam bahasanya sendiri
Pertobatan terdengar begitu
menyedihkan.
Tetapi setelahnya, ketika
mereka berjalan berkerumun
Sampai pada sebuah palung , dan
membuatnya bergetar
Lidah diberikan kepada
mereka dalam perjalanan keluar dari sana,
Kami mendengarnya berkata: “O
engkau, kepada siapa aku menujukan
Suaraku, dan yang sekarang
bicara dalam aksen Lombard,
Katakanlah, ‘Sekarang
pergilah ke jalanmu, tidak lagi aku akan mendesakmu,’
Karena aku datang barangkali
sedikit terlambat,
Janganlah engkau merasa
terganggu dengan pembicaraanku;
Engkau melihat aku tidak
mengganggu, dan aku membara.
Jika engkau akhirnya ke
dalam dunia gelap ini
Terjatuh dari dataran Latian
yang menyenangkan itu,
Dari mana aku memikul
seluruh pelanggaranku,
Ceritakanlah, apakah
penduduk Romagna dalam damai atau perang,
Karena aku berasal dari
pegunungan di sana antara
Urbino dan kuk-kuk lembu
ketika sungai Tiber meluap.”
Aku masih membungkuk dan
mendengarkan,
Ketika Pemanduku menyentuhku
dari samping,
Ia berkata: “Bicaralah kamu:
penduduk Latian.”
Dan aku, yang sebelumnya
jawabanku
Telah siap sedia, segera
mulai berbicara:
“O jiwa, yang jatuh ke bawah
tipu daya tersembunyi,
Romagna milikmu tidak dan
tidak pernah
Tanpa perang dalam pangkuan
para tiran pemimpinnya;
Tetapi perang terbuka tak
menyisakan apa pun bagiku.
Ravenna berdiri sebagaimana
ia telah lama berdiri
Sang Elang dari Polenta beranak
pinak di sana,
Sehingga Cervia pun diliputi
dengan kekuasaannya.
Kota yang suatu kali
memberontak begitu lama,
Dan dari Perancis mengalir pertumpahan
darah,
Di bawah Cakar Hijau
membangun dirinya kembali;
Mastiff penjaga lama dan
baru dari Verrucchio,
Yang membuat pembagian
kekuasaan atas Montagna begitu tidak adil,
Di mana mereka tidak ingin
membuat perpecahan dengan saudara-saudara mereka.
Kota-kota Lamone dan
Santerno
Memerintah para Lioncel dari
kandang putih
Yang bertukar tempat ketika
pergantian musim panas dan musim dingin;
Di mana Savio memandikan
lembah-lembahnya,
Bahkan sebagaimana letaknya
diantara dataran dan gunung,
Hidup di antara kekuasaan tirani
dan kehendak bebas.
Kini beritahukanlah kami
siapa dirimu sebenarnya;
Jangan bersikeras
menyembunyikan seperti sebelumnya,
Sehingga namamu dapat tetap
disebutkan di dalam dunia.”
Setelah nyala api itu mengerang
perlahan
Dalam bentuknya yang khas,
dan ujung-ujung runcingnya berpindah
Ke sana sini, dan kemudian meniup-niup
seperti itu:
“Jika aku dipercaya bahwa
jawabanku ditujukan
Pada seseorang yang ke dunia
ia pernah kembali,
Api ini akan tetap menyala
meski tanpa kilat lagi;
Tetapi sejauh ini tidak
pernah ada dari kedalaman ini
Kembali seorang pun, jika
apa yang kudengar adalah benar,
Tanpa takut tertimpa hal-hal
buruk aku menjawab,
Aku adalah seorang pria bersenjata, kemudian menjadi
anggota Cordelier,
Mempercayai dan mulai memohon upacara pertobatan,
Dan sesungguhnya hatiku benar-benar percaya.
Tetapi untuk Imam Besar, yang mungkin menjadi sakit
hati,
Yang membuatku kembali berlumur dosa-dosa lamaku;
Dan betapa oleh karenanya aku akan mendengarkanmu.
Sementara aku masih berada dalam tulang dan dagingku
Ibunda mendapatiku, perbuatan yang telah kulakukan
Bukanlah menjadikanku laksana singa, tetapi seekor
serigala.
Berbagai persekongkolan dan cara rahasia
Aku mengetahui semuanya, dan melakukannya begitu
rapi,
Dan akhirnya di bumi suaranya terdengar.
Sekarang ketika sampai pada akhir usiaku
Aku melihat diriku berlabuh, ketika setiap orang
menunjukkan
Layar seharusnya turun, dan tali digulung segera,
Apa yang sebelumnya menyenangkan kemudian terasa
buruk;
Dan membuatku menyesal dan mengakui telah kalah
Ah celakalah aku! Penyesalan satu-satunya yang dapat
kuperbuat;
Pemimpin dari para Farisi baru
Bertempur hingga mendekati Lateran
Bukan terhadap Saracen atau pun Yahudi,
Tetapi setiap musuhnya adalah seorang Kristiani
Namun tidak ada dari mereka semua pernah menaklukkan
Acre,
Atau jalur perdagangan di wilayah kekuasaan Sultan,
Atau gedung tinggi, ataupun perintah-perintah suci,
Dalam pandangannya, atau pun padaku kata sepakat itu,
Yang dipakai untuk merendahkan mereka dengan sesuatu
yang lebih lemah,
Tetapi kemudian Konstantin mencari-cari Imam Silvester
Untuk menyembuhkan kustanya, bersama Soracte,
Sebuah pencarian yang membuatku tampak seperti seorang
cakap
Untuk merawatnya dari demam akan kesombongannya.
Nasihat ia minta padaku, dan aku menjadi terdiam,
Karena kata-katanya menunjukkan kemabukan.
Dan kemudian ia berkata: ‘Janganlah hatimu takut;
Selanjutnya aku membebaskanmu; dan kau bimbinglah
aku
Bagaimana meratakan Palestrina dengan tanah.
Surga memberiku kuasa untuk mengunci dan membuka
kunci,
Sebagaimana engkau telah mengetahui; sebelumnya ada
dua kunci
Yang mana tidak dimiliki oleh pendahuluku sayang.’
Kemudian ia mendesakku dengan pendapatnya yang
memberatkan
Adalah, di mana sikap diamku adalah nasihat
terburuk;
Dan aku berkata: ‘Bapa, sejak kau membasuhku
Dari dosaku itu yang mana di dalamnya kini aku harus
terjatuh lagi,
Janji panjang yang hanya dapat sedikit kupenuhi
Akan membuatmu mulia dalam tahtamu.’
Fransiskan datang setelahnya, ketika itu aku telah
mati,
Untukku; tetapi salah satu dari Kerubim kegelapan
Berkata kepadanya: ‘Jangan membawanya; aku tak
melakukan kesalahan;
Dia harus turun di antara para pelayanku,
Karena dia memberi nasihat yang menipu
Dari saat di mana esok aku berada di atas rambutnya;
Bagi yang bertobat bukan tidak dapat diampuni,
Antara perbuatan dosa dan penyesalan tidak dapat
berjalan sekaligus,
Karena keadaan yang bertentangan tidak diijinkan
terjadi.
O betapa menyedihkan aku! Betapa aku merasa ngeri
Ketika dia menyergapku, ia berkata: ‘Barangkali
Kau tidak berpikir bahwa aku adalah seorang ahli pikir!’
Dia membuatku muak hingga Minos, yang membelitkan
Delapan kali ekornya mengelilingi punggungnya yang
keras,
Dan setelah ia menggigitnya dalam kegusaran yang
hebat,
Berkata: ‘Demi para pencuri yang membakar biang
keladi ini;’
Akibatnya, di sini di mana kau lihat, aku memburai,
Dan tertahan hingga aku meratapi diriku.”
Ketika purna apa yang ia hendak tunjukkan,
Nyala api itu menjauh sembari tetap berkeluh kesah,
Menggeliat dan mengebaskan ujung tanduknya yang
tajam.
Selanjutnya kami berjalan, aku berdua dengan
Pemanduku,
Naik ke atas karang di atas lengkungan kubah yang
lain,
Yang dipenuhi parit, di mana dibayarkan upah
Mereka yang menabur perselisihan, dan memenangkan
penderitaannya.
***
Teks asli diambil dari Dante’s Divine Comedy Inferno
terjemahan Bahasa Inggris Henry Wadsworth Longfellow dengan kata pengantar oleh
Anna Amari-Parker yang diterbitkan Arctaurus Publishing Limited London tahun
2011:
CANTO XXVII
Another flame
draws near, having recognized Virgil’s Lombard accent. It asks for tidings of
its native region and pleads that is identity and life story remain undisclosed
but it is none other than Guido da Montefeltro. This well-known deceiver joined
the Fransiscan order in old age after a high-profile military career as a
Ghibelline captain. Breaking his vows, he adopted military fraud to guide Pope
Boniface VIII to victory against the Colonna family and uttered a fraudulent
repentance on his deathbed, trusting in the pontificate’s fake absolution.
Already was the flame erect and quiet,
To speak no more, and now departed from us
With the permission of the gentle Poet;
When yet another, which behind it came,
Caused us to turn our eyes upon its top
By a confused sound that issued from it.
As the Sicilian bull (that bellowed first
With the lament of him, and that was right,
Who with his file had modulated it)
Bellowed so with the voice of the afflicted,
That, notwithstanding it was made of brass,
Still it appeared with agony transfixed;
Thus, by not having any way or issue
At first from out the fire, to its own language
Converted were the melancholy words.
But afterwards, when they had gathered way
Up through the point, giving it that vibration
The tongue had given them in their passage out,
We heard it said: “O thou, at whom I aim
My voice, and who but now wast speaking Lombard,
Saying, ‘Now go thy way, no more I urge thee,’
Because I come perchance a little late,
To stay and speak with me let it not irk thee;
Thou seest it irks not me, and I am burning.
If thou but lately into this blind world
Hast fallen down from that sweet Latian land,
Wherefrom I bring the whole of my transgression,
Say, if the Romagnuols have peace or war,
For I was from the mountains there between
Urbino and the yoke whence Tiber bursts.”
I still was downward bent and listening,
When my Conductor touched me on the side,
Saying: “Speak thou: this one a Latian is.”
And I, who had beforehand my reply
In readiness, forthwith began to speak:
“O soul, that down below there art concealed,
Romagna thine is not and never has been
Without war in the bosom of its tyrants;
But open war I none have left there now.
Ravenna stands as it long years has stood;
The Eagle of Polenta there is brooding,
So that she covers Cervia with her vans.
The city which once made the long resistance,
And of the French a sanguinary heap,
Beneath the Green Paws finds itself again;
Verrucchio’s ancient Mastiff and the new,
Who made such bad disposal of Montagna,
Where they are wont make wimbles of their teeth.
The cities of Lamone and Santerno
Governs the Lioncel of the white lair,
Who changes sides ’twixt summer-time and winter;
And that of which the Savio bathes the flank,
Even as it lies between the plain and mountain,
Lives between tyranny and a free state.
Now I entreat thee tell us who thou art;
Be not more stubborn than the rest have been,
So may thy name hold front there in the world.”
After the fire a little more had roared
In its own fashion, the sharp point it moved
This way and that, and then gave forth such breath:
“If I believed that my reply were made
To one who to the world would e’er return,
This flame without more flickering would stand
still;
But inasmuch as never from this depth
Did any one return, if I hear true,
Without the fear of infamy I answer,
I was a man of arms, then Cordelier,
Believing thus begirt to make amends;
And truly my belief had been fulfilled
But for the High Priest, whom may ill betide,
Who put me back into my former sins;
And how and wherefore I will have thee hear.
While I was still the form of bone and pulp
My mother gave to me, the deeds I did
Were not those of a lion, but a fox.
The machinations and the covert ways
I knew them all, and practised so their craft,
That to the ends of earth the sound went forth.
When now unto that portion of mine age
I saw myself arrived, when each one ought
To lower the sails, and coil away the ropes,
That which before had pleased me then displeased me;
And penitent and confessing I surrendered,
Ah woe is me! and it would have bestead me;
The Leader of the modern Pharisees
Having a war near unto Lateran,
And not with Saracens nor with the Jews,
For each one of his enemies was Christian,
And none of them had been to conquer Acre,
Nor merchandising in the Sultan’s land,
Nor the high office, nor the sacred orders,
In him regarded, nor in me that cord
Which used to make those girt with it more meagre;
But even as Constantine sought out Sylvester
To cure his leprosy, within Soracte,
So this one sought me out as an adept
To cure him of the fever of his pride.
Counsel he asked of me, and I was silent,
Because his words appeared inebriate.
And then he said: ‘Be not thy heart afraid;
Henceforth I thee absolve; and thou instruct me
How to raze Palestrina to the ground.
Heaven have I power to lock and to unlock,
As thou dost know; therefore the keys are two,
The which my predecessor held not dear.’
Then urged me on his weighty arguments
There, where my silence was the worst advice;
And said I: ‘Father, since thou washest me
Of that sin into which I now must fall,
The promise long with the fulfilment short
Will make thee triumph in thy lofty seat.’
Francis came afterward, when I was dead,
For me; but one of the black Cherubim
Said to him: ‘Take him not; do me no wrong;
He must come down among my servitors,
Because he gave the fraudulent advice
From which time forth I have been at his hair;
For who repents not cannot be absolved,
Nor can one both repent and will at once,
Because of the contradiction which consents not.
O miserable me! how I did shudder
When he seized on me, saying: ‘Peradventure
Thou didst not think that I was a logician!’
He bore me unto Minos, who entwined
Eight times his tail about his stubborn back,
And after he had bitten it in great rage,
Said: ‘Of the thievish fire a culprit this;’
Wherefore, here where thou seest, am I lost,
And vested thus in going I bemoan me.”
When it had thus completed its recital,
The flame departed uttering lamentations,
Writhing and flapping its sharp-pointed horn.
Onward we passed, both I and my Conductor,
Up o’er the crag above another arch,
Which the moat covers, where is paid the fee
By those who, sowing discord, win their burden
***
Dante Alighieri adalah Bapak bahasa Italia dan salah
seorang penyair terbesar yang berasal dari Abad pertengahan.
Karyanya, Inferno, adalah bagian pertama dalam puisi
epik Divine Comedy yang ditulis pada tahun 1300 Masehi (Wikipedia). Dalam
Inferno, khususnya Canto XXVII atau Bab 27, pengakuan dan penolakan dosa
diceritakan dengan merujuk kesengsaraan tokoh-tokoh yang dianggap mempunyai
dosa besar dalam perselisihan yang terjadi di Italia.
Secara lebih detail, ‘banteng Sisilia’ menunjuk
kepada Guido de Montefeltro yang menjadi tokoh nyala api yang berbicara pada
bab ke-27 ini. Aksen Lombard yang dipakai oleh Virgil sang Pemandu adalah aksen
dari sebuah suku Jermanik. Romagna adalah sebuah provinsi di Italia dengan
ibukota Ravenna. Urbino adalah sebuah kota di Italia Tengah yang terkenal
dengan artefak keagamaan yang berasal dari abad ke-13, abad di mana Dante
menulis Divine Comedy. Daerah tersebut berdekatan dengan Sungai Tiber, yang
melewati kota Roma. Sang Elang dari Polenta, kemungkinan adalah Lamberto I de
Polenta adalah penguasa Ravenna yang mempunyai hubungan kekerabatan dengan
Bernardino sebagai penguasa Cervia.
Cakar Hijau merujuk pada bendera kebangsawanan
Ordelaffi, di mana Dante berpihak kepadanya melalui faksi kepausan Guelf, yang
berseberangan dengan Ghibelline. Dan Verucchio adalah sebuah perkampungan di
atas bukit wilayah Emilia-Romagna, Italia. Istilah Mastiff merujuk pada
keluarga bangsawan tinggi yang tinggal di perkampungan tersebut, yang terkenal
ganas dalam penyingkiran penguasa Montagna.
Acre adalah sebuah dataran pantai di Israel,
terkenal sebagai daerah perebutan kekuasaan pada Perang Salib (1104-1291) yang
akhirnya dikuasai oleh Mamluk Sultan al-Ashraf Khalil.
Nyala api, atau disebut ‘flame’ oleh Dante
sebenarnya merupakan api penyucian, yang dalam tradisi teologi Katolik adalah sebuah
peralihan dari kematian jasmani kepada kehidupan surga. Dengan melaluinya
manusia dimurnikan sehingga mencapai kekudusan yang disyaratkan untuk memasuki
surga. Purgatorium atau Purgatorio, yang menjadi judul kedua dalam rangkaian
Divine Comedy merujuk kepada tempat di mana api penyucian berada. Karenanya
dalam terjemahan ini ‘flame’ diartikan sebagai nyala api penyucian tersebut.
Namun kemudian disebut sebagai nyala api saja karena ‘flame’ dalam bab ini
lebih merujuk pada sifat individu yang berdosa, benda yang disucikan dan bukan
api yang bersifat ilahiah dan menyucikan.
Daftar Pustaka:
Wikipedia tentang Dante Alighieri, Inferno, Banteng
Sisilia, Guido de Montefeltro, Lombard, Romagna, Ravenna, Urbino, Tiber, House
of Ordelaffi, Guelphs dan Ghibellines, Verucchio, Acre, Montagna, Divina Comedia,
Purgatorio.
books.google.id: The Complete Danteworlds: A
Reader’s Guide to the Divine Comedy halaman 102.
Divine Comedy – Inferno Dante Alighieri dalam
terjemahan Bahasa Inggris oleh Henry Wadsworth Longfellow tahun 2008 http://creativecommons.org/licenses/by-nc/3.0/us/ .
Dante Divine Comedy Inferno terbitan Arctaurus
Publishing Limited, London, tahun 2011.
__________________
*) Patricia Pawestri, tinggal di Yogyakarta. Merupakan
anggota Akademi Menulis, Lingkar Studi Sosialis dan Lavender Study Club.
Menyukai membaca, menulis dan berdiskusi. Buku antologi tunggalnya adalah
Metafora Goodnick Griffin. Karyanya berupa puisi dan cerpen tersebar di
ideide.id, janang.id, Kalaliterasi, sainspuisi, Nalar Politik, Atmazona dan
IndoPROGRESS.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar