Sabtu, 21 April 2012

Ode buat Babi Hutan

Indra Tranggono
Suara Merdeka, 12 Feb 2012

SEEKOR babi hutan membeku dalam padat tembikar. Matanya merah, menatap nanar. Menatapmu. Menatap siapa saja yang melintas dalam manik matanya. Taring-taringnya putih agak abu-abu, kusam dengan noktah-noktah darah. Tubuhnya agak tambun, lebat ditumbuhi bulu-bulu kasar. Pada tubuh yang mirip punggung bukit kecil itu, menganga lubang 3X ? sentimeter, tempat kamu memasukkan uang keras atau koin uang.

Uangmu kini tertimbun di perut babi hutan itu. Mungkin babi hutan itu merasa mual dan mau muntah. Namun kamu tak peduli. Terus menjejali perutnya dengan lipatan-lipatan uang-uang kertas atau koin-koin uang.
Sesungguhnya, kamu sendiri agak takut memandang celenganmu itu. Wajah celeng itu terlalu seram. Mungkin, pembuatnya sengaja berniat menakuti kamu dengan mengusik naluri kanak-kanakmu. Siapa tahu, pikir si pembuat celengan itu, dengan cara itu hidupmu tidak terasa hampa, datar dan kaku. Atau, mungkin juga dia punya tujuan lain. Misalnya, sengaja membuat celengan babi hutan itu tampil sangar dan berwibawa, hingga kamu merasa berharga setiap memasukkan uang demi uang. Juga, kamu tidak gampang goyah untuk mengambil uang tabunganmu dengan cara mencukilnya dengan peniti atau bahkan memecahkannya. Ah, cara itu mungkin dulu pernah kamu lakukan ketika masih bocah. Kau curi uang tabungan adikmu atau kakakmu hanya karena kamu tergoda untuk menyesap es lilin yang menari-nari dalam benakmu.

Senyummu selalu mengembang setiap mengenang kenakalanmu; kenakalan yang kamu tebus dengan menjalani hukuman dari ayah atau ibumu. Mengosek WC, menyapu halaman rumah atau merelakan jatah uang sakumu lenyap. Waktu itu, mungkin kamu menganggam hukuman itu terlalu keras buatmu. Kamu pun menangis berjam-jam, hingga lelah dan tertidur. Namun, kini kamu merasakan hukuman itu sangat penting dan indah. Setidaknya, membuat kamu tak pernah berpikir atau bercita-cita menjadi pencuri….

***
KAMARMU kini menjelma jadi kandang celengan. Ratusan patung babi hutan memenuhi ruangan itu. Ada yang ukurannya kecil, seperti kepala bayi. Ada yang sedang, seukuran monitor komputer dan seukuran galon. Ada pula yang besar, seukuran tong minyak tanah. Kamu pun mewarnai celengan-celengan itu: putih, hijau, ungu, biru, abu-abu, merah, jingga, hitam, kuning. Dengan warna-warni mencolok itu, kamu bisa merasakan pesta cahaya di kamarmu.

Kamu pun sering mengelompokkan celengan-celengan itu berdasarkan warna. Rombongan celengan jingga berhadapan dengan rombongan celengan abu-abu. Kawanan celengan hitam berhadapan dengan kawanan celengan merah. Atau kawanan celengan biru dikepung kawanan celengan kuning, hijau, biru muda dan putih. Dalam posisi merunduk, mereka siap saling menyeruduk.

Di bagian ruangan lain, kamu menyusun barisan celengan-celengan kecil dengan aneka warna. Seolah anak-anak celengan itu sedang berbaris di cakrawala, sambil menyaksikan celengan-celengan senior siap saling seruduk dan serang.

Pemandangan itu menjelma kesenangan kecil bagimu. Hati kanak-kanakmu tergelitik. Tawamu pun membahana, hingga mengagetkan ratusan celengan itu.

Celengan-celengan itu telah menjadi sahabatmu. Kamu hafal betul nama-nama mereka. Kamu pun menyapanya dengan Karmil, Gopal, Sronggot, Dumin, Timplung, Momblet, Dargombes, Srengat, Jiweng, dan nama-nama lainnya.

Kamu sendiri merasa heran, bisa menghapal ratusan nama itu. Padahal, kamu tidak pernah mencatatnya dalam notes. Kamu juga ingat kapan celengan-celengan itu kamu beli. Ingat pula peristiwa yang menyertainya. Misalnya, si Karmil itu kamu beli saat isterimu hamil. Atau si Gopal kamu beli saat kamu naik jabatan dari staf menjadi direktur perusahaan percetakan. Kamu pun selalu memperingati ulang tahun celengan-celengan itu berdasarkan tanggal pembelian.

Anehnya, kamu justru sering lupa dengan nama-nama saudara-saudaramu atau kawan-kawan karibmu. Lupa pula hari ulang tahun mereka.

Bahkan kamu sering pula lupa hari ulang tahun isterimu.

“Celengan-celengan itu semakin membuat rumah kita sumpek dan gerah,” ucap isterimu suatu ketika dengan wajah murung.

“O ya? Tapi, tak apa-apa, Diajeng. Mereka telah menghibur kita….”

“Menghibur?”

“Diajeng, kamu hanya belum terbiasa saja. Pasti lama-lama kamu juga suka.”

“Mas kita telah memelihara mereka belasan tahun. Saya bosan dan capai.”

“Terus? Apa celengan-celengan itu kita pecah sekarang?”

“Itu ide yang bagus. Sekalian kita bisa menggunakan uangnya.”

“Diajeng, aku tidak akan memecah celengan-celengan itu. Biarkan uang itu mengendap di sana. Nanti kita ambil setelah anak-anak kita besar. Aku ingin membuktikan kepada merea bahwa aku adalah penambung yang tekun..”

“Kenapa uang itu tidak ditabung di bank?”

Engkau hanya tersenyum.

***
SEJAK peristiwa itu, kamu semakin tidak terlalu sering berbicara dengan isterimu, kecuali untuk soal uang belanja, bayar listik, bayar sekolah anak, uang arisan kantor atau kabar duka tentang saudara dan handai tolan yang meninggal. Kamu makin asyik dan suntuk dengan celengan-celengan itu. Kamu semakin bergairah menambah koleksi. Kamu bergairah membeli celengan-celengan baru.

Satu kamar belakang telah lepas, penuh sesak ribuan celengan. Disusul kamar tengah. Disusul kamar samping. Disusul kamar depan. Isteri dan anak-anakmu protes.

“Apa hidup kita akan digusur celengan-celengan itu?” ujar isterimu.

“Sabar, Diajeng. Minggu depan pavilion kita jadi. Kita pindah ke sana. Biarkan rumah ini dihuni celengan-celengan itu.”

“Tapi aku dan anak-anak sudah tidak tahan.”

“Sabar. Itu hanya karena kalian belum terbiasa.”

“Belum terbiasa?!” mata isterimu membelalak.

“Maksudku belum terlalu terbiasa. Jadi masih butuh pengalaman.”

“Sampai kapan?”

“Jangan cengeng, Diajeng.”

***
RIBUAN babi hutan bergerak, menembus rerimbunan dedaunan, menggasak berbagai tanaman. Ketela, jagung, ubi jalar terangkat dari akarnya. Tumbang. Porak-poranda. Ribuan celeng itu terus merangsek, menggasak apa saja. Menembus lapisan-lapisan pagar yang mengepung rumah-rumah penduduk. Mereka mengamuk. Menggasak dan menyeruduk. Pintu-pintu rumah jebol. Daun-daun jendela tanggal. Kaca-kaca pecah.

Kawanan babi hutan itu memasuki kamar-kamar. Memorak-porandakan seluruh isi rumah. Kasur-kasur, bantal-bantal dicabik-cabik. Lemari-lemari roboh, seluruh isinya terburai. Kompor gas, panci, gelas, piring, sendok, garpu terpelanting ke udara dan jatuh berserakan. Tembok hancur. Lantai merekah. Rumah-rumah roboh.

Orang-orang lintang pukang berlarian. Jeritan membahana.

Orang-orang mengambil senjata apa saja. Pentungan. Lonjoran besi. Parang. Kelewang. Golok. Belati. Rantai. Gir. Bongkahan batu. Pisau dapur, atau apa saja. Banyak pula yang mengokang senapan. Dengan keberanian yang terpompa, mereka perang terbuka terhadap ribuan babi hutan. Senjata-senjata tajam berkelebatan. Menebas-nebas. Darah muncrat. Ratusan kepala babi hutan terlepas dari tubuhnya.

Senapan-senapan menyalak. Ratusan timah panas muntah, melesat ke udara. Bersesing-desing. Tubuh-tubuh babi hutan tumbang. Bersimbah darah. Namun hanya sebagian. Sebagian besar lainnya tetap meradang dan menyerang. Ratusan orang luka-luka. Banyak yang terkapar dengan darah mengucur dari dada dan perut mereka.

Senapan-senapan semakin bergairah menyalak. Menumpahkan ribuan peluru. Gerombolan babi hutan itu meninggalkan pemukiman. Berlarian.

Istrimu terbangun. Menjerit-jerit. Memeluk tubuhmu.

“Tenang, Diajeng. Tenang. Tak kan terjadi apa-apa.”

Isterimu semakin erat memelukmu. Tangisnya makin keras.

“Lihat. Lihat. Rumah kita masih utuh. Tak ada yang hilang. Tak ada yang rusak atau pecah.”

Isterimu masih menangis. Tubuhnya gemetar. Peluhnya membasahi tubuhnya.

“Babi-babi hutan itu memang sering mengamuk. Tapi tidak untuk saat ini. Polisi dan tentara sudah dikerahkan untuk membasmi mereka. Bukankah kamu sering mendengar suara letusan senapan?”

Isterimu terdiam. Tapi, wajahnya tetap saja menyiratkan rasa cemas.

“Tidurlah, Diajeng. Ada baiknya berdoa, agar tenang.”

Engkau pun kembali tidur. Terlelap. Tak ada seekor babi hutan pun singgah dalam mimpimu.

Mendadak engkau terbangun. Engkau pun langsung bangkit dan berlari menuju sumber suara keributan.
Matamu terbelalak. Mulutmu terkunci. Engkau tak mampu berbuat melihat isterimu mengamuk. Ia mengayunkan-ayunkan lonjoran besi. Celengan-celengandalam kamarmu hancur. Tubuh tembikar mereka berserakan. Uang kertas dan koin logam terburai di lantai. Engkau mencoba menahan amukan isterimu. Tapi gagal. Ia terus menghantam celengan-celengan itu, tanpa ampun. Engkau menangis, mendengar celengan-celengan babi hutan itu menjerit dengan suara “nguik-nguik”. Engkau pun terperanjat, melihat darah mengucur dari tubuh celengan-celengan celaka itu. Usus dan jantung mereka terburai. Tubuhmu lemas. Engkau pun tumbang.

Engkau terbangun, matamu disergap selang-selang infus dan warna putih yang mengepung ruang.

“Tenang, Mas. Mas hanya kecapekan. Dokter bilang, besok mas sudah boleh pulang.” Isterimu tersenyum.
“O ya, soal celengan itu tak usah dirisaukan. Rumah kita jauh lebih nyaman tanpa mereka. Dan, tidurku jauh lebih nyaman sejak mereka lenyap dari hidup kita. Mas dengan suaraku. Mas… Mas… Mas…. Dokter! Dokter! Tolong! Dooookkkkkteerrrrrrr!!!!”

Engkau tak mendengar jeritan suara isterimu. Engkau tertidur lelap. Ribuan celengan itu menghampirimu. Mengendus-endus tangan dan wajahmu. (*)

Yogyakarta, 2011
Dijumput dari: http://lakonhidup.wordpress.com/2012/02/14/ode-buat-babi-hutan/

Tidak ada komentar:

Label

`Atiqurrahman A Muttaqin A Rodhi Murtadho A. Iwan Kapit A. Purwantara A. Qorib Hidayatullah A. Zakky Zulhazmi A.H.J Khuzaini A.S. Laksana Aang Fatihul Islam Abdul Azis Sukarno Abdul Aziz Rasjid Abdul Hadi WM Abdul Kadir Ibrahim Abdul Lathief Abdul Malik Abdul Wachid B.S. Abdurrahman El Husaini Abidah El Khalieqy Abu Salman Acep Zamzam Noor Achdiat K. Mihardja Adek Alwi Adi Suhara Adnyana Ole Adreas Anggit W. Afrion Afrizal Malna Aguk Irawan MN Agung Dwi Ertato Agus B. Harianto Agus Buchori Agus Himawan Agus R. Sarjono Agus R. Subagyo Agus Sulton Agusri Junaidi Agustinus Wahyono Ahda Imran Ahmad Badrus Sholihin Ahmad Fanani Mosah Ahmad Fatoni Ahmad Ikhwan Susilo Ahmad Kekal Hamdani Ahmad Muchlish Amrin Ahmad Musabbih Ahmad Rofiq Ahmad Sahidah Ahmad Tohari Ahmad Yulden Erwin Ahmad Zaini Ahmadun Yosi Herfanda Ajip Rosidi Akhiriyati Sundari Akhmad Muhaimin Azzet Akhmad Sekhu Alex R. Nainggolan Alex Suban Alunk Estohank Ami Herman Amien Kamil Amien Wangsitalaja Aminudin R Wangsitalaja Anastasya Andriarti Andreas Maryoto Anes Prabu Sadjarwo Angela Angga Wijaya Angkie Yudistia Anindita S Thayf Anis Ceha Anjrah Lelono Broto Anton Kurnia Anton Kurniawan Anton Wahyudi Anugrah Gio Pratama Anwar Nuris Aprinus Salam Arie MP Tamba Arif B. Prasetyo Arif Bagus Prasetyo Arif Hidayat Arman A.Z. Arti Bumi Intaran Arys Hilman AS Sumbawi Asarpin Asef Umar Fakhruddin Asep Sambodja Asrama Mahasiswa Aceh SABENA Astrikusuma Asvi Warman Adam Atep Kurnia Awalludin GD Mualif Aziz Abdul Gofar Azizah Hefni Badrut Tamam Gaffas Bagja Hidayat Bagus Takwin Balada Bale Aksara Baltasar Koi Bambang Agung Bambang Kempling Bamby Cahyadi Bandung Mawardi Bayu Insani Beni Setia Benny Arnas Benny Benke Berita Berita Duka Berita Utama Bernando J. Sujibto Berthold Damshauser Binhad Nurrohmat Blambangan Brunel University London BSW Adjikoesoemo Budaya Budhi Setyawan Budi Darma Budi Saputra Budi Suwarna Bung Tomo Cak Kandar Catatan Cerpen Chairil Anwar Chavchay Syaifullah Cucuk Espe Cunong N. Suraja D. Zawawi Imron Dadang Ari Murtono Daisuke Miyoshi Damanhuri Damhuri Muhammad Damiri Mahmud Danarto Daniel Dhakidae Dante Alighieri Deddy Arsya Dedy Tri Riyadi Denny Mizhar Deny Tri Aryanti Detti Febrina Dharmadi Diah Hadaning Dian Hartati Dian Sukarno Diana A.V. Sasa Dicky Fadiar Djuhud Didi Arsandi Dimas Dina Oktaviani Dinas Perpustakaan Daerah Lamongan Djadjat Sudradjat Djoko Saryono Doddi Ahmad Fauji Doddy Hidayatullah Donny Anggoro Dony P. Herwanto Dorothea Rosa Herliany Dr. Muhammad Zafar Iqbal Dr. Simuh Dwi Arjanto Dwi Fitria Dwi Pranoto Dwicipta Dwijo Maksum Edy A. Effendi Edy Firmansyah Efri Ritonga Egidius Patnistik Eka Budianta Eka Kurniawan Eko Hendri Saiful Elik Elsya Crownia Emha Ainun Nadjib Endah Sulawesi Endah Wahyuningsih Endang Suryadinata Endhiq Anang P Endri Y Eriyandi Budiman Ernest Hemingway Esai Esha Tegar Putra Eva Dwi Kurniawan Evi Dana Setia Ningrum Evi Idawati Evieta Fadjar F Rahardi Fabiola D. Kurnia Fadelan Fahrudin Nasrulloh Faidil Akbar Faisal Kamandobat Faisal Syahreza Faizal Syahreza Fajar Alayubi Fandy Hutari Fany Chotimah Fatah Yasin Noor Fathor Lt Fathurrahman Karyadi Fatih Kudus Jaelani Fatma Dwi Rachmawati Fauzi Absal Festival Sastra Gresik Fikri. MS Fina Sato Fitri Susila Galih Pandu Adi Gde Agung Lontar Geger Riyanto Gerakan Literasi Gerakan Surah Buku (GSB) Gerson Poyk Ginanjar Rahadian Gita Pratama Goenawan Mohamad Grathia Pitaloka Gunawan Budi Susanto Gunoto Saparie Gus Martin Gus tf Sakai Gusti Eka Hadi Napster Haji Misbach Halim HD Halimi Zuhdy Hamberan Syahbana Hamdy Salad Han Gagas Handoko F. Zainsam Hari Santoso Haris del Hakim Hartono Harimurti Hary B. Kori’un Hasan Gauk Hasan Junus Hasif Amini Hasnan Bachtiar Hasta Indriyana Helwatin Najwa Hepi Andi Bastoni Heri C Santoso Heri KLM Heri Latief Heri Listianto Hermien Y. Kleden Hernadi Tanzil Heru Emka Heru Kurniawan Heru Prasetya Hesti Sartika Hudan Hidayat Humaidiy AS I Made Asdhiana I Made Prabaswara I Nyoman Suaka IBM. Dharma Palguna Ibnu Rusydi Ibnu Wahyudi Ida Ahdiah Idayati Ignas Kleden Ihsan Taufik Ilenk Rembulan Ilham Khoiri Ilham Yusardi Imam Cahyono Imam Jahrudin Priyanto Imam Muhtarom Imam Nawawi Imamuddin SA Iman Budhi Santosa Imron Rosyid Imron Tohari Indah Darmastuti Indiar Manggara Indra Tjahyadi Indra Tranggono Indrian Koto Irma Safitri Irman Syah Iskandar Noe Istiqomatul Hayati Ita Siregar Iwan Kurniawan Iwan Nurdaya-Djafar Iyut FItra Jadid Al Farisy Jafar M. Sidik Jakob Sumardjo Jamal D Rahman Janual Aidi Javed Paul Syatha Jayaning S.A Jefri al Malay Jihan Fauziah JJ. Kusni Jo Pakagula Johan Edy Raharjo Joko Pinurbo Jokowi Undercover Joni Ariadinata Joss Wibisono Jual Buku Paket Hemat Judyane Koz Juli Sastrawan Junaidi Abdul Munif Jusuf AN Juwairiyah Mawardy Kadir Ruslan Kasnadi Katrin Bandel Kedung Darma Romansha Khairul Mufid Jr Khamami Zada Khrisna Pabichara Kikin Kuswandi Koh Young Hun Komunitas Deo Gratias Komunitas Penulis Katolik Deo Gratias Komunitas Sastra Ilalang Indonesia (KSII) Korrie Layun Rampan Kostela (Komunitas Sastra Teater Lamongan) Kristianto Batuadji Kritik Sastra Kunni Masrohanti Kunthi Hastorini Kuntowijoyo Kurie Suditomo Kurnia EF Kurniawan Kuswaidi Syafi'ie Kuswinarto Lan Fang Landung Rusyanto Simatupang Latief S. Nugraha Leila S. Chudori Lembaga Pengembangan Pembelajaran dan Penjaminan Mutu (LP3M) Liestyo Ambarwati Khohar Linda Sarmili Liston P. Siregar Liza Wahyuninto LN Idayanie Lucia Idayani Lukman Asya Lusiana Indriasari Lynglieastrid Isabellita M Hari Atmoko M. Aan Mansyur M. Arman A.Z M. Bagus Pribadi M. Fadjroel Rachman M. Harya Ramdhoni Julizarsyah M. Lubabun Ni’am Asshibbamal S M. Luthfi Aziz M. Nahdiansyah Abdi M. Raudah Jambak M. Shoim Anwar M. Yoesoef M.D. Atmaja Maghfur Saan Mahmud Jauhari Ali Mahwi Air Tawar Majalah Sastra Horison Maklumat Sastra Profetik Malkan Junaidi Maman S. Mahayana Mardi Luhung Marhalim Zaini Maria Serenade Sinurat Mario F. Lawi Marluwi Marsel Robot Martin Aleida Martin Suryajaya Mashuri Matdon Mega Vristian Melani Budianta Melayu Riau Memoar MG. Sungatno Mh Zaelani Tammaka Miftah Fadhli Miftahul Abrori Misbahus Surur Miziansyah J Mochtar Lubis Mohamad Ali Hisyam Mohammad Eri Irawan MT Arifin Mugy Riskiana Halalia Muhajir Arrosyid Muhamad Rifai Muhammad Al-Fayyadl Muhammad Al-Mubassyir Muhammad Qodari Muhammad Rain Muhammad Yasir Muhammad Zuriat Fadil Muhammadun A.S Muhidin M. Dahlan Muhlis Al-Firmany Mujtahid Mulyadi SA Munawir Aziz Murniati Tanjung Murnierida Pram Musa Ismail Musfi Efrizal Mustaan Mustafa Ismail N. Mursidi Nafsul Latifah Naskah Teater Nasrullah Nara Nelson Alwi Nenden Lilis A Nh. Anfalah Ni Made Purnama Sari Nina Mussolini-Hansson Nirwan Ahmad Arsuka Nirwan Dewanto Noura Nova Christina Noval Jubbek Novela Nian Nugroho Notosusanto Nugroho Pandhu Sukmono Nur Faizah Nurdin F. Joes Nurdin Kalim Nurel Javissyarqi Nurul Komariyah Nuryana Asmaudi SA Nyoman Tusthi Eddy Nyoman Wirata Oka Rusmini Oktamandjaya Wiguna Oky Sanjaya Olanama Olivia Kristina Sinaga Otto Sukatno CR Pagelaran Musim Tandur Pamusuk Eneste Patricia Pawestri PDS H.B. Jassin PDS. H.B. Jassin Penghargaan Hadiah Sastra Pusat Bahasa Persda Network Pipiet Senja Pramoedya Ananta Toer Pramono Pranita Dewi Pringadi AS Prita Daneswari Prof. Tamim Pardede sebut Bambang Tri Prosa Pudyo Saptono Puisi Puisi Kesunyian Puisi Sufi Puji Santosa PUstaka puJAngga Putu Fajar Arcana Putu Wijaya Qaris Tajudin R. Sugiarti Rachmad Djoko Pradopo Radhar Panca Dahana Ragdi F. Daye Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Ramadhan Batubara Ramadhan KH Ratih Kumala Ratna Indraswari Ibrahim Ratna Sarumpaet Raudal Tanjung Banua Remy Sylado Reni Susanti Renny Meita Widjajanti Resensi Restu Kurniawan Retno Sulistyowati RF. Dhonna Rian Sindu Ribut Wijoto Ridwan Munawwar Riki Utomi Riris K. Toha-Sarumpaet Risang Anom Pujayanto Riza Multazam Luthfy Robin Al Kautsar Rodli TL Rofiqi Hasan Rohman Abdullah Rosidi Rosihan Anwar Rukardi S Yoga S. Jai S. Sinansari Ecip S.I. Poeradisastra S.W. Teofani Sabam Siagian Sabrank Suparno Saiful Anam Assyaibani Sainul Hermawan Sajak Salamet Wahedi Salman Rusydie Anwar Samsudin Adlawi Sanggar Rumah Ilalang Sanggar Teater Jerit Sapardi Djoko Damono Sartika Dian Sartika Dian Nuraini Sastra Tanah Air Sastra Using Satmoko Budi Santoso Saut Situmorang Sayyid Fahmi Alathas Sazano Sekolah Literasi Gratis (SLG) STKIP Ponorogo Seli Desmiarti Selo Soemardjan Senggrutu Singomenggolo Seno Joko Suyono SH Mintardja Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Sipri Senda Sitok Srengenge Siwi Dwi Saputro Sjifa Amori Sobih Adnan Sofian Dwi Sofie Dewayani Sofyan RH. Zaid Soni Farid Maulana Sri Ruwanti Sri Wintala Achmad St Sularto Stefanus P. Elu Sukron Abdilah Sulaiman Djaya Suminto A. Sayuti Sunaryono Basuki Ks Sungatno Sungging Raga Sunlie Thomas Alexander Sunu Wasono Suryansyah Suryanto Sastroatmodjo Susanto Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Suyadi Suyadi San Syaifuddin Gani Syaiful Amin Syamsiar Hidayah Syarbaini Syifa Amori Syifa Aulia Tajuddin Noor Ganie Taufik Abdullah Taufik Ikram Jamil Taufiq Ismail Taufiq Wr. Hidayat TE. Priyono Teguh Afandi Teguh Ranusastra Asmara Teguh Winarsho AS Tengsoe Tjahjono Theresia Purbandini Tita Tjindarbumi Titik Alva-Alvi Choiriyah Tjahjono Widarmanto Tjahjono Widijanto Tjoet Nyak Dhien Tosa Poetra Tri Lestari Sustiyana Triyanto Triwikromo TS Pinang Tu-ngang Iskandar Tulus S Tulus Wijanarko Udo Z. Karzi Ugoran Prasad Umar Fauzi Ballah Umar Kayam Umbu Landu Paranggi Universitas Indonesia Universitas Jember Utada Kamaru UU Hamidy Vera Ernawati Veronika Ninik W.S. Rendra Wahjudi Djaja Wahyu Hidayat Wawan Eko Yulianto Wawancara Wayan Budiartha Widya Karima Wijaya Herlambang Wiji Thukul Willem B Berybe Wilson Nadeak Winarni R. Wiratmo Soekito Wita Lestari Wiwik Widayaningtias Y. Thendra BP Y. Wibowo Yasser Arafat Yeni Ratnaningsih Yohanes Sehandi Yonatan Raharjo Yonathan Rahardjo Yopi Setia Umbara Yos Rizal S Yos Rizal Suriaji Yudhi Herwibowo Yuka Fainka Putra Yurnaldi Yushifull Ilmy Yusri Fajar Yusuf Suharto Zainal Abidin Zainal Arifin Thoha Zawawi Se Zen Hae